Riwayat Devaluasi

Devaluasi. FOTO: SUREPLUS/AKBAR INSANI

Devaluasi adalah istilah yang dikaitkan dengan menurunnya nilai mata uang dalam negeri terhadap mata uang luar negeri. Jika hal tersebut terjadi, biasanya pemerintah melakukan intervensi agar nilai mata uang dalam negeri tetap stabil. Sudah berapa kali kah Indonesia kita melakukan devaluasi?

Pertama kali, terjadi di masa pemerintahan Soekarno. Melalui menkeu Syafrudin Prawiranegara (Masyumi, Kabinet Hatta RIS) pada 30 Maret 1950 devaluasi dilakukan bahkan dengan cara ekstrem dengan menggunting uang kertas bernilai Rp 5 ke atas sehingga nilainya berkurang separuh. Tindakan ini dikenal dengan nama “Gunting Syafrudin”.

Lalu yang kedua, masih di masa pemerintahan Soekarno, terjadi pada 24 Agustus 1959. Melalui Menteri Keuangan yang dirangkap oleh Menteri Pertama Djuanda, nilai mata uang Rp 1.000 yang bergambar gajah diturunkan menjadi Rp 100, dan uang Rp 500 yang bergambar macan, diturunkan menjadi Rp 50. Waktu itu, pemerintah juga melakukan pembekuan terhadap semua simpanan di bank-bank yang melebihi jumlah Rp 25.000.

1966, ketika Negara Sekutu mengembargo Indonesia karena Soekarno menentang pembentukan negara boneka (Malaysia) di kawasan Asia Tenggara oleh Inggris dan Amerika, devaluasi kembali dilakukan. Waperdam III Chairul Saleh terpaksa mengganti uang lama Rp 1000 dengan uang baru senilai Rp. 1 yang akibatnya terjadi inflasi sampai 650%. Puncaknya, Supersemar dikeluarkan, dan semakin mengukuhkan konfrontasi Soeharto sejak menolak dipanggil ke Halim oleh Panglima Tertinggi pada 1 Oktober 1965.

Di masa pemerintahan Soeharto—walaupun Soeharto selalu berpidato tidak ada devaluasi—devaluasi terjadi bahkan sampai empat kali yaitu dua kali melalui Menkeu Ali Wardhana (21 Agustus 1971 dan 15 November 1978), dan dua kali melalui Radius Prawiro (30 Maret 1983 dan 12 September 1986). Ketika devaluasi keempat 12 September 1986, besarannya 47%, dari Rp 1.134 ke Rp 1.664 per 1 dolar AS. [Fahmi Faqih]