Ketidakpastian Ekonomi Global Diprediksi Mulai Mereda pada 2019

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati pada acara CEO Networking di The Rich Carlton Pacific Place, Jakarta, Senin (03/12/2018). FOTO: KEMENKEU.GO.ID

JAKARTA-SUREPLUS: Ketidakpastian ekonomi global diprediksi akan mulai mereda pada tahun 2019. Namun pertumbuhan ekonomi akan mengalami pelambatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Maka kebijakan Pemerintah menghadapi ketidakpastian ekonomi global tersebut adalah memperkuat industri dalam negeri dan menarik investasi. Sehingga permintaan domestik tetap terjaga. Salah satu upaya Pemerintah mendukung hal tersebut adalah melalui kebijakan insentif pajak.

Pemaparan tersebut disampaikan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati pada acara CEO Networking di The Rich Carlton Pacific Place, Jakarta, Senin (03/12/2018), seperti dikutip dari situs kemenkeu.go.id.

“Pemerintah memberikan tax policy untuk memberikan insentif. Itulah yang kita harapkan untuk menjaga domestic demand. Di sisi lain, APBN tetap kredibel, mandiri dan sustainable,” kata Menkeu.

Acara yang dikemas dalam bentuk talkshow tersebut juga menghadirkan narasumber lain, yaitu Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (DK OJK) Wimboh Santoso di depan para CEO industri jasa keuangan dan stakeholders terkait.

Menkeu juga mengingatkan, kebijakan insentif pajak tersebut akan selalu direview dengan prinsip tata kelola yang baik dan kehati-hatian. Jangan sampai pengusaha memanfaatkan insentif pajak namun tidak menggunakan keuntungannya bagi investasi kembali di dalam negeri yang akan menyerap tenaga kerja dan mengurangi pengangguran.

“Kami menggunakan instrumen fiskal untuk meningkatkan daya tarik investasi. Jadi, tax holiday atau tax insentive tujuannya untuk mengurangi beban sehingga mereka mampu medapat rate of return untuk jangka menengah dan panjang. Kami akan terus melakukan identifikasi sektor apa yang mendapatkan benefit apa dari kita. Itu diinvestasikan lagi sehingga bisa meng-create job,” papar Menkeu.

Lebih lanjut dikatakan Sri Mulyani, ini adalah bentuk keberpihakan Pemerintah untuk memperkuat industri dalam negeri dan menarik investasi agar mengurangi Current Account Deficit (CAD).

Kecenderungan yang muncul selama ini, tidak mengoptimalkan keunggulan yang dimiliki tetapi justru mencari jalan mudah dengan mengekspor bahan mentah dengan harga murah dan mengimpor bahan jadi dengan harga mahal. Hal ini menjadikan ketergantungan Indonesia terhadap impor tinggi dan mengakibatkan terjadinya defisit transaksi berjalan (current account deficit).

“Kita tahu masalahnya, tapi kita tidak pernah mau mengeksekusi penyelesaiannya. Kuncinya, kita tahu dari dahulu industrialisasi dan hilirisasi. Kalau kita dari dulu perkuat industri dalam negeri, kita tidak perlu impor. Kalau belum bisa efisien, cari partner untuk bangun industri hilir di Indonesia,” kata Menkeu. (PRS/AZT)

Editor: Aziz Tri P