Lovebird Jebolan ‘Energy 9’ Masih Bisa Bersaing Kualitas di Pasar dan Gantangan

harga lovebird
Harga lovebird anjlok. FOTO: SUREPLUS/DONY MAULANA

SURABAYA-SUREPLUS: Menyikapi polemik harga lovebird semakin hari kian memprihatinkan. Harga burung dengan beragam varian warna ini terus anjlok, banyak peternak lovebird mulai ‘gulug tikar’ dan berganti usaha lainnya. Salah seorang peternak lovebird dari Surabaya, Nurul Paskar Pengkol mengakui, bahwa lovebird dengan basic warna saat ini harganya cenderung turun. Namun, anjloknya harga lovebird tersebut tidak mempengaruhi dirinya untuk tetap berternak lovebird.

“Tergantung dari kita bermain di basic yang mana, dalam dunia lovebird ada dua basic yaitu warna dan suara. Kalau dari yang saya tahu harga lovebird dengan basic warna memang lagi anjlok banget harganya, mungkin ini juga dampak dari semakin banyaknya peternak terutama di Pulau Jawa. Ditambah lagi para importir yang dengan gampang masukin lovebird dari luar,” terangnya saat diwawancarai Sureplus.id, Rabu (31/10).

Meskipun kondisi pasar lovebird saat ini sudah tidak lagi stabil, pemilik Ring Energy 9 ini tetap konsisten dengan hasil ternakannya. Hal tersebut dikarenakan Nurul bermain dibasic suara (untuk lomba kicau). “Saya selama ini hanya main di basic suara atau untuk gantangan lah. Karena saya rasa kompetisi di basic suara semakin booming, dan itu saya akui,” tegasnya.

Nurul menyebut bahwa harga lovebird yang sering menjuarai kompetisi kicau (gantangan), terkadang harganya sampai tidak bisa di nalar dengan logika akal sehat manusia. Hal itu dikarenakan harga burung juara tadi mencapai ratusan juta bahkan sampai milyaran. “Ini yang membuat saya kadang berpikir kalau tidak masuk akal harganya. Ditambah lagi semakin menjamur nya gantangan-gantangan baru yang semakin banyak. Jadi, kalau saya bermain di basic suara, saya rasa aman-aman saja,” jelas pria usia 33 tahun ini.

Pada basic suara, lanjut Nurul menjelaskan, lovebird dilihat berdasarkan kuwalitas suara (kekek’an) dan durasi lamanya burung tersebut bunyi panjang tanpa melihat warna dan jenisnya. Saat disinggung mengenai imbas dari anjloknya lovebird tersebut, Nurul juga mengakui kalau semua peternak khususnya basic suara terkena imbasnya. “Kalau imbas dari turunnya harga sih, jujur kita juga kena imbasnya. ini bisa kita lihat juga di grup jual-beli bahan suara. Banyak peternak yang saya lihat dalam grup itu, burung yang mereka jual asal laku,” akunya.

Namun demikian, Nurul memiliki sudut pandang yang berbeda mengenai itu. Sebagai peternak lovebird kuwalitas, Ia memiliki mindset yang tengah menjadi prinsipnya hingga saat ini. “Selama saya ada kuwalitas maka harga juga mengikuti. Terus terang saja dari bahan E9 saya patok harga yang lumayan, untuk kategori bahan lapangan mulai dari Rp 1 – 2,5 juta, karena dari kuwalitas induk memang sangat saya perhatikan, dan rata-rata indukan saya durasinya mencapai 1 menit ke atas. Dengan kuwalitas indukan seperti itulah di E9 bisa mengorbitkan burung dengan durasi yang bisa saya banggakan,” cetus peternak yang mulai terjun pada tahun 2009 ini.

Seperti diketahui, ada sekitar 50 – 70 ekor lovebird jebolan dari kandang Energy 9 (E9) yang menorehkan beberapa prestasi baik dalam kelas Latber (Latihan Bersama) maupun Latpres (Latihan Prestasi), bahkan ada pula beberapa lovebird yang sudah berada di podium event bergengsi diskala baik regional maupun nasional.(DONY MAULANA)