Kenaikan Harga Makanan Jadi Picu Inflasi Kota Kediri

Nasrullah (kiri), Kepala Tim Advisory dan Pengembangan Ekonomi Bank Indonesia Kediri, menyampaikan berbagai indikator penyebab inflasi di Kota Kediri selama September 2018, dalam siaran persnya, di Kediri, Kamis (4/10/2018). FOTO: SUREPLUS/AYU CITRA SR

KEDIRI-SUREPLUS : Pada bulan  September 2018, Kota Kediri mengalami inflasi 0,20 persen (month to month). Besaran ini meningkat daripada bulan sebelumnya, yakni 0,10 persen. Situasi ini, umumnya terdorong oleh kenaikan harga makanan jadi, hingga meningkatnya biaya pendidikan di Kota Kediri.

Menurut Kepala Tim Advisory dan Pengembangan Ekonomi Bank Indonesia Kediri, Nasrullah, inflasi pada September 2018 didorong oleh meningkatnya tekanan inflasi inti dan administered prices. Kondisi ini seiring dengan kenaikan biaya pendidikan dan berlanjutnya penyesuaian harga rokok.

“Namun tertahan oleh koreksi harga pangan, menyusul meningkatnya pasokan beberapa komoditas volatile foods, terutama daging ayam ras, tomat sayur dan bawang merah,” kata Kepala Tim Advisory dan Pengembangan Ekonomi Bank Indonesia Kediri, Nasrullah, di Kediri, Kamis (4/10/2018).

Kelompok volatile foods, ungkap dia, pada bulan September lalu mengalami deflasi 1,11 persen dengan kontribusi -0,19 persen. Yang mana, situasi ini menahan laju inflasi secara keseluruhan. Deflasi ini, terutama bersumber pada koreksi harga daging ayam ras akibat peningkatan produksi di daerah sentra.

“Terlebih lagi, hal ini juga seiring meningkatnya populasi DOC siap panen pada September 2018. Di samping itu, implementasi larangan penggunaan Anti Growth Promotor (AGP) berdampak pada meningkatnya kesehatan ternak, sehingga kondisi ternak lebih optimal yang selanjutnya meningkatkan produksi,” katanya.

Di sisi lain, deflasi volatile foods yang lebih dalam tertahan oleh kenaikan harga beberapa komoditas lain, terutama beras. Sementara, inflasi inti tercatat sebesar 0,50 persen dengan kontribusi 0,31 persen terhadap inflasi September 2018.

Inflasi inti, terutama didorong oleh kenaikan biaya pendidikan jenjang SMA dan akademi, maupun Perguruan Tinggi, yang sejalan dengan adanya penyesuaian biaya pada tahun akademik 2018/2019. Hal ini juga sesuai pola normal pada awal tahun akademik, di mana pada tahun 2018 kenaikan tersebut tercatat pada bulan September.

Tren kenaikan biaya pendidikan yang tercatat pafa September,  juga tercermin pada tahun sebelumnya yaitu pada September 2016 dan September 2017.

Di lain pihak, tekanan inflasi inti juga didorong oleh kenaikan harga makanan jadi. Khususnya harga kue basah dan roti manis,  seiring dengan kenaikan harga bahan baku utama yaitu tepung terigu.

“Kondisi ini terjadi sebagai pengaruh tekanan nilai tukar Rupiah terhadap produk impor, termasuk gandum yang merupakan bahan baku pembuatan tepung terigu,” katanya.

Dia melanjutkan, komponen administered prices mengalami inflasi 0,40 persen dengan kontribusi 0,08 persen terhadap inflasi periode laporan September 2018. Inflasi ini juga terlihat didorong, oleh berlanjutnya kenaikan harga rokok kretek filter dan rokok kretek sebagai dampak penyesuaian bertahap oleh pelaku usaha dalam rangka mempertahankan margin laba. Khususnya, di tengah tantangan kenaikan tarif cukai 2018 dan kenaikan biaya produksi lainnya.

Di sisi lain, prospek inflasi IHK Kota Kediri pada tahun 2018 masih terkendali di bawah sasaran inflasi nasional sebesar 3,5 persen plus minus 1 persen (yoy). Ke depan, koordinasi kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia yang tergabung dalam Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dalam mengendalikan inflasi akan terus diperkuat, sebagai antisipasi meningkatnya harga komoditas menjelang akhir tahun 2018. (AYU CITRA SR/ZAL)

Editor: Fahrizal Arnas