Kartini, Pengrajin Topeng Kertas yang Masih Bertahan

Kartini sedang membuat topeng kertas tradisional di rumahnya. Bermodalkan kreativitas, ia sangat mahir melipat, mengelem dan memasangkan kertas pada pola dasar topeng. FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

SURABAYA-SUREPLUS: Kerajinan membuat topeng merupakan salah satu bentuk warisan seni budaya Indonesia yang hampir punah. Tapi bagi Kartini (68), pengrajin topeng tradisional dari kertas asal Surabaya, dengan gigih ia berkeinginan untuk tetap melestarikan budaya topeng tersebut.

Usianya memang renta, tetapi kelincahan tangan dan semangat menghidupi keluarga masih tetap ada. Setelah suami berpulang pada Februari tahun 2017, Kartini memutuskan untuk tetap meneruskan pembuatan topeng.

“Dulu kampung ini terkenal dengan produksi topengnya. Tetapi sekarang sudah punah, untuk itu saya ingin gencarkan lagi seperti apa kampung kita dulu,” ungkap Kartini kepada Sureplus.id, Senin (29/10/2018).

Sembari menempelkan kertas pada cetakan topeng, ia mengutarakan bagaimana keras usahanya untuk membeli kertas di kawasan Stasiun Semut seharga Rp 3.000 per kilo, menggunting, melakukan proses penempelan, mengeringkan serta mencetak 10 bahkan lebih karya topeng dalam sehari.

“Saya difasilitasi pemerintah mengajarkan pembuatan dasar topeng di balai pemuda untuk anak SD, tapi tidak boleh dijual karena bayaran saya dari pemerintah,” ujarnya sambil menggunting kertas.

Pembuatan topengnya tersebut tidak mengikuti harga pabrik saat ini. Ia menjual 200 buah topeng dengan harga Rp 10.000 per biji untuk didistribusikan ke pasar-pasar di Porong, Krian, dan Mojosari. Lain halnya dengan eceran, harga yang dipatok sebesar Rp 5.000 dengan pembeli datang ke rumahnya langsung.

“Untuk sekarang produk saya full face wajah manusia, kera, naga, macan, dan barbie,” terangnya.

Selama pengerjaan, ia dibantu oleh anakn serta cucunya. Terkadang Kartini bagian mencetak, anaknya menggunting helai kertasnya. Bahkan sesekali ia mengerjakan sendiri, saat sang anak masih sibuk mengurus rumah tangganya.

Ibu jebolan SGTK (sekarang SMP-red) tersebut mengaku sangat bergantung pada cuaca untuk produksi. Dirinya lebih bersyukur ketika hari panas dan terik dapat menjemur hasil tempelannya. Pernah beberapa kali ia telah mencetak tetapi cuaca mendung, dan ia terpaksa harus menunda pengiriman.

Diminati Luar Negeri

Topeng kertas berbentuk kepala hewan, karya Kartini yang baru dibuat dan siap diwarnai untuk kemudian dipasarkan. FOTO: SUREPLUS/DEWID WIRATAMA

“Waktu itu menjelang tahun 2000, saya bekerja sama dengan seseorang dari Australia untuk membuat beberapa kodi topeng buat dikirim langsung ke sana,” ujarnya sambil mengubah posisi duduk.

Ia mengisahkan nikmatnya bekerja untuk orang dari luar Indonesia. Pihak Australia sangat disiplin waktu dalam bekerja. Misalkan, pengiriman sudah tepat waktu, Kartini akan mendapatkan bonus lima persen di akhir bulan.

Tetapi jika pengiriman terlambat, pembayaran juga terlambat atau bahkan tidak dibayar sama sekali. Wanita yang telah memiliki cucu ini juga sempat ditawari untuk berangkat ke Negeri Kanguru tersebut demi memudahkan proses distribusi.

Tawaran tersebut ia tolak, dengan dalih ia ingin mengembangkan usaha kerajinan topengnya tersebut di Indonesia dulu. Tak hanya itu, Ia juga mengisahkan bagaimana dosen Austria pernah mengunjunginya. “Waktu itu dosen sama mahasiswanya datang langsung dari Austria minta diajarin bikin topeng,” ujarnya terkekeh.

Kartini juga berharap agar kerja kerasnya melestarikan budaya topeng ini akan dilihat masyarakat Indonesia. “Setidaknya ini budaya dari waktu ke waktu semoga ya tetap ada sampai kapan pun,” tutupnya. (DEWID WIRATAMA/AZT)

Editor: Aziz Tri P