Disabilitas Tak Surutkan Semangat Sofiyah Terus Berkarya

Sofiyah sedang membatik di stan Tresna Art. Walau dengan satu tangan, tak sedikitpun terlihat canggung disaksikan banyak orang. FOTO : SUREPLUS/AGUS HIDAYAT

BANGKALAN-SUREPLUS: Usai membuka secara resmi Pekan Raya Bangkalan 2018 pada Sabtu sore (13/10/2018), Bupati RKH. Abdul Latif Amin Imron (Ra Latif) beserta istri, Zainab Latif, berkesempatan meninjau seluruh stan peserta pekan raya. Tresna Art menjadi stan pertama yang dikunjungi. Gelaran ini berlangsung 13-20 Oktober 2018.

Sebelum memasuki stan Tresna Art untuk melihat dari dekat dekorasi, interior, serta produk yang ditampilkan, Zainab Latif seketika berjongkok dan menyelami dua wanita yang tengah membatik. Salah satunya bernama Sofiyah (35). Dan ternyata (maaf) Sofiyah membatik dengan satu tangan. Keahlian membatik dengan tangan kiri yang dilakukan Sofi, demikian biasa dipanggil, mengundang perhatian sekaligus kekaguman.

Tak ada kesan canggung yang terlihat. Canting berisi cairan malam atau lilin ia pindahkan pada kain hingga membentuk motif. Garis demi garis ia goreskan, satu demi satu bagian dari motif ia tebalkan. Kedua kakinya dijadikan tumpuan agar kain yang dibatik tidak terlipat. Saat itu ia tengah mengerjakan motif slipet (tikar).

“Senang sekali bisa bertemu dan bersalaman langsung dengan istri bupati. Saya kira langsung masuk stan, ternyata lebih dulu menyapa saya,” ujar Sofi seraya menjabarkan momen tersebut dengan dua kalimat singkat.

Sofi adalah salah satu dari puluhan, bahkan ratusan, pebatik asal Tanjungbumi. Seperti diketahui, Tanjungbumi adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Bangkalan yang tersohor karena geliat masyarakatnya yang hingga kini tetap melestarikan batik sebagai produk seni budaya lokal yang telah mendapat apresiasi nasional.

Saat Sureplus.id mengajaknya berbincang sebelum acara pembukaan dimulai, wanita berusia 35 tahun ini awalnya terkesan malu. Namun lambat laun rasa itu sirna. Sambil terus membatik, Sofi menjawab dengan tenang satu per satu pertanyaan yang terlontar disertai balutan senyum khasnya.

“Sejak dalam kandungan saya telah kehilangan tangan kanan. Umur sembilan tahun saya mulai tertarik belajar membatik. Namun ayah saya tak mengizinkan. Saat beliau tak dirumah barulah saya mencuri waktu belajar membatik,” ungkap Sofi yang menamatkan pendidikan formal hingga jenjang sekolah dasar (SD).

Kesibukan Sofi tak bisa dipisahkan dari batik. Sehari-hari ia menghabiskan waktu di rumah hanya untuk membatik. Tentu saja membantik tak cukup diselesaikan hanya dalam sehari. Jika motif pesanan yang diminta tergolong biasa, Sofi bisa menyelesaikan hingga lima kain dalam sebulan. Bila motifnya tergolong sulit, dirinya hanya bisa menyelesaikan dua hingga tiga kain.

“Saya tak mau menerima uang sebelum pengerjaan batik selesai. Termasuk juga uang muka sebagai tanda jadi. Itu prinsip yang saya terapkan. Saya tak mau mengecewakan pemesan. Ketika pesanan datang dan menanyakan kapan selesai, saya harus memberi kepastian,” tegasnya.

Rutinitas membatik terkadang membuatnya jenuh. Ketika rasa itu datang, ia hanya bisa bergumam dalam hati sambil mencari cara untuk mengusirnya. Namun rutinitas itulah yang justru jadi modal sekaligus keahliannya untuk terus menyambung hidup.

Baginya, mengeluh bukanlah cara menyelesaikan masalah. Dari ucapan yang terlontar dan gerakan bahasa tubuh, menunjukkan kalau ia tergolong sosok penyabar. “Saya kenal Sofi sejak lama. Barulah di tahun 2009 ia mau menerima ajakan saya membatik di Tresna Art. Secara personal orangnya baik, jujur, serta mampu menjalankan amanah,” ungkap Supik, pengelola Tresna Art.

Membatik di Tresna Art menjadi salah satu cara mengusir rasa jenuh. Pekerjaan di luar rumah ini ia lakukan setiap Sabtu dan Minggu, mulai pukul delapan pagi hingga empat sore. Di galeri yang menyediakan aneka batik, souvenir, serta camilan khas Madura tersebut ia bisa bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang, termasuk pengunjung yang datang.

Wanita bersuamikan seorang pria guru ngaji ini belum genap setahun membina mahligai rumah tangga. Sang suami mendukung penuh pekerjaan membatik yang telah puluhan tahun ditekuni Sofi. (AGUS HIDAYAT/ZAL)

Editor: Fahrizal Arnas