Tresna Art: Citra Batik Tulis Madura (2-Habis)

Konsisten Jalankan Visi, Berdayakan 30 Pembatik

Di lemari inilah tersimpan koleksi batik tulis dengan corak serta motif kuno yang proses pewarnaannya dengan cara gentongan. Tak dijual, melainkan sebagai koleksi. FOTO: SUREPLUS/AGUS HIDAYAT

BANGKALAN-SUREPLUS: Melestarikan budaya Madura adalah visi yang dibangun Tresna Art. Segala bentuk apresiasi yang diterima dari banyak pihak merupakan buah dari konsistensi mereka menjalankan visi. Bicara batik tulis Madura tentu Tresna Art layak jadi kiblatnya.

Meski gempuran batik cap dan printing tak pernah surut, Supik Amin (57) sedikit pun tak bergeming. Tekadnya mempertahankan budaya Madura lewat batik tulis tak pernah luntur. Baginya, batik tulis bukan sekedar soal kualitas dan harga yang bisa mencapai jutaan rupiah.

Ada aspek lain yang bisa memutus mata rantai perekonomian jika batik tulis sampai tergerus zaman. Gambaran inilah yang tak ingin dilihat dan didengar oleh Supik. Madura akan kehilangan salah satu identitas yang sejauh ini melekat kuat. Batik tulis merupakan simbol sekaligus produk unggulan yang bernilai ekonomis bagi masyarakat Madura.

“Siapa lagi yang akan melestarikan batik tulis ini jika bukan orang Madura sendiri. Terdengar naif jika sampai orang luar Madura yang melakukannya. Tresna Art adalah ruang untuk mengenalkan budaya, khususnya batik tulias, pada mereka yang kurang akan referensi tentang Madura,” kata Supik Amin kepada Sureplus.id.

Batik tulis memang terkesan mahal. Namun rasanya sebanding dengan proses pembuatan yang memakan waktu berhari-hari. Harganya mulai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Sedangkan batik gentongan yang dibuat lewat proses agak berbeda hingga memakan waktu berbulan-bulan harganya dipatok jutaan rupiah.

“Saya menjalin kerjasama dengan 30 pembatik. Mereka yang mengerjakan batik tulis pesanan saya. Proses pengerjaan dari awal hingga akhir dilakukan di rumah masing-masing. Saya sendiri yang menentukan corak serta motif yang harus digambar. Selesai dikerjakan, batik pesanan tersebut ada yang saya ambil sendiri atau diantar langsung ke Tresna Art,” lanjut Supik Amin.

Konsep bangunan, tata ruang, serta dekorasi interior Tresna Art kental dengan nuansa budaya Madura. Konsep yang terkesan padat namun indah dilihat ini sengaja dibuat demi kenyamanan pengunjung selama berada di galeri. Sampai akhirnya mereka pulang dan meninggalkan kesan mendalam. Dan suatu saat nanti merindukan untuk kembali datang.

Pengunjung terlebih dulu harus melewati bagunan kecil yang tampak sebagai gazebo. Kemudian meniti jembatan kecil yang di bawahnya terdapat kolam berisi puluhan ikan koi berbagai ukuran. Jembatan kecil ini menjadi penghubung antara gasebo dengan galeri. Gazebo juga difungsikan sebagai ruang tunggu sopir.

Begitu memasuki galeri, pemandangan yang terlihat tak hanya batik. Bermacam barang seni khas Madura turut dipajang untuk menambah kesan eksotis. Sejumlah lemari bergaya kuno dari berbagai bentuk dan ukuran berdiri kokoh sebagai tempat menyimpan koleksi batik tulis. Di sisi timur ruang galeri berdiri lemari display ukiran gaya Madura. Secara tampilan, lemari ini jelas terlihat berbeda dengan lainnya.

Koleksi Batik Tulis Kuno

Model tempat tidur tempo dulu yang digunakan kaum bangsawan Madura. Berada di dalam ruang utama bangunan rumah adat Madura. FOTO: SUREPLUS/AGUS HIDAYAT

Pada salah satu lemari tersebut Supik Amin menyimpan koleksi batik tulis dengan corak dan motif yang tergolong lama atau kuno. Tidak untuk dijual, melainkan hanya sebagai koleksi. Bagi pecinta sekaligus kolektor batik, yang dilakukan Supik adalah upaya yang patut ditiru sekaligus diapresiasi.

“Dari lemari inilah saya bisa menjelaskan kepada pengunjung. Bukan hanya soal cara pembuatan, tapi juga sejarah dan perkembangan corak serta motif batik tulis Madura yang mengalami perubahan dari tahun ke tahun. Semua batik tulis yang tersimpan dalam lemari ini proses pewarnaannya dengan cara gentongan,” jelasnya.

Deretan piagam penghargaan dalam bingkai pigura yang diterima Tresna Art terpajang di tembok galeri. Menurut Supik, bentuk apresiasi tersebut didapat karena dedikasi serta konsistensi Tresna Art dalam upaya melestarikan batik tulis sebagai warisan budaya Madura.

Setelah bertransaksi di kasir usai mendapatkan batik yang diinginkan, pengunjung dapat menikmati pemandangan bagian belakang galeri, atau tepatnya belakang rumah tinggal. Bangunan terdekat pertama layaknya sebuah gazebo yang dikelilingi pepohonan rindang. Di sini pengunjung dapat bersantai sambil berfoto ria.

Bergeser ke utara akan terlihat dua bangunan bergaya kuno yang didominasi bahan kayu. Bangunan pertama adalah musholla, sedang kedua berbentuk rumah adat Madura. Pengunjung seolah diajak kembali ke masa lalu begitu memasuki kedua bangunan tersebut.

Satu set kursi kayu beserta meja marmer bulat berada di teras sisi selatan rumah adat Madura, serta sebuah lencak (balai) kayu yang terlihat kokoh disisi utara. Pemandangan di ruang utama terlihat berbeda. Sebuah tempat tidur kayu kuno langsung terlihat lantaran posisinya sejajar dengan pintu masuk. Dari bentuk dan ukiran jelas menandakan kalau dulunya tempat tidur ini bukan dipakai oleh kalangan rakyat biasa.

“Model tempat tidur ini digunakan oleh kalangan bangsawan Madura. Dan memang seperti itu cerita yang saya ketahui mengenai tempat tidur ini. Jadi termasuk barang bersejarah,” tutur Supik seraya tersenyum.

Musholla dan rumah adat Madura didatangkan dari Sumenep. Awalnya memang berbentuk bangunan jadi seperti sekarang. Setelah terjadi kesepakatan dalam proses tawar menawar, barulah kedua bangunan tersebut berpindah lokasi ke Tresna Art. Tentu saja dengan melepas rangkaian terlebih dahulu. (AGUS HIDAYAT/AZT)

Editor: Aziz Tri P