Save Street Child Surabaya (SSC-SBY)

Mengajak Anak-anak Jalanan agar Tetap Mau Belajar

Indra Setiawan bersama anak-anak jalanan binaannya di Save Street Child Surabaya (SSC-SBY). Ia bersama rekan-rekannya berupaya mengajar anak-anak dari kalangan bawah untuk belajar secara cuma-cuma. FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Membawa harapan bagi generasi muda, menorehkan nama tanpa ada niat untuk dikenang. Indra Setiawan, pria kelahiran Pontianak, September 1988 ini berupaya untuk mengajar anak-anak dari kalangan bawah untuk belajar secara cuma-cuma.

Tak hanya mengajar, dirinya juga mengayomi, merawat dan mendukung mental anak-anak yang terpinggirkan di Surabaya ini untuk tetap bersemangat belajar. Sejak lulus SMA tahun 2006 silam, Indra memutuskan untuk meneruskan study-nya di Yogyakarta. Tetapi karena suasana kota dan problematika yang dihadapi, ia akhirnya memutuskan untuk pindah ke Surabaya dan kuliah di Universitas Pembangunan Nasional (UPN)-Veteran, Jatim.

Kedatangannya di Surabaya inilah awal dari terwujud mimpinya untuk berbuat sesuatu yang berdampak nyata bagi masyraakat. Sempat terpikir olehnya untuk mengumpulkan sejumlah uang kemudian membangunkan kamar mandi umum (ponten) untuk wilayah yang masih sangat minim fasilitas MCK-nya. “Saya ingin berbuat sesuatu untuk membantu,” kata Indra kepada Sureplus.id, Senin (05/11/2018).

Indra kemudian mulai menemukan ide untuk menolong anak-anak jalanan dengan membentuk Save Street Child Surabaya (SSC-SBY). Pada awal pendirian SSC-SBY, ia dibantu enam rekannya. Namun saat ini hanya Indra yang bertahan.

Bermodalkan niat serius, membuatnya mengambil langkah kegiatan dari satu taman ke taman lainnya di Surabaya. Salah satunya di Taman Bungkul yang kemudian merangkul anak-anak penjual kopi, pengemis, pengamen dan lainnya agar mau tetap belajar.

Saat itu tidak ada tempat resmi untuk SSC-SBY. Maka Indra beserta kawan-kawannya terus berusaha mencarikan tempat belajar bagi anak-anak jalanan. Terkadang ia harus mengajar di sudut jalan, daerah tumpukan sampah, bahkan bergelut dengan nyamuk setiap malamnya. Hal yang sama juga dilakukannya di sekitar Jembatan Merah, di daerah Genteng Kali dan Delta. “Tahun pertama adalah tahun asyik, karena masih kompak dan mejaga utuh solidaritas,” ujarnya. 

Masalah tidak hanya hadir dari sudut penyelenggaraan kegiatan. Namun juga datang dari orang tua anak didiknya yang melarang keras untuk ikut belajar bersama. “Yang kami butuhkan uang saat ini, untuk apa sekolah-sekolah kalau tidak ada uang. Dengan apa kami membayar utang,” kata Indra menirukan perkataan orang tua anak-anak didiknya dulu.

Di tahun 2014, semua jerih payah dan keringatnya terbayar. Mimpinya memiliki rumah, walaupun sewa, untuk anak-anak jalanan itu terealisasikan. Di tahun itu  juga SSC-SBY mendapatkan dana SCR dari MPM. Hal tersebut semakin memicu Indra dan kawan-kawannya untuk berbuat agar SSC-SBY MENJADI lebih baik lagi. 

Ia juga membuka jasa sablon dan memproduksi telor asin bersama anaj-anak asuhannya yang tinggal di base camp, Jl Jagiran No 64, Surabaya. Di tahun 2018 ini, perkembangan SSC-SBY terlihat jelas. Base camp yang berada di Jalan Semampir Selatan tersebut telah menarik minat anak-anak jalanan untuk menempuh pendidikan yang layak. Semoga kerja keras Indra berbuah manis di kemudian hari. (DEWID WIRATAMA/AZT)

Editor: Aziz Tri P