Sewarsa Moeljo, Padukan Citarasa Kopi dan Literasi

Penari dari komunitas Indonesia Timur di Surabaya. FOTO: Saprol AWS

Oleh Aditya Poundra *

16 September 2017, adalah hari bersejarah bagi Kedai Kopi Moeljo. Bertekad menciptakan ruang berekspresi bagi generasi muda, Bagus Priambodo sang pemilik mencoba mengejawantahkan budaya ‘ngopi’ masyarakat Surabaya dengan memadukan gairah gerakan literasi.

Dalam perayaan satu warsa Kedai Kopi Moeljo Sabtu malam (15/09/2018), digelar acara diskusi dan berbagai pertunjukan kesenian.

Mengambil tema besar ‘Menyeduh Indonesia,’ Kedai Kopi Moeljo mencoba menghadirkan perspektif bahwa proses menimba ilmu pada era sekarang tak melulu berbicara pada sekat atau ruang-ruang terbatas seperti kelas, seminar, atau kampus saja.

Dengan pembicara M. Zurqoni pemilik Warung Mbah Cokro dan Ivana Kurniawati penggiat Aliansi Literasi Surabaya, diskusi tadi malam ternyata mampu menyedot animo yang luar biasa bagi masyarakat, khususnya kalangan anak muda.

Zurqoni, dalam diskusinya mengingatkan arti penting menjaga dan memelihara proses dialektika di dalam merawat konsumen. “Proses kultural inilah yang kemudian mampu diterima dengan baik oleh para pelanggan atau konsumen,” jelasnya.

Senada dengan Zurqoni, Ivana Kurniawati menambahkan bahwa keberadaan ruang publik seperti kedai kopi ataupun warung kopi, menjadi penting kehadirannya ketika melihat perkembangan pembangunan infrastruktur kota saat ini, semakin tak bersahabat dengan manusia.

“Terlebih ketika tempat tersebut (kedai kopi) memiliki semangat dan tujuan yang positif untuk mencerdaskan generasi bangsa melalui gerakan literasi, upaya untuk menjaga kelangsungan hidup dengan seluruh aspek nilai yang ada di dalamnya, harus terus diperjuangkan,” tegasnya.

Ditemui dalam waktu yang berbeda, Bagus Priambodo menyatakan, ia tak sekedar berbicara mengenai profit dalam rumus menjalankan bisnis Kedai Kopi Moeljo.

“Lebih dari itu, dengan semangat literasi yang menjadi salah satu konsep kedai kopi kami, kami berharap akan lahir generasi muda yang cerdas, progresif, kritis, dan peduli terhadap persoalan-persoalan yang terjadi di tengah masyakarakat,” ujarnya.

Selepas acara diskusi, para pengunjung dan masyarakat di sekitar Jl. Taman Apsari juga dihibur dengan pertunjukan dari grup musik Ombak Ombak Kecil yang digawangi oleh Syarif Wadja Bae sebagai vokalis, dan Anton ‘Sempak’ selaku gitaris, dengan membawakan tiga lagu karya original mereka, dan kelompok penari dari Indonesia Timur yang ada di Surabaya.

Suasana Kedai Kopi Moeljo FOTO : Saprol AWS

Saprol, salah satu pelanggan Kedai Kopi Moeljo, ketika ditemui seusai acara mengatakan, konsep urban begitu kentara ketika ‘ngopi’ di sini.

“Letaknya yang berada di tepi jalan, persis lalu lalang kendaraan, membuat saya menangkap kesan urban yang berbeda dengan warkop yang lainya, dan ini menjadi ciri khas tersendiri yang memiliki nilai jual bagi kelangsungan Kedai Kopi Moeljo,” tuturnya.

Semarak acara perayaan satu warsa Kedai Kopi Moeljo ditutup dengan pembacaan puisi oleh dramawan asal Bandung, Totenk MT Rusmawan.

“Perjalanan satu tahun ini memiliki arti sangat penting bagi Kedai Kopi Moeljo. Tidak hanya sekadar mensyukuri kesuksesan yang telah diraihnya, tapi juga menegaskan kembali komitmen yang menjadi harapan bersama untuk terus konsisten menciptakan dan merawat semangat positif generasi muda dan masyarakat demi turut berperan aktif mencerdaskan kehidupan anak bangsa.” tukasnya. [Ed. Fahmi Faqih]

*) Aditya Poundra, Jurnalis dan Aktivis Teater Lingkar Surabaya