Menperin: Pacu Pengembangan Inkubator Startup Era Digital

Menperin Airlangga Hartarto saat melakukan meet up dengan pelaku industri kreatif di BCIC (Bali Creative Industry Center), Denpasar. Sabtu (01/12/2018). FOTO: @KEMENPERIN_RI

JAKARTA-SUREPLUS: Industri kreatif dinilai mampu memberikan kontribusi signfikan bagi ekonomi nasional. Maka untuk menyiapkan generasi milenial Indonesia menghadapi era industri 4.0, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memfasilitasi melalui beberapa inkubator startup untuk menumbuhkan para pelaku industri kreatif.

“Kita harus terus mengembangkan pusat startup digital kreatif,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto, seperti dikutip sureplus.id, Senin (03/12/2018) dari situs kemenperin.go.id.

Hingga kini, Kemenperin sudah membangun gedung inkubasi bagi para pelaku usaha rintisan (startup) di beberapa wilayah di Indonesia. Di antaranya, Bandung Techno Park, Bali Creative Industry Center (BCIC), Incubator Business Center di Semarang, Makassar Technopark, dan Pusat Desain Ponsel di Batam.

“Lokasi-lokasi ini bisa menjadi inspirasi sekaligus aspirasi untuk menumbuhkan wirausaha industri baru,” lanjut Airlangga.

Di Bandung Techno Park dan BCIC, misalnya, Kemenperin punya beberapa program kekinian, antara lain pelatihan bagi calon pemimpin perusahaan yang menggunakan basis industri 4.0 seperti analisis big data dan internet of things. Juga menyediakan ruang inkubasi karya yang telah dihasilkan.

“Di BCIC sudah ada beberapa alumni yang menjadi pelaku industri kreatif andal di bidangnya, seperti Studio 70. Selain itu, difasilitasi juga untuk menciptakan produk kreatif yang mengangkat kearifan lokal, seperti membuat gamelan,” katanya.

Masuknya era revolusi industri 4.0 memang menjadi momen penting bagi Indonesia dalam memacu kompetensi sumber daya manusia (SDM). Maka diperlukan upaya pengembangan transformasi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.

“Industri 4.0 mendorong pemerintah melakukan empowering human talents. Jadi, terpacu untuk fokus memperkuat generasi muda kita dengan teknologi dan inovasi,” kata Menperin Airlangga ketika menjadi pembicara pada acara Creative Industries Movement di Denpasar, Sabtu (01/12/2018) lalu.

Menperin menilai, generasi milenial berperan penting dalam menerapkan industri 4.0. Apalagi, Indonesia akan menikmati masa bonus demografi hingga tahun 2030. Artinya, sebanyak 130 juta jiwa yang berusia produktif dapat mengambil kesempatan baru untuk mengembangkan bisnis di era digital.

“Dari pengalaman negara lain, seperti China, Jepang, Singapura dan Thailand, ketika mengalami bonus demografi, pertumbuhan ekonominya tinggi. Maka itu, Indonesia perlu mengambil momentum masa keemasan tersebut dengan terus membangun semangat optimisme,” paparnya.

Peluang bagi 17 Juta Tenaga Kerja

Di BCIC sudah ada beberapa alumni yang jadi pelaku industri kreatif. Mereka menciptakan produk kreatif yang mengangkat kearifan lokal, seperti membuat gamelan. FOTO: @KEMENPERIN_RI

Di hadapan 600 peserta yang terdiri dari para pelajar, mahasiswa dan pelaku industri kreatif, Menperin pun menekankan, pemanfaatan teknologi digital menjadi kunci peningkatan produktivitas tenaga kerja.

“Kami mengajak pegiat industri kreatif untuk memanfaatkan betul fasilitas di BCIC. Silakan manfaatkan pelatihan, co-working space ataupun inkubator bisnis, tanpa perlu membayar sama sekali,” lanjut Airlangga.

Menperin menambahkan, pihaknya juga mendorong kepada pihak swasta untuk membangun inkubasi startup era digital. Contohnya di Nongsa Batam, kemudian di BSD Serpong juga ada Apple Academy yang menjadi pusat startup dan inovasi pengembangan teknologi digital. Bahkan, pendiri Ali Baba Group akan membangun Jack Ma Institute of Entrepreneur di Indonesia.

Airlangga mengungkapkan, potensi ekonomi digital akan meningkatkan nilai tambah terhadap PDB nasional sebesar 150 miliar dollar AS pada tahun 2025. “Ini akan menjadi peluang bagi 17 juta tenaga kerja yang tidak buta terhadap teknoogi digital. Dan, inilah yang kami dorong agar ekonomi digital terus berkembang, sehingga bisa ditangkap oleh pelaku industri kecil dan menengah (IKM) kita,” katanya.

Apalagi, pemerintah menargetkan terciptanya 1.000 technopreneur pada tahun 2020, dengan valuasi bisnis mencapai 100 miliar dollar AS dan total nilai e-commerce sebesar 130 miliar dollar AS.

“Saat ini, Indonesia sudah punya empat unicorn, dan mereka semuanya tumbuh bukan bagian dari ‘konglomerasi’ sehingga membentuk wirausaha baru yang kuat,” katanya. (PRS/AZT)

Editor: Aziz Tri P