Industri Mamin Nasional Punya Daya Saing Global

Pameran Salon International de l’Alimentation (SIAL) Paris 2018 jadi salah satu ajang Indonesia mempromosikan produk-produk makanan dan minuman unggulannya ke pasar dunia. FOTO: SIALPARIS.FR

JAKARTA-SUREPLUS: Industri makanan dan minuman (Mamin) merupakan salah satu sektor andalan karena mampu memberikan kontribusi signifikan bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Maka itu, sektor ini diprioritaskan pengembangannya memasuki era revolusi industri 4.0 di Indonesia.

“Apalagi, industri makanan dan minuman nasional kini telah memiliki daya saing global,” kata Plt. Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin, Ngakan Timur Antara, di Jakarta.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) pun optimistis, implementasi Making Indonesia 4.0 mampu mengatrol ekspor makanan dan minuman olahan nasional hingga empat kali lipat, dari target tahun ini sekitar 12,65 miliar dolar AS yang menjadi sebesar 50 miliar dolar AS pada 2025.

“Apabila nilai ekspor produk makanan dan minuman, juga dihitung termasuk minyak kelapa sawit, pada tahun 2017 mencapai 31,7 miliar dolar AS,” ungkap Ngakan seperti dikutip Sureplus.id dari situs kemenperin.go.id, Selasa (30/10/s018).

Maka untuk memperluas jaringan pasar ekspor, Kemenperin aktif memfasilitasi industri nasional ikut serta dalam kegiatan pameran baik di dalam maupun luar negeri. Misalnya, melalui kerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Paris, sebanyak 18 pelaku usaha makanan dan minuman dari Indonesia dapat tampil pada ajang Salon International de l’Alimentation (SIAL) Paris 2018.

Paviliun Indonesia itu menempati area pameran seluas 180 meter persegi untuk mempromosikan produk-produk unggulannya kepada para pengunjung pameran makanan dan minuman yang digelar setiap dua tahun sekali ini. Kegiatan yang berlangsung pada 21-25 Oktober 2018 lalu ini dikunjungi sekitar 155.000 orang pengunjung dan melibatkan 7.020 peserta dari 109 negara.

“Ini kesempatan yang sangat bagus, karena merupakan salah satu pameran Business to Business (B2B) terbesar di dunia. Selain itu, sebagai bentuk nyata dukungan pemerintah kepada industri makanan dan minuman nasional untuk mengembangkan aksesnya ke pasar internasional,” lanjut Ngakan.

Direktur Akses Sumber Daya Industri dan Promosi Internasional Ditjen KPAII Kemenperin, Tony T.H Sinambela menyampaikan, proses seleksi calon peserta telah dilakukan mulai awal tahun ini melalui pendaftaran terbuka. “Aktivitas kurasi dilakukan dalam bentuk kunjungan langsung ke kandidat peserta untuk melakukan penilaian dengan melibatkan para ahli yang berkompeten,” tuturnya.

Lebih lanjut menurut Tony, perusahaan yang terpilih mendapatkan pelatihan dan pendampingan agar lebih siap dan maksimal dalam berpartisipasi di SIAL Paris 2018.

“Kami tak hanya menyiapkan pelaku industri agar maksimal di pameran, tetapi juga membantu dalam matchmaking dengan potential buyers. Dalam hal ini, kami menggandeng mitra internasional di Eropa, yaitu SIPPO Swiss yang memiliki hubungan dekat dengan para pelaku bisnis di Eropa” paparnya.

Pada pameran SIAL Paris 2018, Kemenperin membawa sembilan pelaku industri kecil dan menengah (IKM) sektor makanan dan minuman. Sembilan perusahaan lainnya merupakan binaan KBRI di Paris. “Mereka yang terseleksi berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, dan dengan keberagaman produk,” ujarnya.

Sebanyak 18 perusahaan Indonesia tersebut, yakni Mignon Sista Internasional (minyak esensial, biji vanilla, moringa, daun kari, jeruk purut), Kawanasi (fruit chips), Java Peppers Industries (cabai ceri, cabai rawit dan aneka sambal), Manna Anugrah Sejahtera (gula kelapa, gula arenga, sirup nektar organik), Karsa Abadi Madeteas (teh herbal), Hitara Cipta Selaras (black garlic), dan Biobali Internasional (minyak organik).

Selanjunya, Mitra Ayu Adi Pratama (ekstrak pandan, Mace oil and Mace oleoresin, minyak pala dan oleoresin, minyak lada hitam, minyak jahe dan Ginger Oleoresin, minyak Massoia, dan esktrak kopi), Pondok Daya (gula kelapa organik, kacang pili natural), Danora Agro Prima (spesialis produk cocoa), Siantar Top (makanan ringan), dan Javara (bumbu makanan, produk kelapa),

Kemudian ada juga Universal Trading (canned seafood), Nison Indonesia (canned seafood), Sari Segar Husada (produk kelapa), Coco Sugar Indonesia (gula kelapa), Mayora (makanan ringan dan kopi), dan Interaromat (makanan ringan, teh dan kopi).

Berdasarkan catatan Kemenperin, ekspor produk Mamin Indonesia ke Uni Eropa pada tahun 2017 mencapai 14 miliar dolar AS. Sementara periode Januari-Juli 2018, ekspor produk makanan dan minuman Indonesia ke Perancis pada tahun 2017 sebesar 8,21 juta dola AS. (PRS/AZT)

Editor: Aziz Tri P