Kontribusi Ekspor Perhiasan Nasional Capai 2,7 Miliar Dolar AS

Kemenperin mendorong penguatan branding produk perhiasan Indonesia, agar lebih berdaya saing di tingkat global. Pada 2017, ekspor perhiasan nasional menyumbang 2,7 miliar dolar AS. Tampak salah satu pameran perhiasan di Surabaya. FOTO: SUREPLUS/AHMAD MUKTI

JAKARTA-SUREPLUS: Perhiasan merupakan salah satu komoditas andalan yang cukup berkontribusi terhadap peningkatan nilai ekspor nasional. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, pada tahun 2017 ekspor perhiasan menyumbang sebesar 2,7 miliar dolar AS.

“Sedangkan hingga September 2018, nilai ekspor perhiasan nasional sudah mencapai 1,4 miliar dolar AS,” kata Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kemenperin, Gati Wibawaningsih di Jakarta, seperti dikutip Sureplus.id dari kemenperin.go.id, Selasa (30/10/2018).

Kemenperin pun terus mendorong penguatan branding produk perhiasan Indonesia, agar lebih berdaya saing di tingkat global. “Kami memberi tantangan kepada para anggota Asosiasi Perhiasan Emas dan Permata Indonesia (APEPI) untuk secepatnya menciptakan branding perhiasan asli Indonesia yang lebih kompetitif di pasar internasional,” lanjut Gati.

Maka untuk menggenjot nilai ekspor perhiasan nasional, Kemenperin telah melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait agar produk perhiasan dari Indonesia tidak terkena tarif bea masuk di negara tujuan ekspor. Misalnya ke Turki dan Dubai sebagai negara yang potensial.

“Ekspor perhiasan kita banyak ke Dubai dan Turki, tetapi kita masih dikenakan tarif bea masuk ke sana sebesar 5 persen, sedangkan Singapura dikenakan bea masuk 0 persen ke Dubai,” kata Gati.

Menurutnya, Singapura bisa mendapatkan bea masuk 0 persen ke Dubai karena antara kedua negara memiliki perjanjian free trade agreement (FTA). Sementara Indonesia dengan Dubai belum ada FTA.

“Kami berharap, dengan nanti adanya FTA, tarif bea masuk 0 persen itu bukan hanya berlaku untuk perhiasan, tetapi juga komoditas lain,” paparnya.

Langkah strategis yang ditempuh Kemenperin, di antaranya memfasilitasi IKM perhiasan di dalam negeri ikut partisipasi pada pameran tingkat nasional dan internasional. Tujuannya, selain mempromosikan produk unggulan, juga memperluas jaringan pasar mereka hingga mampu ekspor.

“Termasuk ajang Surabaya International Jewelry Fair (SIJF) 2018 yang merupakan wujud kerja sama antara APEPI dengan Dewan Kerajinan Nasional Provinsi Jawa Timur. Kegiatan ini berlangsung 25-28 Oktober 2018 lalu di Grand Ballroom Shangri La Hotel, Surabaya,” katanya.

Pada tahun ini, Ditjen IKM Kemenperin memfasilitasi sebanyak 30 pelaku usaha tampil di SIJF 2018 untuk mempromosikan produk perhiasan dan aksesoris terbaik mereka, seperti, perak, emas, berlian, mutiara dan permata serta batu-batuan.

“Peserta ini memperkenalkan desain perhiasan terbarunya yang diproduksi melalui teknologi terkini, yang tentunya mengikuti tren saat ini,” imbuhnya.

Gati menambahkan, pihaknya memiliki program dan kegiatan untuk meningkatkan daya saing perhiasan nasional. Termasuk melalui pelatihan dan pendampingan tenaga ahli desainer, bantuan mesin dan peralatan khususnya di Unit Pelayanan Teknis (UPT), peningkatan keterampilan SDM melalui pendidikan dan pelatihan produksi, serta perbaikan iklim usaha terkait dengan regulasi di bidang fiskal untuk kemudahan impor bahan baku.

“Harapan kami tentu agar memberikan dampak positif, baik bagi pelaku industri perhiasan maupun masyarakat secara umum, melalui pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat secara luas,” lanjut Gati.

Sementar Industri perhiasan di Jatim juga mengalami pertumbuhan positif. Pada 2016 tercatat mengalami pertumbuhan 12 persen dan tahun 2018 diperkirakan masih berada di angka dua digit. (PRS/AZT)

Editor: Aziz Tri P