Data Kemenperin, 4.000 Pelaku Usaha Ikuti Program e-Smart IKM

Kemenperin mencatat, hingga Oktober 2018 ada 4.000 pelaku usaha yang mengikuti program e-Smart IKM dengan total omset Rp 1,3 miliar. Tampak salah satu pameran IKM di Surabaya yang dipadati pengunjung. FOTO: SUREPLUS/DOK.

JAKARTA-SUREPLUS: Hingga Oktober 2018, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat ada 4.000 pelaku usaha yang mengikuti program e-Smart IKM (Industri Kecil dan Menengah), dengan total omset mencapai Rp 1,3 miliar.

Program e-Smart IKM yang diluncurkan Kemenperin sejak 2017 lalu, telah dilaksanakan di 22 provinsi, dengan melibatkan lima lembaga, yaitu Bank Indonesia (BI), BNI, Google, Idea serta Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).

Selain itu juga menggandeng pemerintah provinsi, pemkot dan pemkab. Program e-Smart IKM juga telah bekerja sama dengan marketplace seperti Bukalapak, Tokopedia, Shopee, BliBli, Blanja.com, Ralali dan Gojek Indonesia.

Sedangkan sembilan komoditas yang tengah difokuskan pengembangannya di dalam skema program e-Smart IKM, yakni makanan dan minuman (Mamin), logam, perhiasan, herbal, kosmetik, fashion, kerajinan, furniture, dan industri kreatif lainnya.

Seperti dikutip Sureplus.id, Rabu (21/11/2018) dari situs kemenperin.go.id, Direktur Jenderal IKM Kemenperin, Gati Wibawaningsih menyampaikan, pihaknya gencar mengajak pelaku IKM di dalam negeri agar bisa terlibat di dalam program e-Smart IKM.

“Kemenperin menggagas platform e-commerce bertajuk e-Smart IKM ini sebagai upaya pemerintah membangun sistem database IKM yang diintegrasikan melalui beberapa marketplace yang sudah ada di Indonesia,” kata Gati.

Naik Kelas di Era Digital

Kemenperin memang terus memacu IKM untuk naik kelas, yakni dengan pemanfaatan teknologi terkini, sehingga dapat lebih mendongkrak pendapatannya. Misalnya, mengajak bergabung dalam program e-Smart IKM yang bertujuan meningkatkan akses pasarnya melalui fasilitas internet marketing.

“Di era ekonomi digital, salah satu langkah strategis yang perlu didorong untuk IKM adalah kemudahan access to market. Hal ini sesuai dengan implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto.

Menperin Airlangga menjelaskan, di era revolusi industri 4.0, IKM tidak harus punya toko atau berjualan di mal. Saat ini, mereka bisa masuk ke e-commerce platform dan produknya dijual lewat distribusi network. “Ini untuk empowerment IKM ke depannya, karena kunci industri 4.0 adalah peningkatan produktivitas,” tuturnya.

Airlangga memberikan apresiasi kepada para pelaku IKM nasional yang sudah bisa menembus pasar ekspor, karena produk yang dihasilkannya beragam dan berkualitas. Contohnya, IKM Dayang Songket yang rajin mempromosikan kain songket khas Sambas ke berbagai pameran di luar negeri seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Jepang dan Belgia.

“IKM ini sudah pernah dapat penghargaan Upakarti dari Kemenperin. Kualitasnya semakin bagus. Kami akan terus dorong IKM seperti ini ditingkatkan, yang bisa kompetitif di pasar internasional,” kata Menperin Airlangga. (PRS/AZT)

Editor: Aziz Tri P