Waroeng Kopi Kayu Mas Hangatkan Jatim Fair 2018

 Didik Suryadi (kanan) menjelaskan seputar kopi serta usaha Waroeng Kopi Kayu Mas. Sementara Rian Efendi (kiri) tengah asyik membuat kopi untuk dihidangkan pada dua pengunjung wanita. FOTO : SUREPLUS/AGUS HIDAYAT

SURABAYA-SUREPLUS : Langkah kaki terhenti sejenak saat berjalan melintas di stan Kabupaten Situbondo dalam gelaran Jatim Fair 2018 di Grand City. Ada pemandangan menarik di stan yang berada di lantai tiga. Seorang barista mendemonstrasikan cara meracik dan membuat kopi.

Stan Kabupaten Situbondo  seolah terbagi dua. Satu sisi dipenuhi aneka produk unggulan lokal. Mulai dari asesoris, camilan, olahan, hingga buah mangga segar. Sedang satu sisi lagi diisi aneka macam kopi hingga peralatan untuk menghasilkan kopi siap minum. Pada dinding stan terdapat logo melingkar bertulisan ‘Waroeng Kopi Kayu Mas’ serta gambar cangkir berasap yang tentunya berisi kopi.

“Silahkan dicoba kopinya. Bisa langsung diminum. Cukup bayar seikhlasnya,” ujar Didik Suryadi dengan suara sedikit lantang. Disebelahnya, tangan cekatan barista Rian Effendi memproses kopi mentah menjadi kopi siap minum. Selama gelaran Jatim Fair 2018, Didik yang mengendalikan sekaligus memperkenalkan Waroeng Kopi Kayu Mas kepada pengunjung.

Nama Waroeng Kopi Kayu Mas sendiri tak bisa dipisahkan dari sejarah. Kayu Mas adalah nama sebuah desa di Kecamatan Arjasa, Kabupaten Situbondo, yang sejak zaman penjajahan Belanda hingga kini merupakan desa penghasil kopi kualitas dunia. Namun sayang, kopi Kayu Mas terasa asing bagi warga Situbondo sendiri. Kopi jenis arabica asal Kayu Mas justru dikenal di Belanda. Hasil produksi dibawa ke Belanda, untuk kemudian dipasarkan ke negara-negara Eropa.

“Dari fakta sejarah itulah kemudian kami berinisiatif mendirikan warung kopi ini lewat Kelompok Tani Sejahtera. Dengan harapan para pecinta kopi dari mana saja bisa menikmati rasa kopi arabica Kayu Mas yang berkualitas ekspor, telah bersertifikat organik, namun dijual dengan harga lokal,” tegas Didik kepada Sureplus.id, Kamis (11/10/2018).

Kelompok Tani Sejahtera yang berdiri tahun 2008 beranggotakan 23 orang. Masing-masing anggota mempunyai lahan atau kebun kopi sendiri, yang jika ditotal mencapai 50 hektar. Menurut Didik, yang menjabat sekretaris Kelompok Tani Sejahtera, pengetahuan yang harus dipunyai para anggota tak hanya sebatas menanam, merawat, dan panen kopi.

“Lebih dari itu. Mereka saya ajak untuk mengenal bagaimana cara budidaya yang baik, yang harus dilakukan pasca panen, cara meningkatkan produksi, cara mengsangrai kopi, membuka peluang usaha lewat kedai kopi, serta menjadikan kebun kopi sebagai destinasi wisata,” ungkap Didik.

Dikatakan Didik, hambatan awal yang dialami adalah kurang ketersedianya tenaga penggarap lahan. Kini hambatan tersebut teratasi dengan cara merekrut remaja putus sekolah ataupun para pengangguran, khususnya yang ingin mengenal dan belajar tentang kopi.

Waroeng Kopi Kayu Mas berlokasi di Jalan Raya Asembagus, yang merupakan pintu gerbang timur Kota Situbondo. “Kami telah melebarkan sayap dengan membuka di tiga tempat yang berbeda. Kini Waroeng Kopi Kayu Mas bisa dijumpai di Besuki, Baluran, serta di Situbondo kota,” pungkasnya. (AGUS HIDAYAT/ZAL)    

Editor: Fahrizal Arnas