Hadrah dan Selawat Iringi International Tour de Banyuwangi Ijen

Etape kedua International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) 2018, dibuka dengan selawat yang diiringi musik hadrah, Kamis (26/9). FOTO: SUREPLUS/HENDRO SUCIPTO

BANYUWANGI-SUREPLUS: Etape kedua International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) 2018, dibuka dengan selawat yang diiringi musik hadrah, Kamis (26/9).‎

‎Etape kedua mengambil titik start di Stasiun Kalibaru. Sepanjang persiapan lomba hingga pemberangkatan peserta di depan Stasiun Kalibaru, alunan selawat dan musik hadrah terus berkumandang.

Commissaire 3 dari perwakilan federasi balap sepeda internasional – UCI, Tsunenori Kikuchi, turut menabuh rebana, bersama dengan pemain hadrah di atas panggung. Saking asyiknya, Kikuchi manggut-manggut meski tak mengerti apa yang dinyanyikan vokalis rebana ini.

“Balap sepeda internasional di dunia dan di negara manapun tidak ada pembukaan acara dilakukan dengan Shalawat. Baru ada di Banyuwangi ini,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, saat memberangkatkan peserta di Stasiun Kalibaru.

Menurut Anas, dikumandangkannya selawat di pembukaan etape kedua itu, sebagai bentuk mengangkat adat lokal di Banyuwangi. Tak hanya itu, shalawat, kata Anas, merupakan media persatuan dan kesatuan bangsa.

“Menurut KH Hasyim Wahid, pendiri NU, olahraga, budaya dan dan agama menjadi satu napas rakyat Indonesia. Makanya kami praktikkan sekarang ini, dan berhasil,” ujarnya.

Dalam ajang ITdBI berbagai adat, seni dan budaya Banyuwangi disuguhkan di start dan finish. Untuk etape kedua, selain shalawat juga disuguhkan tari Jakripah, Tarian Barong khas Banyuwangi. Sementara di finish, juga digelar musik hadrah dan gamelan using.

Tak hanya itu, di sejumlah titik yang dilalui pembalap, masyarakat juga antusias menyambut pembalap yang melintasi daerahnya. Berbagai atraksi seni ditampilkan, mulai dari Barong, musik tradisional, hingga Gandrung nampak menyambut para pembalap.

International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) 2018 merupakan event sport yang dibalut pariwisata. Pada ajang ini, Banyuwangi sengaja memperkenalkan kecantikan alam, seni dan budayanya, lewat etape-etape yang akan dilalui para pesertanya.

‎Diawali dari depan Stasiun Kalibaru, para pembalap akan memasuki area persawahan saat memasuki wilayah Kecamatan Tegalsari. Rider juga melintasi kelokan sungai-sungai di wilayah Kecamatan Bangorejo.
Melewati permukiman padat, pasar, perkebunan jati, karet dan tebu di Kecamatan Tegaldlimo. Selanjutnya, para rider akan melalui rute flat menuju finish di depan Kantor Pemkab Banyuwangi.

“Saat start dari Kalibaru, para pebalap akan menikmati udara sejuk dan lansekap Gunung Raung saat melewati perkebunan kopi dan kakao,” kata Anas saat mberangkatkan peserta.

Stasiun Kalibaru merupakan salah satu stasiun tertua di Banyuwangi, dibangun sejak jaman penjajahan Belanda.
Kecamatan Kalibaru merupakan kecamatan di ujung barat kabupaten berjuluk The Sunrise of Java ini yang berada di bawah kaki Gunung Raung yang berhawa sejuk.

Kalibaru juga dikenal sebagai sentra kerajinan alat masak berbahan dasar aluminium dan stainless steel. Beragam peralatan masak mulai dandang, wajan, panci, sutil, oven kue, kompor, hingga tudung saji diproduksi oleh warga di salah satu dusun yang dikenal dengan Desa Sayangan.

“Desa Sayangan ini unik karena hampir seluruh warganya berprofesi sebagai pengrajin alat masak dan sudah turun temurun hingga tiga generasi. Potensi inilah yang ingin kami kenalkan dalamnajang ITDBI ini,” kata Anas. ‎(HENDRO SUCIPTO/ZAL)

Editor: Fahrizal Arnas