Tresna Art: Citra Batik Tulis Madura (1)

Nadine Chandrawinata pun Rela Jalan Kaki

Tresna Art yang dikelola keluarga Supik Amin telah menjadi ikon destinasi wisata batik tulis Madura di Bangkalan. FOTO: SUREPLUS/AGUS HIDAYAT

BANGKALAN-SUREPLUS: Dari salah satu gang kecil di Jalan KH Moh Kholil, Bangkalan, pesona batik tulis Madura terpancar. Siapa sangka, dari gang kecil itu pula ada cerita dari Puteri Indonesia 2005, Nadine Chandrawinata.

Pagi itu lima orang pengunjung terlihat memasuki galeri. Kedatangan mereka langsung disambut ramah oleh si pemilik galeri dan karyawan. Seketika itu pula kelimanya melangkah kecil sambil mengarahkan pandangan ke sekeliling galeri. Langkah mereka kemudian terhenti di salah sudut galeri yang mencuri perhatian.

Sejurus kemudian pertanyaan seputar corak, motif, harga, juga asal batik tulis terlontar dari kelima pengunjung secara bergantian. Si pemilik galeri lalu menjawab penuh santun berbalut senyum ramah. Gaya bangunan Tresna Art yang berarsitektur joglo khas Madura juga tak luput dari perhatian.

“Saya baru kali ini berkunjung ke Tresna Art. Awalnya tahu dari cerita teman kalau galeri ini begitu dikenal oleh pecinta batik tulis dari luar Madura. Koleksinya bagus, suasana Maduranya kental. Suatu saat nanti saya harus kembali lagi,” ungkap Bambang Suwardi, salah seorang pengunjung asal Surabaya.

Melayani pengunjung memang menjadi rutinitas keseharian bagi Supik Amin (57). Meski berstatus owner atau pemilik serta mempekerjakan sepuluh karyawan, ia merasa perlu terjun langsung berhadapan dengan pengunjung. Secara tak langsung, apa yang dilakukan Supik bisa menjadi contoh sekaligus bekal bagi para karyawan.

“Tresna Art merupakan usaha yang dijalankan oleh keluarga. Lokasinya bersebelahan dengan rumah saya. Jadi saya bisa memantau dan turun tangan langsung hampir setiap hari. Apalagi kalau sedang ramai pengunjung,” kata Supik Amin pada Sureplus.id, Sabtu (03/11/2018).

Tresna Art berlokasi di Jalan KH Moh Kholil XII No 29 Bangkalan, Madura. Tidaklah sulit untuk sampai ke tempat ini. Dari jalan raya, pengunjung terlebih dahulu harus berjalan kaki sekitar 100 meter memasuki gang. Di depan gang masuk terdapat papan petunjuk yang bertuliskan nama galeri. Galeri ini buka dari pukul 08.00 WIB hingga 17.00 WIB.

Dari arah pelabuhan Kamal, perjalanan mengarah ke utara hingga melewati Stadion Gelora Bangkalan. Namun jika rute yang dipilih dari Jembatan Suramadu, pengunjung lebih dahulu harus melewati alun-alun kota dan Masjid Agung Bangkalan menuju arah selatan.

Galeri ini telah 18 tahun hadir memenuhi selera dan kecintaan pengunjung pada batik tulis Madura. Tersedia koleksi batik tulis dari empat kabupaten di Madura (Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep). Tiap daerah punya ciri khas tersendiri akan motif dan warna. Tentu saja, soal pilihan tergantung sepenuhnya pada selera pengunjung.

“Sejak awal berdiri kami berkomitmen hanya menjual batik tulis, bukan cap atau printing. Ini salah satu bentuk kecintaan sekaligus dedikasi kami pada budaya warisan leluhur. Batik tulis Madura tak boleh lenyap seiring perkembangan zaman. Batik tulis adalah simbol sekaligus identitas bagi Madura,” tegas Supik Amin.

Dukungan Biro Wisata

Ruang utama galeri Tresna Art yang menawarkan ragam batik tulis dari empat kabupaten di Madura. FOTO: SUREPLUS/AGUS HIDAYAT

Berangkat dari kecintaannya pada batik tulis lah yang membuat Supik yakin mendirikan usaha ini tahun 2005. Sebelum menempati galeri, Supik memfungsikan garasi rumah dan sanggar lukis sebagai tempat koleksi batik tulis yang diperdagangkan.

Kiat mendatangkan pengunjung digencarkan. Salah satunya dengan menjalin kerjasama dengan sejumlah biro perjalanan wisata dari beberapa kota. Cara inilah yang perlahan namun pasti mampu mendongkrak jumlah pengunjung, utamanya di hari Sabtu dan Minggu.

Beroperasinya Jembatan Suramadu tahun 2009 nyata-nyata membawa dampak signifikan bagi Tresna Art. Biro perjalanan wisata ramai-ramai membawa wisatawan lokal maupun mancanegara tak hanya melintasi jembatan terpanjang di Indonesia tersebut. Tapi juga mengenalkan sejumlah tempat wisata di Madura. Termasuk salah satunya singgah di Tresna Art.

“Kenaikan jumlah pengunjung yang datang ke galeri setelah dibukanya Jembatan Suramadu bahkan lebih dari 100 persen. Tentu saja saya senang. Karena sepulang dari sini mereka tentu akan bercerita tentang Tresna Art pada keluarga, teman, rekan kerja, dan lainnya,” kenang Supik dengan nada penuh semangat.

Kini pesona Tresna Art kian terpancar. Terbukti, pengunjung yang datang berasal dari lintas pulau di Indonesia. Tak terhitung pula pejabat, tokoh, pengusaha, serta artis yang pernah singgah. Pejabat dari sejumlah kedutaan pun bahkan menyempatkan waktu datang ke galeri ini mencari batik tulis Madura.

“Puteri Indonesia 2005 Nadine Candrawinata pernah berkunjung ke Tresna Art di tahun yang sama. Kedatangan beliau ke Bangkalan sebagai bintang tamu untuk memeriahkan malam final Pemilihan Duta Wisata Bangkalan 2006, atau yang dikenal dengan sebutan Kacong-Jebbing Bangkalan 2006,” ungkap Supik.

Untuk lebih menambah daya tarik, galeri Tresna Art mempersilahkan pengunjung memetik dan menikmati salak secara gratis. Namun tentu saja tergantung musim panen salak. Di setiap Sabtu dan Minggu pengunjung bisa menikmati makanan khas Bangkalan berupa soto jagung serta kursus singkat membatik gratis.

Aneka camilan khas Madura juga tersedia. Sebut saja kacang, lorjuk, otok, kripik gayam, emping, rengginang lorjuk, satru, ikan kering, dan kerupuk terung. Ragam kuliner yang ditawarkan, selain soto jagung, adalah topak ladeh, tajin peddis, minuman pokak. Hasil kerajinan berupa pecut, odeng, kaos loreng merah-putih, celana gombor hitam juga bisa dibawa pulang sebagai buah tangan. (AGUS HIDAYAT/AZT)

Editor: Aziz Tri P