Sukarno M Noor, Aktor Watak Legendaris

Sukarno M Noor dalam Senyum di Pagi Bulan Desember (1974). FOTO: Mubi.com

Andai hari ini masih hidup, usianya 87 tahun. Sepanjang karir keaktorannya, 68 judul film lebih telah ia bintangi sebagai pemeran utama, sekitar 30 judul film sebagai pemeran figuran, 20 judul drama, dan tiga kali terpilih sebagai Aktor Terbaik dalam Festival Film Indonesia (Piala Citra), masing-masing dalam film Anakku Sajang (1960), Dibalik Tjahaja Gemerlapan (1967), dan Kemelut Hidup (1979).

Menurut catatan Sastrawan S.M. Ardan dalam Jejak Seorang Aktor Sukarno M. Noor (2004), Sukarno M Noor dilahirkan di Kampung Rawabangke, Jakarta pada 13 September 1931 dari pasangan suami istri asal Minang, Mohammad Noer dan Janiah. Sang Ayah adalah seorang wartawan-nasionalis yang bekerja di Harian Pemandangan, salah satu koran populer di masa pergerakan nasional. Ketika masih berusia dua tahun, ayahnya meninggal. Ibunya membawanya pulang ke kampung halaman dan membesarkan Soekarno dan saudaranya di sana.

Perkenalan Sukarno dengan seni peran berawal di masa SMP sewaktu bersekolah di Pematang Siantar dan berlanjut setelah kembali ke Jakarta. Di Jakarta, Sukarno mengasah bakat seninya bersama seniman-seniman Senen seperti penyair Chairil Anwal, Asrul Sani, Misbah Yusa Biran, dll. Untuk menyambung hidup sebelum mendapat tawaran bermain film, Sukarno sempat menjadi tukang pos di Pos Telepon dan Telekomunikasi (PTT).

Peran yang kemudian membesarkan nama Soekarno M Noor, dirintis melalui pementasan Runtuhan pada 1953. Di tahun itu pula, lewat film Meratjut Sukma, Sukarno bermain sebagai figuran untuk pertama kalinya. Adapun peran utama baru dia dapatkan di film ‘Gambang Semarang’ (1955).

Mungkin lantaran di masa kesenimanannya di masa lalu pernah turut serta dalam film-film karya seniman Lekra (Lembaga Kebudajaan Rakyat) yang berafiliasi dengan PKI seperti Bachtiar Siagian dan Basuki Efendie, berapa tahun lalu ada isu bahwa Sukarno pernah menjadi anggota Lekra. Akan tetapi, isu tersebut dibantah oleh Rais Am Syuriah PBNU, KH Ma’ruf Amin. Kyai Amin menegaskan, Sukarno bukanlah anggota Lekra. Sukarno adalah orang NU, bahkan aktif di Lembaga Seni dan Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) yang merupakan bagian dari Nahdlatul Ulama bersama Asrul Sani dan Jamaludin Malik.

Screen persona Sukarno di dunia film memang selalu total dalam menghadirkan karakter di setiap lakon yang diperankan. Keberadaanya kerap melintas batas-batas genre dan bahkan ideologi politik para seniman semasanya.

Di era Orde Baru, Sukarno juga tetap bermain baik dalam film-film serius maupun film-film pop. Pada semua film yang digeluti, ia tak pernah kehilangan penjiwaan. Sukarno M. Noor wafat pada 26 Juli 1986. Film terakhirnya adalah Opera Jakarta karya sutradara Sjuman Djaya. Di antara film-film yang mempertontonkan perannya yang apik sebagai aktor watak adalah Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982), Di Balik Tjahaja Gemerlapan (1966), Senyum di Pagi Bulan Desember (1974), Raja Jin Penjaga Pintu Kereta (1974), Pagar Kawat Berduri (1962). [Fahmi Faqih]