Lampaui Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Tiga Sektor Manufaktur Jadi Pilihan Making Indonesia 4.0

Tiga sektor manufaktur mampu melampaui pertumbuhan ekonomi nasional di triwulan III-2018. Salah satunya, industri tekstil dan pakaian. Tampak ilustrasi perdagangan tekstil di Surabaya. FOTO: SUREPLUS/DOK.

JAKARTA-SUREPLUS: Tiga sektor manufaktur mampu melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,17 persen di triwulan III-2018. Ketiganya yaitu, industri tekstil dan pakaian yang tumbuh mencapai 10,17 persen, industri makanan dan minuman di level 8,10 persen dan industri alat angkutan yang tembus 5,37 persen.

“Tiga sektor tersebut juga menjadi pilihan di dalam Making Indonesia 4.0 sebagai pionir dalam penerapan industri 4.0 di Indonesia. Selain industri kimia dan industri elektronika,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Ngakan Timur Antara, Minggu (25/11/2018) di Jakarta.

Seperti dikutip dari situs kemenperin.go.id, Ngakan menyatakan, pemerintah telah meluncurkan peta jalan Making Indonesia 4.0 sebagai strategi dan arah yang jelas dalam kesiapan memasuki dan menerapkan industri 4.0 di Tanah Air.

Kemenperin juga mencatat, investasi di sektor industri manufaktur selama empat tahun belakangan ini tumbuh signifikan. Pada tahun 2014 sebesar Rp 195,74 triliun, naik mencapai Rp 274,09 triliun di 2017. Sementara, semester I tahun 2018, investasi manufaktur menembus Rp 121,56 triliun dengan total jumlah tenaga kerja saat ini sebanyak 17,92 juta orang.

Selanjutnya, pada periode tahun 2014-2017, telah tejadi penambahan populasi industri besar dan sedang, dari tahun 2014 sebanyak 25.094 unit usaha menjadi 30.992 unit usaha sehingga tumbuh 5.898 unit usaha.

Sedangkan, di sektor industri kecil juga mengalami penambahan, dari tahun 2014 sebanyak 3,52 juta unit usaha menjadi 4,49 juta unit usaha di 2017. Artinya, tumbuh hingga 970 ribu industri kecil selama empat tahun belakangan ini.

Berdaya Saing Tinggi

Pemerintah tetap fokus memacu industrialisasi di dalam negeri, karena membawa dampak ganda yang positif bagi perekonomian nasional. Efeknya antara lain, peningkatan pada nilai tambah bahan baku dan penyerapan tenaga kerja lokal, serta mendongkrak penerimaan devisa dari ekspor, pajak dan cukai.

“Maka pemerintah bertekad menciptakan iklim investasi yang kondusif, terutama untuk sektor industri. Langkah strategis yang sudah dilakukan, antara lain melalui paket-paket kebijakan ekonomi, insentif dan kemudahan izin usaha,” lanjut Ngakan.

Ia menegaskan, upaya tersebut diyakini dapat mengakselerasi pertumbuhan dan pemerataan ekonomi nasional yang inklusif dan berkualitas. Hal ini membuat pemerintah berkomitmen melakukan transformasi ekonomi, yang menggeser ekonomi berbasis konsumsi menjadi berbasis manufaktur.

“Sehingga ekonomi kita lebih produktif dan memberikan multiplier effect yang lebih luas,” tandasnya.

Maka itu, Kemenperin konsisten menjalankan program hilirisasi industri, dengan upaya pengembangan industri pengolahan non-migas yang menitikberatkan pada pendekatan rantai pasok agar lebih berdaya saing di tingkat domestik, regional, dan global.

“Pengembangan industri manufaktur nonmigas diprioritaskan pada sektor yang berbasis sumber daya alam dan menyerap lapangan kerja yang banyak,” imbuh Ngakan. Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), pada triwulan III tahun 2018, industri pengolahan masih memberikan kontribusi terbesar dalam struktur produk domestik bruto (PDB) nasional dengan porsi mencapai 19,66 persen.

Menurut laporan United Nations Industrial Development Organization (UNIDO), Indonesia menempati peringkat ke-9 dunia sebagai negara penghasil nilai tambah terbesar dari sektor industri.

Selain itu, dilihat dari persentase kontribusi industri, Indonesia juga masuk dalam jajaran 4 besar dunia. “Apabila dinilai dari indeks daya saing global, yang saat ini diperkenalkan metode baru dengan indikator penerapan revolusi industri 4.0, peringkat Indonesia naik dari posisi 47 pada tahun 2017 menjadi level ke-45 di 2018,” paparnya. (PRS/AZT)

Editor: Aziz Tri P