Infrastruktur Digital Jadi Prioritas

Pengguna Internet di Indonesia Capai 143,26 Juta Orang

Indonesia menjadi salah satu negara dengan pengguna internet tertinggi di dunia. Jumlahnya mencapai 143,26 juta orang. Maka membangun infrastruktur digital jadi prioritas. Tampak para pelajar tengah memanfaatkan internet. FOTO: SUREPLUS/DOK.

JAKARTA-SUREPLUS: Indonesia menjadi salah satu negara dengan pengguna internet tertinggi di dunia. Jumlahnya mencapai 143,26 juta orang pengguna atau lebih dari 50 persen total penduduk di Indonesia. Maka di dalam peta jalan Making Indonesia 4.0, salah satu program prioritasnya adalah membangun infrastruktur digital nasional.

Berdasarkan penelitian dari McKinsey & Company, infrastruktur digital di Indonesia akan menciptakan peluang bisnis baru yang nilainya mencapai 150 miliar dolar AS hingga 200 miliar dolar AS pada tahun 2025-2030. Untuk mencapai target Making Indonesia 4.0, diperlukan 17 juta tenaga kerja yang dapat menguasai teknologi digital.

“Aspirasi besarnya adalah optimisme masa depan, dengan target pada tahun 2030, Indonesia masuk jajaran 10 negara dengan perekonomian terkuat di dunia. Dengan catatan, produktivitas naik dua kali lipat, nett ekspor mencapai 10 persen, dan anggaran riset hingga dua persen,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto seperti dikutip redaksi sureplus.id, Kamis (15/11/2018) dari situs kemenperin.go.id.

Menperin Airlangga Hartarto memaparkan hal tersebut saat peresmian Laboratorium IoT (IoT Lab) bernama X-CAMP yang dibangun oleh PT XL Axiata Tbk di Jakarta, Selasa (13/11/2018) lalu.

“Implementasi revolusi industri 4.0 perlu dirasakan dan dilakukan bersama-sama oleh seluruh negara. Kolaborasi ini diyakini dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi. Apalagi, saat ini tidak ada satu negara yang bisa mengklaim sudah paling siap dalam industri 4.0. Jadi, semuanya sedang mulai bareng,” papar Airlangga.

Ia menambahkan, pangsa pasar IoT (internet of things) di Indonesia diperkirakan berkembang pesat dan nilainya bakal mencapai Rp 444 triliun pada tahun 2022. Nilai tersebut disumbang dari konten dan aplikasi sebesar Rp 192,1 triliun, disusul platform Rp 156,8 triliun, perangkat IoT Rp 56 triliun, serta network dan gateway Rp 39,1 triliun.

Pada periode yang sama, berdasarkan data Indonesia IoT Forum, kemungkinan ada sekitar 400 juta perangkat sensor yang terpasang, sebesar 16 persen di antaranya terdapat pada industri manufaktur, 15 persen di sektor kesehatan, 11 persen asuransi, 10 persen perbankan dan sekuritas, serta sektor ritel, gosir, perbaikan komputer masing-masing 8 persen.

 Selanjutnya, sekitar 7 persen di pemerintahan, 6 persen transportasi, 5 persen utilities, serta real estate and business services and agriculture masing-masing 4 persen, dan sisanya 3 persen untuk perumahan dan lain sebagainya.

 Lima Teknologi Digital

 Menperin menjelaskan, terdapat lima teknologi digital sebagai fundamental dalam penerapan revolusi industri 4.0 di Indonesia, yaitu IoT, artificial intelligence, wearables (augmented reality dan virtual reality), advanced robotics, dan 3D printing. “Jadi, hari ini kita fokus pada internet of everythings. Ini yang harus dikuasai oleh generasi muda kita,” ujarnya.

 IoT merujuk pada jaringan perangkat fisik, kendaraan, peralatan rumah tangga, dan barang-barang lainnya yang ditanami perangkat elektronik, perangkat lunak, sensor, aktuator, dan konektivitas yang memungkinkan untuk terhubung dengan jaringan internet maupun mengumpulkan dan bertukar data.

Saat ini, pemerintah tengah mengembangkan Palapa Ring atau sebuah proyek serat optik sepanjang 36.000 km di 440 kota di Indonesia, demi mendukung tercapainya akses internet berkecepatan tinggi yang merata di tahun 2019.

Dengan selesainya Palapa Ring di 2019, diharapkan permasalahan konektivitas di Indonesia bisa terselesaikan. Dengan begitu, maka tidak akan ada permasalahan dalam konektivitas IoT baik dengan konektivitas langsung (dari end device ke server atau cloud) atau dari gateway ke server atau cloud.

”Teknologi IoT memang menjadi solusi. Bahkan, pengelola kawasan industri sudah memikirkan untuk segera mengembangkan teknologi ini sebagai pilot plant. Dan, tentunya ini akan menjadi back of bone untuk industri nasional ke depan,” tandasnya. (PRS/AZT)

Editor: Aziz Tri P