No Bra Day dan Kanker Payudara

International No Bra Day. FOTO : dribble.png

No Bra Day atau Hari Tanpa Bra, mula-mula diperingati pada tahun 2011, dimana sejumlah perempuan menggelar aksi kampanye dengan menggunakan tagar #nobraday. Peringatan ini, berawal dari gagasan Mitchell Brown, seorang dokter bedah asal Toronto, Kanada, dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran publik akan bahaya kanker payudara, dan mengedukasi perempuan akan pilihannya ketika harus menghadapi mastektomi.

Menurut data Departemen Kesehatan, kasus kanker payudara menempati urutan kedua setelah kanker serviks sebagai penyakit kanker dengan prevalensi tertinggi di Indonesia. Bahkan dalam 10 kasus kanker yang ditangangi oleh Rumah Sakit Dharmais, kanker payudara berada di urutan teratas. Data tahun 2010 menunjukkan 711 kasus, dan mengalami peningkatan pada tahun 2011 dan 2012 menjadi 769 dan 809 kasus, dengan angka kematian 120-130 penderita setiap tahun.

Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), mengungkapkan, jumlah penderita kanker payudara di negara berkembang saat ini nyaris mencapai 700 ribu orang dengan angka kematian sebanyak 30 persen. Padahal, 98 persen penderita kanker payudara bisa selamat jika melakukan deteksi dini.

Tingginya angka kematian biasanya disebabkan karena para perempuan tidak menyadari dirinya mengidap kanker payudara. Mereka baru sadar ketika kondisinya sudah mencapai stadium lanjut. Karenanya, tingkat kesembuhan pun menjadi lebih kecil.

Meski 90% benjolan pada payudara bukan kanker, tanda pertama yang umum dialami pada banyak perempuan dengan kanker payudara adalah adanya benjolan atau bagian yang menebal di payudara mereka; perubahan besar/ukuran dan bentuk dari satu atau kedua payudara; adanya cairan keluar dari puting payudara (cairan tersebut bisa bercampur darah); benjolan/tumor atau pembengkakan di bawah ketiak; bagian kulit payudara yang tertarik ke dalam; ada bagian yang bekerut seperti kulit jeruk; terdapat bercak, mengelupas, menyerpih, atau bersisik pada atau sekitar puting susu; puting susu kelihatan berubah, misalnya kelihatan seperti tertarik masuk kedalam payudara; dan rasa sakit pada payudara atau daerah di bawah ketiak yang tidak ada hubungannya dengan masa haid/menstruasi.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mendeteksi kanker payudara secara dini. Salah satunya adalah dengan memeriksa sendiri (SADARI) payudara kita secara teratur sebulan sekali. Menurut para ahli, waktu paling baik untuk memeriksa payudara dilakukan pada hari ke-7 sampai hari ke-10 dihitung dari hari pertama haid. Adapun bagi yang sudah mengalami menopause, pemeriksaan dilakukan pada tanggal yang sama setiap bulan, semisal setiap tanggal tujuh.

Cara lainnya, adalah dengan mamografi. Menurut pakar Onkologi Medis dari Singapura Dr Khoo Kei Siong, mamografi sangat berguna digunakan mendeteksi kanker payudara sejak dini, bahkan bisa lebih presisi jika dibandingkan dengan SADARI.

Hubungan Bra dan Kanker Payudara

Sebuah penelitian yang dilakukan Centre Hospitalier Universitaire di Besancon, Prancis terhadap 330 wanita usia 18 hingga 35 selama 15 tahun menunjukkan tidak adanya pengaruh positif dalam penggunaan bra secara fisik, baik pada pembentukan dada, mengurangi sakit punggung, atau mencegah kendurnya payudara. Bahkan para peneliti menemukan bahwa jaringan payudara, terutama pada wanita muda, akan tumbuh lebih baik bila tidak mengenakan bra. Peneliti menemukan fakta bahwa wanita yang berhenti menggunakan bra, payudaranya lebih terangkat dibandingkan mereka yang masih mengenakan bra.

Penelitian lainnya di Inggris menunjukkan hal serupa. Melansir Daily Mail, penelitian terhadap 100 wanita pra-menopause oleh University Hospital of Wales di Cardiff dan Frenchay Hospital Bristol mendapati jumlah hari bebas sakit naik tujuh persen pada wanita yang tidak mengenakan bra. Peneliti meminta responden untuk beraktivitas tanpa bra selama tiga bulan dan dengan bra tiga bulan kemudian untuk direkam perbedaannya. Wallahualam.

Hari ini, 13 Oktober 2018, di usianya yang ketujuh, No Bra Day diperingati di mana-mana. Dan bagi anda yang turut memperingatinya, tentu tidak harus dengan cara menanggalkan bra lalu turun ke jalan mengkampanyekan bahaya kanker payudara, seperti yang terjadi di negara lain. [Fahmi Faqih]