Václav Havel dan Revolusi Beludru

Revolusi Beludru – FOTO : i.redd.id

Ketika kata ‘revolusi’ disebut, yang umumnya muncul di benak kita adalah sederet peristiwa kekerasan. Bagaimana tidak, ini soal penggulingan kekuasaan. Tapi apa yang terjadi di Cekoslowakia sejak 17 November hingga 29 Desember 1989 yang dikenal sebagai Revolusi Beludru (Velvet Revolution), menumbangkan anggapan itu—revolusi tak lagi identik dengan pertumpahan darah. Karenanya membicarakan Václav Havel sebagai tokoh revolusi yang dicatat tinta emas sebagai sebuah revolusi elegan, tidaklah berlebihan.

Dilahirkan pada 5 Oktober 1936 di lingkungan borjuis Praha, Cekoslowakia, Václav Havel adalah seorang pemimpin politik Cekoslowakia—sekarang Republik Ceko—paling berpengaruh. Ia dikenal pendiri Charta 77, sebuah organisasi antikomunisme di Cekoslowakia.

Jika melihat secara singkat latar belakang kehidupannya, dapat dikatakan bahwa Havel tidak membangun kariernya sebagai politikus dan diplomat sejak awal. Ia adalah seniman murni, seorang sastrawan. Namun, ketika rezim komunis yang berkuasa waktu itu telah memporakporandakan tatanan kehidupan Cekoslowakia, ia tak bisa tinggal diam. Universitas Praha, yang sebelum Perang Dunia Kedua terkenal sebagai salah satu universitas terbaik di Eropa, menurun kualitasnya. Kehidupan ekonomi yang merosot drastis karena rezim komunis Cekoslowakia — atas nama Pemerintah Uni Soviet — merubah sistem produksi negara sehingga persediaan bahan pokok makanan tak lagi mencukupi kebutuhan rakyat, adalah kenyataan yang membuatnya bangkit untuk melawan.

Tentu kita tidak hendak mengatakan bahwa runtuhnya negara-negara komunis di Eropa yang ditandai dengan diruntuhkannya Tembok Berlin tahun 1991 yang dimulai dengan kebangkitan rakyat Cekoslowakia itu, karena Havel seorang. Akan tetapi keberhasilan Havel menghidupkan kembali kebudayaan dan spiritualitas masyarakat Cekoslowakia yang lumpuh akibat komunisme, memang patut dicontoh.

Havel tidak membakar amarah rakyat yang berakibat pada perlawanan fisik. Pidatonya menggugah kesadaran bahwa kerusakan yang terjadi bukan semata-mata kesalahan para pemimpin yang bekerjasama dengan Uni Soviet saja. Seluruh bangsa harus memikul tanggung jawab atas situasi itu.

Dengan pendirian semacam itu, Havel terus mendorong rakyat agar integritasnya kembali tegak hingga kemampuan kultural mereka dapat dimanfaatkan secara penuh. Dan penting diketahui, bahwa Havel dan kawan-kawan membutuhkan waktu puluhan tahun untuk mengubah gerakan moral menjadi gerakan politik.

Hasilnya, residen Gustáv Husák mengundurkan diri dari jabatan dan menunjuk pemerintah non-komunis untuk kali pertama sejak 1948. Untuk menjalankan pemerintahan sementara, Alexander Dubček—bekas sekjen PKC dan tokoh dalam pemberontakan 1968—terpilih sebagai anggota parlemen federal pada 28 Desember. Sehari kemudian, pada tanggal 29 Desember 1989, Václav Havel mengisi posisi Presiden Cekoslowakia. (ff)