Pagelaran Panji Mbulan, Wujud Kolaborasi Apik Seniman Tujuh Negara

Sejumlah seniman lokal dan asing berkolaborasi apik dalam pagelaran seni dan budaya Selomangleng bertajuk Panji Mbulan, di kawasan wisata Goa Selomangleng Kota Kediri, Minggu (18/11/2018). FOTO: SUREPLUS/AYU CITRA SR

KEDIRI-SUREPLUS: Pagelaran seni dan budaya Selomangleng yang bertajuk Panji Mbulan diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Kediri, di kawasan wisata Goa Selomangleng, Kota Kediri, Minggu (18/11/2018), tampak meriah.

Bahkan, kondisi pada hari ini tidak seperti biasanya. Salah satu destinasi wisata di Kota Kediri ini didatangi seniman dari berbagai daerah hingga mereka yang datang dari tujuh  negara. Kehadiran pelaku seni ini direalisasikan melalui suguhan kolaborasi seni nan apik, yang disesuaikan dengan tema masing-masing perwakilan negara.

“Para seniman ini ada dari Blitar, Ngawi, Trenggalek, serta Solo. Bahkan sampai dari luar negeri seperti Jerman, Meksiko, China dan Brazil,” kata Kepala Disbudparpora Kota Kediri, Nur Muhyar, saat membuka Panji Mbulan, di wisata Goa Selomangleng, Kota Kediri, Minggu (18/11/2018).

Nur Muhyar menyatakan, pagelaran seni budaya ini digelar dalam rangka melestarikan sejarah asal Kota Kediri. Selain itu, juga bertujuan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara maupun wisatawan domestik ke Kota Tahu.

“Kota Kediri sudah mereposisikan diri sebagai kota jasa. Ini karena kami menyadari Kota Kediri tidak memiliki destinasi wisata alam,” katanya.

Untuk itu, komitmen Pemkot Kediri menyelenggarakan acara ini sebagai destinasi wisata. Pihaknya berkomitmen untuk menggelar pagelaran ini semakin menarik, sehingga mampu menggerakkan masyarakat luar kota untuk datang ke Kota Kediri.

Di area ini, Walikota Kediri, Abdullah Abu Bakar, tampak menyaksikan secara langsung bersama anak tercintanya. Dia mengungkapkan, ke depan akan membuat pagelaran seni semakin menarik dan membuat acaranya jauh lebih besar.

“Kota Kediri memang tidak ada destinasi wisata yang cukup menarik untuk mendatangkan orang. Untuk itu, kami perlu mengadakan acara by design seperti ini,” katanya.

Pada masa mendatang, lanjut dia, pihaknya juga siap mengadakan serangkaian event. Selain itu, ikut mendatangkan UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) agar masyarakat daerah lain tertarik untuk berkunjung ke Kota Kediri.

Mengembangkan Art Tourism

Apalagi, dari tahun ke tahun Pemerintah Kota Kediri selalu berinovasi. Salah satunya dengan mengajak banyak pihak.untuk bersinergi, misalnya melalui agenda Panji Mbulan ini. Dengan begitu, semakin banyak seniman baik lokal maupun mancanegara yang mengenal Kota Kediri.

“Acara ini sudah empat kali diadakan dan kami juga selalu bekerjasama dengan beberapa seniman baik dari berbagai daerah maupun luar negeri. Kita juga bisa mengenalkan Goa Selomangleng menjadi destinasi wisata,” katanya.

Di sisi lain, Kepala Disbudpar Jawa Timur, Sinarto membenarkan, bahwa Kota Kediri memiliki Goa Selomangleng yang patut untuk dimunculkan. Hal ini karena objek wisata ini memiliki sisi historis.

“Kami dari Jawa Timur akan mencoba menyatu dengan Wali Kota Kediri, yang memiliki strategi untuk mengeksplor potensi wisata di Kota Kediri. Lantaran, isu Panji sekarang menjadi pikiran besar di Indonesia, jadi harus diungkap sejauh mana nilai budayanya,” katanya.

Sinarto berharap, melalui perkembangan sektor pariwisata maka Kota Kediri akan memiliki masa depan yang cerah. Bahkan, juga bisa dijadikan sebagai Art Tourism, di mana Kota Kediri  memungkinkan sebagai salah satu wujud aksesibilitas dan atraksi kepariwisataan di Provinsi Jawa Timur.

Sementara, Pagelaran Panji Mbulan itu sendiri mengangkat cerita penyatuan cinta Panji dan Candra Kirana atau sering dikenal Dewi Sekartaji. Penyatuan keduanya mengandung nilai luhur keselarasan, perdamaian, dan hidup aman tenteram tanpa peperangan.

Perhelatan ini dikemas dengan bentuk seni akulturasi modern dan tradisional, antara masyarakat setempat dengan seniman mancanegara. Bahkan, ditunjang dengan pertunjukan Arak-arakan rombongan seniman dari Museum Airlangga menuju Goa Selomangleng, dan dihiasi dengan mengarak gunungan hasil bumi serta sejumlah nasi takir (nasi bancakan-red) yang dibagikan kepada pengunjung di lokasi wisata. (AYU CITRA SR/AZT)

Editor: Aziz Tri P