Dolar AS Menguat, Harga Parcel Buah Impor Mujiati Tetap

Mujiati, penjual buah impor di Jalan Veteran Kota Kediri, mengaku, akibat dolar AS meningkat, pihaknya terpaksa tidak mencari untung besar, demi mempertahankan jumlah pembeli, di gerainya, di Kota Kediri, Senin (8/10/2018). FOTO: SUREPLUS/AYU CITRA SR

KEDIRI-SUREPLUS: Ketika kurs dolar Amerika Serikat mengalami kenaikan hingga di posisi terkuatnya, sejumlah penjual buah impor di Kediri memilih enggan menaikkan harga buahnya.

Seperti yang dialami oleh Mujiati, salah satu penjual parcel buah impor, di Jalan Veteran, Kota Kediri. Perempuam berhijab ini mengaku, penguatan harga dolar Amerika Serikat memang berdampak negatif terhadap penjualannya. Bahkan, berpengaruh terhadap meningkatnya dana yang digunakan untuk kulakan di Pasar Grosir Ngronggo Kota Kediri.

Jika dibanding harga normal, saat ini harga buah impor di pasar tersebut mengalami peningkatan hingga 10 persen, dimana kenaikan harga buah di Pasar Grosir Ngronggo meningkat hingga Rp 100.000 per kardus.

“Sebelum Dolar AS meningkat, biasanya saya kulakan buah apel atau pir seharga Rp 300.000 per kardus. Namun, dengan Rupiah makin melemah, harganya makin naik hingga Rp 400.000 per kardus,” kata Mujiati, penjual parcel buah impor, di Kota Kediri, Senin (8/10/2018).

Pada kondisi normal saja, ungkap dia, setiap penjual buah impor juga selalu was-was saat membeli buah dalam partai besar. Situasi ini, karena tatkala membeli di penjual grosir, pihaknya tidak bisa sepuasnya memilih buah yang diinginkan.

“Kalau beli grosiran, per kardus misalnya, saya tidak leluasa memeriksa kondisi buah yang mau dibeli. Minimal, hanya bisa mengecek buah sebanyak dua tingkat dari atas, lalu untuk isi buah di tingkat terbawah, ya kadang dapat bagus, kadang tidak (busuk),” katanya.

Meski demikian, demi mempertahankan konsumen yang ada, pada saat ini perempuan berusia 40 tahun ini,  lebih memilih tidak menaikkan harga jual buah. Apalagi mendapatkan pembeli buah di kawasan ini cenderung sulit.

Dalam menjual buahnya, untuk satu paket parcel, saat ini tetap dijualnya seharga Rp 10.000 Rupiah. Yang mana, per kemasan paket buah ini berisikan 3 buah.

Untuk satu kemasan ini, bisa berupa satu jenis buah saja ataupun dapat dikombinasi. Misalnya konsumen bisa memilih hanya satu buah apel, pir, anggur, serta mencampur tiga jenis buah sekaligus.

“Dalam satu hari, biasanya dapat terjual hingga puluhan paket parcel,” katanya.

Terkait pembeli, lanjut Mujiati, umumnya konsumen buah jenis ini meluas di berbagai lapisan masyarakat. Mulai dari anak sekolah hingga kalangan dewasa, terutama ibu-ibu pengajian, dan penyelenggara hajatan.

“Kadang ada pula, keluarga yang menggelar upacara perkawinan, juga datang ke gerai saya, untuk beli dalam partai besar. Biasanya buat souvenir atau istilah di desa, ‘asul-asul’,” katanya.

Sampai sekarang, dalam memasarkan produk yang dikemas sendiri tersebut, pihaknya dibantu keluarga dan suami tercinta. Alhasil, hingga kini ada sejumlah lapak yang dibukanya di pinggir jalan. Misalnya di Jalan Veteran, hingga di depan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kediri di Jalan Jaksa Agung Suprapto. (AYU CITRA SR/ZAL)

Editor: Fahrizal Arnas