Menperin: Kinerja Ekspor Industri Furniture Harus Ditingkatkan

Kinerja ekspor industri furniture masih harus ditingkatkan lagi. Menperin Airlangga Hartarto saat meninjau industri furniture dan kerajinan rotan di Cirebon, Sabtu (03/11/2018). FOTO: KEMENPERIN.GO.ID

JAKARTA-SUREPLUS: Ekspor industri furniture Indonesia di tahun 2015 mencapai 1,71 miliar dolar AS, pada tahun 2016 mencapai 1,61 miliar dolar AS, dan tahun 2017 sebesar 1,63 miliar dolar AS. Padahal nilai perdagangan furniture dunia berdasarkan data CSIL sebesar 130 miliar dolar AS pada tahun 2015, 131 miliar dolar AS pada tahun 2016 dan 138 miliar dolar AS di tahun 2017.

“Kinerja ekspor industri furniture serta peranan Indonesia dalam ekspor furniture dunia, masih harus ditingkatkan lagi,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto seperti dikutip Sureplus.id, Senin (05/11/2018) dari situs kemenperin.go.id.

Menurut Menperin, industri furniture dan kerajinan menjadi salah satu prioritas nasional dengan ketersediaan bahan baku berupa kayu, rotan dan bahan alami yang mencukupi di Indonesia. Kemenperin pun mendukung perbaikan iklim usaha di sektor ini untuk meningkatkan nilai ekspornya.

“Mari sama-sama kita dongkrak industri furniture dan pengolahan kayu ini karena pasarnya terbuka luas,” kata Airlangga Hartarto ketika meninjau industri furniture dan kerajinan rotan House of Rattan dan Yamakawa di Cirebon, Sabtu (03/11/2018).

Airlangga menekankan, kinerja ekspor furniture dinilai masih relatif kecil dibandingkan dengan potensi bahan baku yang ada. Indonesia merupakan penghasil 85 persen bahan baku rotan dunia. Daerah penghasil rotan di Indonesia sebagian besar berada di Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera. Dari 306 jenis rotan, saat ini baru 51 jenis yang termanfaatkan.

Maka Pemerintah berupaya mengoptimalkan potensi industri furniture dan kerajinan melalui beberapa kebijakan, di antaranya dengan mendirikan Politeknik Industri Furniture dan Pengolahan Kayu di lokasi Kawasan Industri Kendal, Jawa Tengah. Peningkatan kapasitas SDM terampil juga dilakukan dengan Program Pendidikan Vokasi yang link and match antara SMK dengan industri.

Pusat Inovasi Rotan Nasional

Potensi bahan baku rotan di Palu, Sulteng harus dimanfaatkan optimal. Terlebih Kemenperin telah membangun Pusat Inovasi Rotan Nasional (PIRNas) di Palu. FOTO: KEMENPERIN.GO.ID

Menperin menyampaikan kepada para pengusaha mebel rotan di Cirebon serta Ketua dan Pengurus Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) bahwa potensi bahan baku rotan di Palu, Sulawesi Tengah harus dimanfaatkan optimal.

Terlebih Kemenperin telah membangun fasilitas Pusat Inovasi Rotan Nasional (PIRNas) yang berlokasi di Kawasan Industri Palu. “Kita akan mengajak industri yang ada di Cirebon ke Palu untuk melihat sumber bahan baku dan minta sebagian proses awal produksi dipindahkan ke Palu,” ujar Airlangga.

PIRNas yang telah diresmikan dan beroperasi sejak 2014 ditujukan sebagai basis pengembangan rotan nasional, khususnya untuk desain dan teknologi produksi produk rotan. PIRNas juga dilengkapi dengan mesin-mesin dengan teknologi baru serta gudang penyimpanan produk.

Dengan fasilitas yang ada, industri dari Cirebon dapat memanfaatkan fasilitas tersebut untuk memproduksi komponen di lokasi yang dekat dengan bahan baku. “Industri dari Cirebon tinggal bawa pekerja dan mesin lain yang dibutuhkan, nanti di sini tinggal perakitan dan finishing. Dengan begitu, Cirebon bisa menjadi bagian dari rekonstruksi Palu,” tambahnya.

Strategi ini, tambah Menperin, diharapkan memperkuat kembali poros Palu-Cirebon sebagai pusat bahan baku dan pusat industri furnitur rotan. Dengan demikian, masyarakat di Palu yang dekat dengan bahan baku juga bisa merasakan hasil industri rotan.

Ketua HIMKI Soenoto menanggapi positif pernyataan Menperin. Berdampingan dengan pemerintah, HIMKI berupaya membangun industri furnitur dan kerajinan sebesar-besarnya.

Ia menyampaikan, permintaan Menperin merupakan bentuk hilirisasi sehingga pihaknya melihat terbukanya kemungkinan untuk merapat ke Palu. “Tantangan ekspansi lagi-lagi SDM sehingga pekerja dari Cirebon akan dibawa ke sana untuk memberikan technical assistance kepada tenaga kerja baru di Palu,” ujar Soenoto.

Plt Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono menambahkan, kebijakan pengembangan industri furniture mendorong modernisasi peralatan furnitur dan pengolahan kayu, menarik investor baru bidang furnitur, fasilitasi keikutsertaan pelaku industri furniture pada pameran di dalam maupun di luar negeri.

Juga penyiapan konsep sistem logistik bahan baku nasional, serta pemberian fasilitas insentif pajak kepada industri furniture. “Untuk industri furniture, teknologi finishing dan desain jadi perhatian untuk dikembangkan,” kata Achmad Sigit. (PRS/AZT)