Jan Koum, Dari Udik Ukraina Menggapai Impian Amerika

Jan Koum – FOTO: motivationhubb

Jika pendiri sekaligus bos Facebook, Mark Zuckerberg terlahir dari keluarga mapan di New York, AS, maka Jan Koum justru sebaliknya. Pencipta aplikasi WhatsApp ini pada mulanya tak lebih dari anak miskin yang lahir dan dibesarkan di dusun kecil di udik Keiv, Ukraina.

Pada masa Perang Dingin, kehidupan di wilayah Eropa Timur merupakan kehidupan suram yang penuh dengan kesengsaraan. Pemerintahan komunis saat itu melakukan pengawasan ketat atas kehidupan sosial masyarakat. Jangankan kebebasan berpendapat, untuk sekadar menggunakan telepon saja orang harus mengatur sedemikian rupa apa yang akan dipercakapkan agar tidak dicurigai dan mendapat hukuman. Situasi politik seperti itu, ditambah dengan merebaknya sentiment anti-semit di Ukraina, membuat Jan yang masih berusia 16 tahun, bersama ibunya pindah ke Mountain View, California pada tahun 1992.

Tinggal di apartemen sempit dan kumuh, untuk menyambung hidup, Jan menjadi tukang sapu di toko swalayan, membantu ibunya yang bekerja sebagai pengasuh anak. Ayah Jan sebenarnya berencana menyusul, namun pada tahun 1997, keburu meninggal di Keiv. Tiga tahun kemudian, ibunya pun meninggal akibat kanker.

Titik balik kehidupan Jan dimulai di usia 19 tahun sewaktu belajar menggunakan komputer secara otodidak. Sebuah buku bekas berisi pelajaran mengenai jaringan komputer, menghantarkan Jan berkuliah di San Jose State University. Di masa kuliah itulah ia sempat bekerja paruh waktu di perusahaan Ernst & Young sebagai penguji keamanan.

Setelah 6 bulan bekerja, ketika pihak perusahaan melihat hasil kerjanya yang memuaskan, Jan mendapat kesempatan menangani sistem Yahoo. Merasa menemukan dunia di bidang teknologi, Jan akhirnya drop out dari bangku kuliah.

Sewaktu menangani Yahoo, Jan berteman dengan Brian Acton yang kemudian menjadi sahabatnya. Mereka menjalin kerja sama selama 9 tahun dan sempat melamar di Facebook meski ditolak.

September 2007, Jan meninggalkan kantor lamanya hingga akhirnya berhasil menciptakan WhatsApp pada tahun 2009, dan mengajak serta Brian untuk bersama-sama mengembangkan penemuannya itu.

WhatsApp terus berkembang, terlebih ketika mendapat suntikan dana sebesar 8 juta dolar AS (sekitar Rp106,8 miliar) dari Sequoia Capital pada April 2011, dan menjadi salah satu aplikasi terpopuler di App Store. Puncaknya, Februari 2014, Facebook membeli saham WhatsApp sebesar 19 miliar dolar AS atau sekitar Rp253 triliun. Menariknya, aplikasi yang telah digunakan di 109 negara dengan jumlah pengguna hingga 1 miliar ini, tetap independen. Jan dan Brian tetap menjadi pengelola tanpa campur tangan pihak Facebook.

Meski telah mencapai kesuksesan yang gemilang, Jan tetap hidup sederhana. Kehidupan masa lalu lalunya tak pernah ia lupakan. Ia memberikan donasi sebesar 556 juta dolar AS (sekitar Rp7,4 triliun) dari pendapatnya untuk Silicon Valley Community Foundation yang bergerak di bidang keamanan ekonomi, pendidikan, dan integrasi kaum imigran, dan 1 juta dolar AS (kurang lebih 13,3 miliar) kepada The FreeBSD Foundation, sebuah organisasi nirlaba yang berbasis di AS yang didedikasikan untuk mendukung dan mensponsori proyek dan komunitas FreeBSD di seluruh dunia. [ff]