Tingkatkan Perekonomian dengan Mengoptimalkan Potensi Kelautan RI

Seminar bertema Potensi Kelautan untuk Peningkatan Ekonomi Masyarakat digelar di Auditorium Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel, Surabaya, Selasa (27/11/2018). FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Kondisi perekonomian Indonesia saat ini harus memaksimalkan segala sektor. Termasuk salah satunya pengembangan di sektor perikanan dan kelautan. Hal itu dibahas dalam seminar bertema Potensi Kelautan untuk Peningkatan Ekonomi Masyarakat Indonesia, Selasa (27/11/2018).

Shahriansyah Candraditya selaku Marketing Officer Growpal dan Arifsyah M Nasution, perwakilan dari Greenpeace Indonesia dihadirkan dalam seminar yang digelar di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel, Surabaya dan membahas antara meningkatkan perekonomian negara di bidang perikanan dan menjaga kelestarian laut Indonesia.

“Saat ini, sebenarnya masalah yang kita hadapi adalah pencemaran plastik. Bayangkan, ikan di laut mengonsumsi plastik yang dibuang ke laut. Akhirnya bahaya juga kalau jadi bahan pangan manusia,” kata Arifsyah.

Ia mengungkapkan, saat ini industri pabrik seringkali menggunakan bahan plastik, bahkan dalam industri perikanan, tak jarang juga banyak yang mengangkut sampah plastik berisi bangkai ikan pada kapal untuk dibuang ke tengah laut.

Lebih lanjut dikatakan Arifsyah, sebanyak 80 persen sampah plastik berasal dari darat dan 20 persen dari kegiatan pelayaran. Hal tersebut ia akui baru disadari oleh pihak Greenpeace dalam kurun waktu dua dekade terakhir ini.

Namun Candra mengungkapkan, saat ini pemerintah tengah menanggulangi penangkapan ikan dengan kapal besar. Hal ini selain mengurangi pencemaran, dapat juga memberikan peluang bagi para nelayan kapal kecil untuk menghidupkan ekonomi.

Selain itu, sektor perikanan merupakan lahan investasi, yang dapat menghubungkan antara investor dan pemilik modal, serta pembeli dengan platform digital Growpal.

Mengingat dollar AS yang telah mencapai angka Rp15 ribu, maka sektor perikanan merupakan ujung tombak penanggulangan krisis keuangan yang vital. Arifsyah juga mengakui bahwa sumber kekayaan laut Indonesia tidak akan pernah ada habisnya.

“Misalkan kita ambil ikan dalam jumlah besar, kekayaan laut Indonesia tidak akan pernah habis. Terumbu karang pun pasti akan tumbuh lagi,” ungkap Arifsyah.

Ungkapannya tersebut dibenarkan oleh Candra. Ia berdalih sembuhnya ekonomi merupakan hal yang tidak bisa dilakukan dengan instan. Selain itu, sektor perikanan akan selalu memaksimalkan potensi kelautan Indonesia sekaligus memberdayakan manusia, termasuk nelayan dari daerah Indonesia Timur.

“Maka untuk itulah kita bersinergi, tidak hanya dengan investor dan petani ikan, melainkan juga Greenpeace dan tentunya pemerintah agar ekonomi dapat meningkat perlahan,” tutup Arifsyah. (DEWID WIRATAMA/AZT)

Editor: Aziz Tri P