Dedikasikan Diri Demi Anak-Anak Eks Lokalisasi dengan Taman Baca

Kartono, sosok dibalik berdirinya taman baca daerah eks-lokalisasi Jarak Dolly yang telah mengabdikan diri demi pembangunan karakter dan pendidikan anak-anak daerah tersebut. FOTO: SUREPLUS/WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Sejak ditutupnya lokalisasi Jarak Dolly, banyak sekali sosok inspiratif yang bermunculan. Namun, penutupan pun telah lahir pribadi dengan hati yang mau mengayomi anak-anak demi masa depan mereka yang masih panjang. Kartono namanya,  pria berusia 55 tahun ini awalnya merupakan seorang mucikari pada tahun 2000 akibat pergaulan bebas. Hidup berkeluarga di tempat lokalisasi dan menjadi seorang mucikari telah dirasakan bapak lima anak orang ini hingga 6 tahun lamanya.

Empat tahun setelahnya, Kartono menyaksikan anggota dari PSK ( Pekerja Seks Komersial) meninggal akibat penyakit HIV (Human Immunodeficiency). “Melihat kondisi itu saya kasihan, dan saya tertarik untuk mengikuti LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), yang menangani pendampingan terhadap para PSK yang sedang sakit HIV. Saya menjadi seorang relawan hingga dua tahun,” ujarnya saat ditemui reporter Sureplus.id, Jumat (30/11).

Tidak hanya itu, Kartono juga mengikuti sebuah program  PUSHAM (Pusat Study HAM) UNAIR dan mendapatkan berbagai ilmu baru mengenai perlindungan anak, KDRT, dan HAM. Setelah mendapatkan bekal pemahaman, pria kelahiran Banyuwangi ini menengok apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya. “Dari pengalaman yang saya dapat, dan melihat kejadian di tahun 2004 silam. Saya menyadari apa yang saya lakukan salah di mata agama, dan kemanusiaan,” ungkapnya.

Untuk memperbaiki kondisi tersebut, awalnya, Kartono membuat semacam paguyuban, atau perkumpulan para PSK. Hal ini bertujuan sebagai wadah untuk mereka sharing, juga pemberian pengarahan. Namun ternyata itu dinilai tidak efektif. Memang sulit rasanya untuk membentuk suatu kesadaran ke PSK hingga menumbuhkan perubahan. Kartono menilik sudut lain, yaitu para anak mereka yang semakin tak terkendali.
Lingkungan yang seharusnya tak diperoleh, pemandangan yang kacau. Disitulah Kartono membangun perlindungan untuk mereka melalui taman baca. Dalam melakukan proses perubahan, Kartono tak sendiri, dibantu para relawan, juga sebuah LSM pun turut andil. Hingga ia dapat merubah salah satu rumah di kawasan tersebut menjadi sebuah Taman Baca Kawan Kami (TBKK). Kartono yakin bahwa tempat ini akan menjadi tempat yang memiliki solusi untuk menghadapi masa pertumbuhan anak-anak.

“Mbak-mbak PSK setelah mendatangi paguyuban, pulang sudah banyak yang mabok-mabokan, dan besoknya sudah malas datang kembali. Karena di rasa hal itu tidak penting,” kata pria asal Banyuwangi tersebut.

Di dalam TBKK, anak-anak diperbolehkan membaca buku apapun yang ia suka. TBKK mendapatkan buku tak hanya dari suatu organisasi saja, namun membuka lebar siapa yang ingin menyumbangkan buku-buku tersebut. Kartono juga berujar bahwa semua yang ia lakukan ini adalah proses menuju perbaikan. Dan ia mengaku mengenal suatu ‘perbaikan’ itu lewat proses membaca.
Menurutnya, membaca itu alat yang sangat mujarab untuk melakukan perubahan kepada manusia, termasuk karakternya. Dengan membaca pula segala wacana terbuka.Ia mengaku pertama kali menerapkan kebiasaan membaca pada dirinya sendiri. “Dulu saya main perempuan, mabok mbak, judi, dan sebagainya. Setelah saya banyak membaca. Saya tinggalkan itu.” tukasnya.[DEWID/DM]
Editor: Dony Maulana