Industri Media, Kata Kuncinya ada di Sumber Pendanaan

Reino Barack saat menjadi pembicara utama kuliah umum di Stikosa AWS Surabaya, bertemakan Tantangan Media di Era Konvergensi, Selasa (13/11/2018) lalu. FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (Stikosa) Almamater Wartawan Surabaya (AWS)  mengundang President Director PT Rizki Bukit Sinema, Reino Barack untuk memberikan kuliah umum bertema Tantangan Industri Media di Era Konvergensi, Selasa (13/11/2018) lalu.

Dalam perbincangan yang ia sampaikan, ia merasa pesimis perihal startup media digital, lantaran harus menyiapkan sumber pendanaan yang jelas. “Dalam industri media, kata kunci utamanya bukan hanya ide, namun sumber pendanaan,” kata Reino Barack.

Di acara tersebut, Reino menjabarkan bahwa dirinya saat ini telah keluar dari Global Mediacom yang merupakan milik MNC, dan ingin menjajaki dunia perfilman lantaran dalam industri media digital, startup program dari tahun ke tahun terus mengalami kerugian.

Ia mengutarakan saat ini 80 persen hingga 90 persen bisnis startup merugi dikarenakan pendanaan merupakan hal vital dari segala bentuk startup bisnis digital. “Pendanaan bisa datang dari segala penjuru, seperti private sector maupun korporat besar. Namun dalam bisnis digital, kalau pendanaan belum jelas lebih baik jangan memulai, karena stabilitas dari pendiri  perusahaan pun tidak menjamin,” ungkapnya.

Ia memberikan contoh startup yang sudah berhasil seperti aplikasi Go-jek dan Tokopedia.com yang mendapatkan pendanaan dari Jepang sekitar 1 miliar dolar AS yang setara dengan Rp 15 triliun. Ia mengakui pernah memulai bisnis e-commerce paling awal di Indonesia bernama Rakuten belanja online berkolaborasi dengan perusahaan Jepang, dan menjadi sponsor utama dari tim sepak bola Barcelona yang mencapai 300 juta dolar AS per tahun.

Rakuten belanja online yang ia bangun saat berada di MNC mengalami kerugian, yang dilihat dari Gross Profit di revenue perusahaan menunjukkan warna merah, yang artinya mengalami kerugian. Hal tersebut lantaran ketika belanja online, produk banyak yang diskon karena subsidi silang. Misalkan membeli telepon dengan harga asli Rp 10 juta, sedangkan ia jual dengan harga Rp 8 juta, sedangkan sisanya perusahaan yang harus membayar.

“Kenapa saya mencontohkan barang elektronik? Karena kategori produk yang paling laku di e-commerce adalah elektronik seperti handphone, akseseoris, PC, laptop dan lain-lain,” ucap Reino.

Menurutnya ada dua akibat karena kerugian yang terus menerus. Yang pertama yakni resiko bisnis yang bisa tutup, dan kedua resiko kredibilitas nama yang artinya pelaku startup dinyatakan gagal dalam membangun bisnis tersebut. “Tidak ada buruknya bekerja di startup, yang terpenting kita harus tahu saja soal stabilitas pendanaan datang dari mana,” tutup Reino Barack. (DEWID WIRATAMA/AZT)

Editor: Aziz Tri P