Bu Sumrah, Pembuat dan Penjual Tajin Sobih

53 Tahun Manjakan Selera Pelanggan

Bu Sumrah sedang melayani pembeli tajin sobih di trotoar depan Stadion Gelora Bangkalan. FOTO: SUREPLUS/AGUS HIDAYAT

BANGKALAN-SUREPLUS: Tajin sobih telah dibuat sejak zaman Belanda. Rasa manis dan enak didapat dari ketepatan takaran bahan dari masing-masing olahan. Bu Sumrah adalah salah satu pembuat serta penjual tajin sobih yang masih bertahan hingga kini.

Minggu pagi itu waktu menunjukkan pukul 09.00 WIB. Sebuah angkutan umum tiba-tiba berhenti tepat di depan Stadion Gelora Bangkalan, Madura. Tampak seorang perempuan tua turun dari angkutan, lalu membayar ongkos perjalanan. Bakul anyaman bambu berukuran besar diturunkan, kemudian diletakkan di trotoar. Tak sampai hitungan lima menit, perempuan tua itu telah siap menanti pembeli.

Itulah awal aktifitas pagi diluar rumah yang hampir tiap hari dijalani Bu Sumrah (66). Ia adalah salah satu penjual tajin sobih, kuliner khas Bangkalan. Dalam bahasa Indonesia, tajin berarti bubur. Sebelum itu, ia lebih dulu harus membuat semua olahan tajin sobih di rumah. Pekerjaan tersebut dilakukan dari pukul 04.00 WIB hingga 07.00 WIB.

“Setelah semua olahan dimasukkan dalam bakul barulah saya berangkat. Biasanya sekitar jam delapan pagi. Sampai di stadion sudah ada pelanggan yang menunggu. Bahkan ada pelanggan yang rela membantu saya menurunkan bakul,” ujar Bu Sumrah kepada Sureplus.id, Minggu (4/11/2018).

Mulailah tangan cekatan Bu Sumrah melayani para pelanggan yang seolah tak sabar menyantap tajin sobih. Satu demi satu olahan berupa mutiara, srintil, santan kental, serta sumsum diletakkan pada wadah dari daun pisang. Siraman gula merah kental menjadi akhir proses pencampuran kelima olahan tersebut. Tajin sobih pun bisa dinikmati.

Sesekali senyum tersungging dari bibir Bu Sumrah lantaran ulah usil serta jail pelanggan. Namun suasana canda yang terbangun tak membuatnya lupa, terlebih salah, menakar kelima olahan sambil duduk di trotoar. Tangan kirinya menyangga wadah daun pisang. Sedang tangan kanannya asyik mengambil takaran tiap olahan yang tersedia dalam panci.

“Sudah puluhan tahun saya berjualan di stadion. Alhamdullah sudah punya banyak pelanggan. Kebanyakan mereka membeli untuk dibawa pulang. Tapi ada juga yang dimakan disini. Saya bahkan pernah difoto saat berjualan, lalu hasil fotonya diberikan ke saya dalam bentuk pigura,” cetus Bu Sumrah dengan dialek Madura kental.

Di hari-hari efektif (Senin sampai Sabtu), ia bisa berjualan hingga pukul 13.00 WIB. Jika habis, Bu Sumrah segera berkemas lalu pulang ke rumah. Namun jika masih tersisa, ia tak segan berjualan ke tempat lain sambil berjalan kaki. “Saya hanya berkeliling ke kampung atau perumahan dekat stadion. Kaki saya sudah tidak kuat lagi berjalan jauh sambil membawa bakul di atas kepala,” ungkap nenek dari tujuh cucu yang kesemuanya laki-laki.

Berbeda saat hari Minggu. Tajin sobih Bu Sumrah biasanya ludes terjual sebelum pukul 12.00 WIB. Penyebabnya, di hari itu lahan parkir stadion menjadi tempat berkumpulnya pedagang kaki lima sekaligus jadi arena bermain bagi anak-anak.

Berbagai acara terbilang sering diadakan di tempat ini saat pagi. Banyak pula jenis makanan dan minuman dijual sebagai menu sarapan pagi. Namun bagi yang jarang atau belum pernah merasakan tajin sobih, kehadiran Bu Sumrah bisa memancing selera pengunjung lahan parkir stadion untuk mencicipinya.

“Satu porsi harganya cuma Rp.4.000. Tapi saya minta dibuatkan porsi Rp.5000 setiap kali beli. Saya termasuk pelanggan Bu Sumrah, mungkin sekitar 10 tahunan. Rasanya yang manis dan enak membuat saya ketagihan,” tutur Asih Kusuma, warga Perumahan Griya Abadi Bangkalan yang menikmati suasana Minggu pagi bersama suami dan kedua buah hatinya.

Berjualan sejak umur 13 tahun

Lima jenis olahan yang jika disatukan pada daun pisang akan bernama tajin sobih. FOTO: SUREPLUS/ AGUS HIDAYAT

Tajin sobih adalah kuliner atau jajanan khas yang hanya ada di Bangkalan. Bu Sumrah memang berasal dari Desa Sobih, Kecamatan Burneh, Kabupaten Bangkalan, Madura. Ia adalah satu dari beberapa penjual tajin sobih yang masih bertahan hingga kini.

Dari bahasa tutur yang berkembang, tajin sobih telah dibuat oleh warga Desa Sobih sejak jaman Belanda. Nama desa itulah yang kemudian menjadi nama paten kuliner khas ini. Bu Sumrah sendiri mengaku tak tahu pasti ketika ditanya mengenai sejarah tajin sobih. “Yang saya tahu dulu nenek saya juga penjual tajin sobih. Itu kata almarhum ibu saya,” terangnya singkat.

Desakan faktor ekonomi serta berpulangnya sang ibu yang membuat Bu Sumrah terpanggil untuk meneruskan usaha berjualan tajin sobih. Saat itu usianya baru menginjak 13 tahun. Kehidupan keluarganya tergolong pas-pasan. Pekerjaan ayahnya sebagai buruh tani tak cukup untuk menghidupi istri dan empat anak.

Sebagai anak pertama dan tertua, Bu Sumrah kecil tak ingin melihat ketiga adiknya merintih setiap hari lantaran menahan lapar. Setiap pagi ia harus berjalan lintas kampung menjajakan tajin sobih dari pagi hingga siang, terkadang sampai sore. Sebelum meninggalkan rumah, ia harus menyediakan nasi dan lauk pauk terlebih dulu untuk ketiga adiknya.

“Berat rasanya kalau disuruh menceritakan kondisi keluarga saya saat itu. Benar-benar serba kekurangan. Yang ada dalam pikiran jangan sampai ketiga adik saya tak makan. Itu saja,” kenang Bu Sumrah dengan mata berkaca-kaca.

Bukan hanya Bu Sumrah kecil yang harus berkeliling sambil menahan beban cukup berat di atas kepala. Sejumlah perempuan di desa tersebut juga melakukan hal yang sama untuk menyambung hidup. Bu Sumrah kecil bahkan termuda diantara penjual tajin sobih saat itu. Baginya usia bukanlah ukuran. Faktor keadaan yang mengharuskan ia menjalani pekerjaan tersebut.

Terhitung sejak mulai berjualan hingga kini, telah 53 tahun hari-hari Bu Sumrah bergelut dengan tajin sobih. Sungguh pengorbanan yang luar biasa dan mungkin jarang bisa dilakukan oleh orang lain. Meski kini kondisi ekonomi kedelapan anaknya terbilang cukup, namun Bu Sumrah masih enggan berhenti berjualan tajin sobih.

“Meski harus mengeluarkan ongkos pulang-pergi Rp.50.000, saya tak mau berhenti berjualan tajin sobih. Jika memang badan ini sudah tak kuat lagi atau mulai ditinggal pelanggan, barulah saya akan berhenti,” cetus Bu Sumrah.

Rasa manis dan enak yang mengena di lidah membuat tajin sobih Bu Sumrah dikenal luas di Bangkalan. Ketepatan rasa diperoleh lewat proses pembuatan yang terbilang cukup rumit serta memerlukan keahlian tersendiri. Kuncinya terletak pada takaran bahan yang akan dicampur untuk dijadikan olahan. Ketepatan takaran dan waktu pengolahan akan menghasilkan tingkat kematangan yang sempurna.

Pada saat-saat tertentu tajin sobih Bu Sumrah bisa dibilang naik kelas. Ia kerap terlihat di acara pernikahan, pertemuan, pameran, atau lainnya. Rupanya tajin sobih Bu Sumrah telah lebih dulu dipesan sebagai pelengkap menu acara. Ia sendiri yang melayani para tamu jika ada yang ingin mencicipi tajin sobih buatannya. Kuliner khas ini juga cocok untuk menu berbuka puasa. [AGUS HIDAYAT/DM]

Editor: Dony Maulana