Tidak Hanya Anak, Perempuan juga Rentan jadi Perokok Pasif

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise mengingatkan, 33 persen siswa laki-laki dan 17 persen dari seluruh jumlah siswa di Indonesia, merokok untuk pertama kali pada usia di bawah 13 tahun. FOTO : KEMENPPPA.GO.ID

NUSA DUA-SUREPLUS : Meski industri rokok disebut sebagai salah satu sumber utama pemasukan kas negara melalui cukai, pemerintah terus mengingatkan perlunya mengantisipasi dampak rokok bagi masyarakat. Khususnya permepuan dan anak-anak.

“Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), telah menetapkan pengendalian rokok sebagai salah satu program prioritas,” tegas Menteri PPPA
Yohana Susana Yembise, seperti ditulis dalam siaran persnya, Jumat (14/9/2018).

Dijelaskan, berdasar data Kementerian Kesehatan 2017, jumlah anak yang terkena dampak bahaya rokok di Indonesia cukup memprihatinkan. Sebanyak 2 hingga 3 dari 10 anak Indonesia usia 15-19 tahun merupakan perokok aktif.

“Jumlah perokok di bawah usia 18 tahun juga meningkat dari 7,2 persen pada 2013 menjadi 8,8 persen pada 2016. Fakta yang juga mengkhawatirkan, 34,71 persen anak usia 5-17 tahun diketahui menghisap lebih dari 70 batang rokok perminggu,” paparnya saat memberikan sambutan dalam 12th Asia Pacific Conference on Tobacco or Health (APACT12th) di Nusa Dua, Bali.

Forum ini sendiri mengangkat tema ‘Pengendalian Tembakau untuk Pembangunan Berkelanjutan: Memastikan Lahirnya Generasi Sehat’. Acara ini digelar sebagai bentuk komitmen negara-negara Asia Pasifik dalam upaya pengendalian tembakau yang semakin mengkhawatirkan khususnya di Indonesia.

Menteri Yohana menambahkan, sekitar 33 persen siswa laki-laki dan 17 persen dari seluruh jumlah siswa di Indonesia, merokok untuk pertama kali pada usia di bawah 13 tahun, umumnya di bangku sekolah dasar. Selain itu, sekitar 49 persen atau 43 juta dari total 87 juta anak di Indonesia telah terpapar asap rokok atau perokok pasif.

Sekitar 11,4 juta atau 27 persen di antaranya, merupakan anak berusia di bawah 5 tahun atau balita. “Tembakau maupun rokok merupakan zat berbahaya, yang berdampak buruk bagi kesehatan anak di masa depan, bahkan dapat menyebabkan kematian. Dampak penggunaan rokok akan dirasakan 15-20 tahun mendatang, saat anak menginjak usia produktif,” ingat Menteri Yohana.

Berdasar data Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia, 2018, sebanyak 225.700 orang meninggal dunia setiap tahun akibat rokok di Indonesia, dan 7 persen di antaranya, atau sekitar 15.844 orang adalah perempuan.

“Hal ini membuktikan bahwa tidak hanya anak, perempuan juga termasuk kelompok rentan, yang menjadi second-hand smoke atau perokok pasif dan berisiko sama bahayanya dengan first-hand smoke atau perokok aktif. Untuk itu, perlindungan terhadap dampak tembakau tidak hanya ditargetkan kepada anak, tetapi juga kepada perempuan,” ujarnya lagi.

Untuk itu, Kemen PPPA terus mendorong pemenuhan hak dan perlindungan khusus anak serta meningkatkan peran perempuan dalam pembangunan berkelanjutan melalui pengarusutamaan gender dan pengarusutamaan hak anak.

Mengingat perempuan merupakan kunci dalam mencetak generasi emas yang sehat dan berdaya saing di masa mendatang, perempuan harus berdaya dan mampu melindungi diri maupun anak dan keluarganya dari bahaya rokok. (PRS/HDL)

Editor : Hendro D. Laksono