The International Monetary Fund (IMF); Antara Misi dan Kontroversi (1)

1947: The opening meeting of the International Monetary Fund at the Institute of Civil Engineers in London. FOTO : GALLO/GETTY

Juli 1944, menjelang berakhirnya perang dunia kedua, perwakilan negara-negara yang terlibat dalam peperangan seperti Amerika Serikat, Inggris Perancis, Rusia, dan beberapa negara lain, mengadakan pertemuan di Bretton Woods, Amerika Serikat, untuk membicarakan rencana pembangunan ekonomi pasca perang serta penyusunan tata kelola sistem keuangan global. Dari sinilah cikal bakal institusi multi nasional Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund) atau yang disingkat IMF terbentuk.

Organisasi internasional ini bertujuan mempererat kerja sama moneter global, memperkuat kestabilan keuangan, mendorong perdagangan internasional, memperluas lapangan pekerjaan sekaligus pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, dan mengentaskan kemiskinan di seluruh dunia.

Ketika pertama kali diresmikan tahun 1945, institusi multi negara ini beranggotakan 29 negara. Namun seiring perkembangannya kemudian, keanggotaannya bertambah menjadi 189 negara.

Struktur Organisasi dan Penentuan Keanggotaan

Struktur organisasi IMF dipimpin oleh dewan gubernur yang terdiri dari seorang gubernur, wakil gubernur, serta perwakilan masing-masing anggota. Sementara untuk kepengurusan harian, tugas-tugas dewan gubernur didelegasikan kepada dewan direksi yang terdiri 24 orang dengan delapan anggota perwakilan tetap yaitu Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Jerman, Perancis, Cina, Rusia, dan Arab Saudi, serta 16 perwakilan lain yang dipilih secara bergantian setiap dua tahun.

Dalam menentukan hak keanggotaan, IMF menetapkan kriteria tertentu yang dinamakan kuota yang ditentukan oleh seberapa besar skala perekonomian nasional suatu negara yang tercermin dalam produk domestik bruto, neraca perdagangan, serta cadangan devisa. Kuota ini juga ikut menentukan hak suatu negara dalam pengambilan keputusan serta akses dana pinjaman (Brown, M. the International Monetary Fund, Advocates for International Development, 2012).

Saat ini, dibanding anggota-anggota lain, Amerika Serikat memiliki kuota tertinggi. Selain itu, Amerika Serikat menjadi satu-satunya pihak yang memiliki hak veto dalam pengambilan keputusan. Dominasi inilah yang kemudian menimbulkan pandangan bahwa keputusan IMF sarat dengan kepentingan Amerika Serikat.

Pelaksanaan Misi

Dalam melaksanakan misinya, IMF memiliki beberapa tugas pokok; mengawasi kondisi moneter dan keuangan negara anggota serta perekonomian global pada umumnya, memberikan bantuan finansial (financial assistance) kepada negara anggota yang membutuhkan, dan menyediakan bantuan teknis (technical assistance).

Untuk pengawasan terhadap kondisi moneter dan keuangan, dalam periode tertentu secara rutin IMF mengirimkan perwakilannya untuk melakukan penelitian (surveillance) pada setiap negara anggota. Kebijakan fiskal dan moneter, tingkat suku bunga, stabilitas makroekonomi, kebijakan ekonomi terkait, seperti peraturan perburuhan, perdagangan, dan jaringan pengaman sosial, merupakan hal-hal yang masuk dalam cakupan penelitian.

Selanjutnya, setiap semester, IMF juga menerbitkan laporan analisis sistem perekonomian global dalam tajuk World Economic Outlook, disamping menurunkan laporan lain menyangkut stabilitas sistem keuangan dan moneter, salah satunya adalah Global Financial Stability Report.

Bantuan Finansial

Untuk bantuan finansial (financial assistance) kepada negara anggota yang mengalami permasalahan dalam neraca perdagangan, utang yang menjelang jatuh tempo, atau ketika mengalami krisis peekonomian domestik, IMF menerapkan syarat-syarat tertentu sebagai prosedur yang harus dipenuhi oleh negara penerima bantuan, yang mana syarat-syarat tersebut tertuang dalam penandatanganan kesepakatan yang dikenal dengan nama ‘letter of intens’.

Akan tetapi dalam praktiknya, persyaratan ini sering memicu kontoversi dan terjadinya perdebatan karena adanya keharusan mengakomodasi kebijakan IMF yang memunculkan kesan bahwa IMF mencampuri urusan rumah tangga negara debitur.

Adapun untuk bantuk  teknis (technical assistance), IMF menyediakan jasa konsultasi dan pelatihan yang dilakukan para ahli di bidangnya (fiskal, moneter, ekonomi pembangunan, dll) kepada negara anggota dalam rangka meningkatnya stabilitas makroekonomi. [Fahmi Faqih]