Isuk Tempe Sore Dele

Isuk tempe sore dele”, begitulah istilah orang Jawa ketika menggambarkan karakter seseorang yang mencla-mencle atau tak punya pendirian. Akan tetapi yang kerap terlewat dalam penggunaan istilah ini, adalah soal ekspektasi. Artinya ia tidak sekadar perkara inkonsistensi, tapi juga nilai. Bayangkan saja, pagi hari sudah jadi tempe (produk), lha kok sorenya malah kembali jadi kedelai (bahan baku).

Celakanya, prilaku semacam ini tidak hanya terjadi di level masyarakat bawah, tapi juga di kalangan elit dan pengambil kebijakan. Peristiwa yang masih hangat tentu saja kasus RS yang ngaku digebukin tapi kemudian bilang kalau dirinya berbohong; dari yang mulanya mendapat simpati, terjun bebas ke kubangan caci-maki.

Pada pidato pembukaan Konferensi Asia Afrika 22 April 2015, di antara sekian masalah yang disoal presiden Jokowi, adalah persoalan IMF — saya kutipkan di sini:

Ketidakadilan global juga terasa ketika sekelompok dunia enggan mengakui realita dunia yang telah berubah. Pandangan yang mengatakan bahwa persoalan ekonomi dunia hanya bisa diselesaikan oleh Bank Dunia, IMF dan ADB adalah pandangan yang usang yang perlu dibuang.”

Lalu di paragraf berikutnya beliau melanjutkan:

“Saya berpendirian pengelolaan ekonomi dunia tidak bisa hanya diserahkan kepada ketiga lembaga keuangan internasional itu. Kita wajib membangun sebuah tatanan ekonomi baru yang terbuka bagi kekuatan-kekuatan ekonomi baru. Kita mendesak dilakukannya reformasi arsitektur keuangan global untuk hilangkan dominasi kelompok negara atas negara-negara lain. “

Pidato yang berani itu, mendapat apresiasi luar biasa dari puluhan kepala negara dan delegasi-delegasi anggota KAA yang hadir. Seluruh ruangan dipenuhi gemuruh tepuk tangan. KAA seperti menemukan kembali spirit perlawanan 1955 ketika pertama kali Bung Karno mencetuskan gagasan membangkitkan kesadaran bangsa-bangsa Asia dan Afrika untuk mendapatkan hak hidup sebagai bangsa merdeka yang menolak ketidakadilan, yang menentang segala bentuk imperalisme itu.

Tapi apa lacur, kebanggaan kita sebagai bangsa yang merasa telah benar-benar memiliki pemimpin yang akan membawa negeri ini menuju kemandirian sebagaimana tercermin dalam pidato presiden Jokowi di KAA tiga yang lalu itu, kembali nyungsep ke dalam sikap ‘duli tuanku’ dengan menerima penunjukan sebagai tuan rumah pelaksaan IMF-WB Annual Meetings 2018 di Nusa Dua Bali, yang dimulai hari ini.

Tempe pagi hari kita memang telah berubah menjadi kedelai di sore hari. Dan celakanya, kedelainya pun harus kita impor dari luar negeri. [Cak Suri]