Optimistis Dorong Tingkatkan Ekspor Tiga Bulan Terakhir

Pemerintah optimistis terus mendorong peningkatan ekspor pada tiga bulan terakhir. Dampaknya, target ekspor non-Migas 2018 dapat terlampaui. Tampak aktivitas ekspor impor di Surabaya. FOTO: SUREPLUS/DOK

JAKARTA-SUREPLUS: Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menegaskan, Pemerintah optimistis untuk terus mendorong peningkatan ekspor pada tiga bulan terakhir, sehingga target ekspor non-Migas tahun 2018 dapat terlampaui.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat, kinerja ekspor non-Migas bulan September 2018 tercatat sebesar 13,62 miliar dolar AS. Dibandingkan dengan nilai impor yang 12,32 miliar dolar AS, maka Indonesia surplus sebesar 1,30 miliar dolar AS.

Secara kumulatif, ekspor non-Migas Januari hingga September 2018 mencapai 122,31 miliar dolar AS, atau tumbuh 9,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya (YoY). Meski pertumbuhan ekspor non-Migas hingga triwulan III masih di bawah target, Pemerintah tetap optimistis ekspor non-Migas akan tumbuh 11 persen pada tahun 2018 ini.

“Pemerintah tetap optimistis untuk terus mendorong peningkatan ekspor pada tiga bulan terakhir sehingga target ekspor non-Migas tahun ini dapat terlampaui,” kata Mendag Enggartiasto Lukita seperti dikutip Sureplus.id, Sabtu (03/11/2018) dari situs kemendag.go.id.

Menurut Mendag, pertumbuhan ekspor non-Migas selama Januari—September 2018 didukung peningkatan ekspor beberapa pasar negara tujuan ekspor. Ekspor Indonesia ke China tumbuh 26,9 persen, ke Jepang 18,1 persen, Taiwan 34,1 persen, Korea Selatan 18,6 persen, Vietnam 23,7 persen, dan Bangladesh 19,5 persen.

“Peningkatan ekspor ini tak hanya menunjukkan pertumbuhan yang signifikan namun juga diprediksi dapat mendukung pencapaian target ekspor non-Migas tahun ini,” lanjut Mendag.

Beberapa komoditas utama ekspor non-Migas yang memberikan kontribusi terbesar terhadap peningkatan ekspor selama Januari-September 2018, di antaranya, besi dan baja (HS 72), bijih kerak dan abu logam (HS 26), berbagai produk kimia (HS 38), kertas/karton (HS 48), dan bahan bakar mineral (HS 27).

Total Impor Turun 13,18 Persen

Sementara itu, total impor bulan September 2018 mencapai 14,60 miliar dolar AS. Nilai ini turun 13,18 persen dibandingkan Agustus 2018 (MoM) yang mencapai 16,82 miliar dolar AS. Namun, masih meningkat 14,25 persen dibandingkan September tahun sebelumnya (YoY).

Dibandingkan bulan September 2017, impor non-Migas naik 13,62 persen, sedangkan impor Migas naik 17,76 persen. Kenaikan impor Migas yang cukup tinggi disebabkan karena kenaikan harga rata-rata minyak mentah dunia dari 71,1 dolar AS per barel di Agustus 2018 menjadi 75,4 dolar AS per barel di bulan September 2018.

Mendag Enggar juga mengungkapkan, penurunan impor bulan September 2018 terjadi pada semua klasifikasi barang impor. Hal ini mengindikasikan penurunan konsumsi domestik. Barang konsumsi yang impornya turun signifikan antara lain bahan bakar dan pelumas, makanan dan minuman olahan untuk rumah tangga, dan barang konsumsi tidak tahan lama.

Sedangkan untuk bahan baku atau penolong, yang impornya turun adalah bahan bakar dan pelumas, bahan baku untuk industri, dan suku cadang dan perlengkapan barang modal.

Mendag menyampaikan, secara kumulatif total impor Januari–September 2018 mencapai 138,77 miliar dolar AS, naik 23,33 persen dari Januari–September 2017 (YoY) yang tercatat sebesar 112,52 miliar dolar AS.

Peningkatan nilai impor tersebut didorong oleh kenaikan impor seluruh klasifikasi barang. Barang modal mengalami kenaikan sebesar 27,9 persen, bahan baku atau penolong naik 22,1 persen, serta barang konsumsi naik 26,4 persen (YoY).

Di tengah meningkatnya harga minyak internasional, defisit neraca perdagangan migas bulan September 2018 mencapai 1,07 miliar dolar AS, atau lebih rendah dibandingkan defisit bulan sebelumnya yang mencapai 1,61 miliar dolar AS.

Sementara itu, neraca perdagangan non-Migas bulan September 2018 tercatat surplus sebesar 1,29 miliar dolar AS, meningkat dua kali lipat dibandingkan

bulan sebelumnya. Dengan surplus non-Migas tersebut, total neraca perdagangan bulan September 2018 surplus 227,1 juta dolar AS.

Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia periode Januari–September 2018 mengalami defisit 3,78 miliar dolar AS, menurun dibandingkan defisit periode Januari—Agustus 2018 yang mencapai 4,01 miliar dolar AS.

Defisit neraca perdagangan terjadi karena tingginya defisit neraca perdagangan Migas yang mencapai 9,78 miliar dolar AS, sedangkan neraca perdagangan non-Migas surplus 5,59 miliar dolar AS. (PRS/AZT)

Editor: Aziz Tri P