Muara Bengawan Solo, Tempat Wisata Baru di Gresik

Pengunjung tempat wisata baru di Gresik, Muara Bengawan Solo. FOTO : SUREPLUS/ALI ZAINI

GRESIK-SUREPLUS : Gresik selama ini identik dengan wisata religinya yang sudah terkenal di masyarakat. Namun, dibalik itu Gresik ternyata ada wisata baru lagi. Wisata Muara Bengawan Solo namanya, atau lebih dikenal dengan MBS yang berada di Desa Pangkah Wetan, Kecamatan Ujungpangkah, Gresik.

Tempat wisata tersebut tidak hanya menawarkan sisi sungai muara Bengawan Solo. Namun, juga ada hutan mangrove serta spot selfie dan fishing area (tempat pemancingan).

Perjalanan ke tempat wisata MBS memakan waktu kurang lebih 1,5 jam dari Kota Gresik. Melintasi Jalan Daendels, infrastruktur menuju ke MBS tidak ada kendala. Pasalnya, jalan ke tempat wisata tersebut sudah beraspal mulus meski ada jalan paving yang bisa dilewati kendaraan roda empat. Saat di lokasi tujuan, ada tempat penjualan tiket untuk menyewa jasa perahu motor. Per kepala pengunjung, dikenai tiket Rp 30 ribu untuk rombongan minimal 30 orang, dan Rp 300 ribu untuk tiket menyewa perahu motor.

Usai membeli tiket, pengunjung diantar dengan menggunakan perahu motor menuju ke tempat wisata MBS. Perjalanan dengan menggunakan perahu motor dibutuhkan waktu 30 menit. Selama perjalanan melintasi muara Sungai Bengawan Solo. Pengunjung bisa melihat langsung muara yang terbagi dua. Di sisi utara menuju ke laut, dan sisi selatan menuju ke sungai terpanjang di Pulau Jawa itu.

Sampai di lokasi usai menambatkan perahu motor, di sebuah pulau kecil yang dikelilingi hutan mangrove sudah disulap menjadi tempat berselfie ria bagi pengunjung.

“Dulu pandangan orang Sungai Bengawan Solo identik dengan bahaya, dan banjir. Tapi, saat ini identik itu kami balik ada berkah bagi masyarakat sekitar. Salah satunya, menjadi obyek wisata keluarga maupun para petualang,” ujar Kepala Desa Pangkah Wetan, Syaifullah Mahdi atau lebih akrab dipanggil Sandi, Sabtu (15/09/2018).

Diakui Sandi, tidak mudah merubah image masyarakatnya yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan. Namun, dengan pendekatan kekeluargaan. Akhirnya masyarakatnya mau diajak mengembangkan potensi desanya selain diluar nelayan.

“Kami akui pengembangan wisata MBS masih terus dilakukan secara bertahap mengingat butuh anggaran yang cukup besar. Untuk pengembangannya, dana yang dipakai berasal dari alokasi dana desa (ADD) serta CSR dari salah satu perusahaan migas,” tuturnya.

Kedepannya lanjut Kades yang energik itu, wisata MBS lebih difokuskan pada jasa wisata. Mulai dari edukasi mengenai hutan mangrove, outbond, camping area, dan jasa persewaan perahu motor melintasi muara Sungai Bengawan Solo. Tidak lupa juga kuliner khas Desa Pangkah Wetan.

“Kami juga akan membangun semacam menara di tepi hutan mangrove buat berselfie ria dengan pemandangan kapal yang sedang melintas. Ada juga Pulau Kerasa’an atau Bahasa Jawanya kerasan merupakan pulau seluas 200 meter persegi berasal dari endapan pasir yang terbawa arus Sungai Bengawan Solo. Pulau ini berada di tengah-tengah laut dan akan kami kemas dengan kegiatan seperti senam bersama, maupun festival layang-layang,” ungkap Sandi.

Salah satu pengunjung asal Cerme, Gresik, Saiful Anam (23) mengatakan, wisata MBS sangat menarik karena di tempat tersebut yang ditawarkan bukan hanya hutan mangrove saja. Melainkan sangat cocok sebagai tempat berkumpul semacam balai.

“Saya dengar juga di MBS rencananya juga akan dibangun semacam jogging track yang melingkar. Kalau terwujud akan sangat menarik lagi karena pengunjung disuguhi pemandangan laut lepas dengan lalu-lalang kapal melintas serta burung bangau putih beterbangan,” katanya.

Hal yang sama dikatakan oleh Sholihul Huda pengunjung asal Perum Bunder Asri Gresik. Menurutnya, wisata MBS berbeda dengan tempat lainnya. Bedanya, di MBS banyak ikon wisata yang ditawarkan mulai dari wisata alam hingga kuliner khasnya. “MBS memang beda dengan yang lain rugi jika tidak berkunjung kesana,” tandasnya menutup pembicaraan. (ALI ZAINI/HDL)

Editor : Hendro D. Laksono