Kisah Sukses Usaha, di Balik Produk ‘Black Garlic’

Nur Sholikah, produsen Black Garlic dan pemilik usaha Dikha’s Food saat ditemui reporter Sureplus.id di rumahnya, Rabu (21/11/2018). FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Dorongan niat yang besar untuk membangun suatu usaha saat ini kerap menjadi modal usaha, terutama dalam menjalankan bisnis kuliner yang saat ini sedang banyak digandrungi masyarakat Surabaya. Seperti usaha yang dilakukan Nur Sholikah (51), seorang pelaku usaha produk makanan bernama “Black Garlic”, jajanan bawang berwarna hitam dengan kandungan nutrisi yang berkhasiat bagi kesehatan.

Sholikah mengatakan, awalnya produk Black Garlic ini hanya untuk konsumsi sendiri. Tetapi, setelah mencari informasi di internet tentang khasiat dan potensi pemasaran dari bawang hitam ini, ia memberanikan diri untuk mencoba membangun usaha kuliner ini seorang diri.

“Saya pertama kali usaha ini karena suami pulang dari Jombang, dan bawa Black Garlic ini. Saya kaget karena Black Garlic harganya disana mahal. Akhirnya dari situlah saya ingin punya usaha sendiri dengan produk ini,” ungkap Sholikah saat ditemui reporter Sureplus.id dikediamannya yang berada Jl. Banyu Urip Wetan 5B No.4 Surabaya, Rabu (21/11).

Usaha yang telah dilakoninya sejak Oktober 2017 ini sangat laris pada penjualan pertama dan laku sebanyak 1 kg. Lantas, ia memutuskan untuk mencoba lagi dengan produksi Black Garlic sebanyak 3 kg. Meskipun demikian, kegagalan saat proses pembuatan tak menyurutkan niat dan usahanya untuk selalu bereksperimen lagi dan lagi demi membuat produk Black Garlic yang bagus.

Ia biasa membeli bawang putih di beberapa pasar langganannya di Surabaya sebanyak 5 hingga 15 kg. Setelah membeli, ia memisahkan antara bawang putih bagus dan jelek, kemudian bawang putih bagus yang dipilihnya itu ia bersihkan kulitnya, untuk selanjutnya dibungkus dengan alumunium foil dan dimasukkan ke dalam Magicom.

Proses pembuatan Black Garlic ini memakan waktu hingga sebulan dalam dua dan terkadang tiga kali produksi. Hal tersebut dikarenakan alat pemanas bawang berupa Magicom yang biasa ia pakai tidak bisa diatur suhunya.

“Saya ada dua toples itu produk gagal. Karena memang kan Magicom yang saya punya ini suhunya tinggi, jadi luarnya gosong tapi didalemnya (isi) masih mentah. Akhirnya saya akali dengan menaruh serbet di bawahnya. Kadang saya juga dibantu sama keponakan dan saudari saya,” ungkap Sholikah.

Meskipun usahanya masih baru berdiri, ia mengakui dalam bisnisnya selama setahun ini masih mendapatkan penghasilan dibawah empat juta rupiah perbulannya. Namun, ia tetap bersikeras untuk selalu mendorong penjualan, dengan bereksperimen pada produknya agar penghasilannya bisa meningkat.

Selama kurun waktu satu tahun ini, ia telah menghasilkan dua produk Black Garlic, yakni D’Tunggal dan D’Kating. Perbedaan dari kedua produknya yakni D’Kating memiliki rasa manis dan pahit, dan ia mematok harga sebanyak Rp.50.000,- per bungkus yang seberat 2 ons. Khusus untuk D’Tunggal, ia mematok harga hingga Rp.100.000,- lantaran rasanya yang benar-benar manis dan proses pembuatannya juga memerlukan konsentrasi tinggi.

Untuk produk D’Kating, Sholikah sekali produksi dapat menghasilkan 8 hingga 10 kg. Dan untuk D’Tunggal, ia memproduksi dalam sebulan sebanyak 5 kg. Distribusi dan penjualan produk jajanan bawang hitamnya ini telah mencakup beberapa instansi pemerintahan, seperti Primkopol Polda Jatim, Sentra UKM Siola, Rumah Sakit BDH Benowo, dan Sentra UKM Merr, dan Dolly Saiki Point.

Smentara itu, dalam pemasaran dan distribusi ini seringkali ia menemui kesulitan yang signifikan. Ia berdalih bawang putih di beberapa pasar Surabaya ada yang seharga Rp.110.000,- dan Rp.190.000,-. Tak pelak ia harus berpindah-pindah pasar untuk mendapatkan bawang putih dengan harga murah.

Sholikah merencanakan akan membuat produk baru, berupa ketan olahan rumah. Namun ia mengaku masih ingin fokus pada penambahan Magicom demi meningkatkan jumlah produksi Black Garlicnya.

“Saya juga menjualkan secara onlinie seperti Facebook, Instagram, grup WhatsApp, sama di website. Jadi saya juga memanfaatkan jaringan, bahkan sampai Kalimantan juga ada pemesan, tapi ya masih sedikit karena masih mencoba,” tutup Sholikah.[DEWID/DM]

Editor: Dony Maulana