Kerupuk Klenteng Rasa Asli, Bisnis Renyah Sejak 1929

Usai mencetak adonan dan dijemur sesuai bentuk dan ukuran, kerupuk kemudian digoreng dan dimasukkan mesin perontok. Tahap produksi ini terus digunakan di Pabrik Kerupuk Klenteng Rasa Asli Bojonegoro selama puluhan tahun. FOTO : SUREPLUS/HENDRO D. LAKSONO

BOJONEGORO-SUREPLUS: Dari sisi depan, bangunan lawas di kawasan Jl Jaksa Agung Suprapto 132, Bojonegoro ini nampak sepi. Begitu masuk dari sisi kiri, melewati lorong kecil, kita langsung disuguhi aktifitas produksi kerupuk legendaris khas Bojonegoro.

Inilah rumah produksi Kerupuk Klenteng Rasa Asli, salah satu pabrik kerupuk paling populer di Bojonegoro. Hingga kini, masih mengandalkan resep sang pendiri, Tan Tjian Liem, yang memperkenalkan kerupuk abang-ijo ini sejak 1929.

“Kami mulai memproduksi sejak pagi. Sekitar jam tujuh,” kata Nanik Krisianti, pemilik usaha yang kini dikenal sebagai salah satu produk oleh-oleh khas Bojonegoro ini.

Perempuan 73 tahun ini menjelaskan, dalam sehari, awak Kerupuk Klenteng mesti menyiapkan adonan, mengolahnya jadi krupuk mentah cetakan, mengkukus, menjemur, hingga menggoreng.

“Kalau musim kemarau seperti ini bisa menjual 1 kwintal kerupuk. Paling apes ya 50 kilogram. Kalau pas hari istimewa seperti Idul Adha bisa lebih,” jelas pengusaha generasi ke-tiga Kerupuk Klenteng ini. Satu kilogram kerupuknya dibandrol Rp 27 ribu.

Pembeli, kata Nanik, datang dari banyak tempat. Baik dari Bojonegoro sendiri, atau dari kota-kota lain seperti Surabaya, Tuban, Lamongan, dan masih banyak lagi. “Saya nggak hapal,” katanya pendek.

Sehari-hari, Nanik kebagian tugas melayani pembeli. Sementara Anton, anaknya, generasi ke-4 pengusaha Kerupuk Kelenteng, fokus pada pengembangan bisnisnya.

Lewat Anton, produksi kerupuk tradisional ini dikembangkan dalam kemasan dan branding yang jauh lebih modern. Semisal dengan pembuatan logo, plastik untuk wadah kerupuk, jenis-jenis kerupuk, bahkan penggunaan internet untuk promosi.

Anton juga terbuka pada peluang dan trend. Semisal, ia membuka perusahaannya untuk komunitas yang datang buat memotret atau jalan-jalan.

Semangat kearifan lokal tumbuh dan mengakar di bisnis ini. Semisal, penggunaan nama ‘abang-ijo’, masih melekat di merek yang dibawa. Di sisi lain, Kerupuk Klenteng juga tetap patuh menggunakan standar kesehatan.

“Untuk zat pewarna tetap ikut aturan. Kami pakai pewarna kue. Menggoreng juga tidak menggunakan minyak yang sudah menghitam. Jadi anak-anak tidak batuk,” jelas Nanik.

Nama klenteng digunakan tentu karena alasan, rumah usaha mereka terletak tidak jauh dari Klenteng Hok Swie Bio, tempat ibadah Tri Darma. (HDL)

Editor : Hendro D. Laksono