Warga Gresik Sulap Limbah Sarung Jadi Kerajinan Cantik

Dari produk sarung afkir yang tak bisa diolah, warga Warga Desa Klampok, Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik, mengolahnya menjadi handicraft dan penghias peralatan rumah tangga. FOTO : SUREPLUS/ALI ZAINI

GRESIK-SUREPLUS : Warga Desa Klampok, Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik, punya kreatifitas tersendiri. Dengan berbekal limbah sarung, warga setempat bisa menyulap menjadi aneka kerajinan rumah tangga.

Sebelumnya, Desa Klampok memang sudah dikenal sebagai salah satu sentra industri sarung dari alat tenun bukan mesin (ATBM). Kualitas produksinya memang tidak diragukan lagi.

Maklum, hampir semua warga dari kedua di desa tersebut menjadikan rumahnya sebagai tempat pembuatan sarung. Kenyataan ini diakui oleh Ngadi (51). Salah satu warga yang mengoperasika ATBM di rumahnya.

“Sebanyak 930 kepala keluarga yang ada diwilayah ini berusaha pada industri sarung tenun,” ujarnya pada Sureplus.id, Jumat (7/09/2018).

Sarung yang dihasilkan lanjut Ngadi, setiap harinya mampu menghasilkan 12 kodi saring. Dari jumlah itu, ada 6 potong kain sarung yang diafkir.

“Untuk yang afkiran ada beberapa yang masih dimanfaatkan untuk sarung anak-anak atau sebagai bahan baju. Namun, ada yang tidak bisa dipakai sama sekali. Yang tidak bisa dipakai banyak sekali mas karena tidak ada harganya seringkali hanya sebagai sampah,” ujarnya.

Dari sisa limbah industri pembuatan sarung tenun tersebut. Warga Desa Klampok tertantang untuk memanfatkan pembuatan handicraft dan menghias peralatan rumah tangga dengan kain sarung.

“Terkait dengan kerajinan ini. Kami bekerjasama dengan salah satu lembaga kursus dan pelatihan untuk menyulap limbah ini menjadi barang yang punya nilai ekonomis,” ungkap Ngadi.

Rupanya, respon masyarakat setempat untuk ikut pelatihan ini sangat bagus. Tak hanya para ibu, tetapi juga remaja putri dan bapak-bapak. Hal ini karena adanya bahan baku limbah kain sarung yang melimpah.

Dari limbah industri sarung itu, barang yang dihasilkan dibutuhkan oleh banyak orang. Contohnya, bross, tempat tissue, taplak kulkas, taplak meja, menghias rak mini minumam gelas, pelapis gelas dan toples serta berbagai barang yang banyak kita jumpai sehari hari.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Gresik, Agus Budiono mengatakan, sarung tenun ATBM ini merupakan produk khas Gresik yang sudah ditetapkan oleh pemerintah pusat.

“Kementerian Perindustrian menerbitkan surat penetapan Kompetansi Inti Industri Daerah (KIID) nomor 95 tahun 2015 bahwa Gresik sebagai sentra sarung tenun ATBM. Di Jawa timur hanya ada 5 daerah yang mendapatkan KIID, tentu dengan sentra produk yang berbeda,” tandasnya.

Agus mengungkapkan, pihaknya kedepan akan memikirkan industri sarung tenun ATBM ini yang tidak hanya dipakai untuk sarung. Tapi bisa dipakai untuk mendukung industri
yang lain misalnya sebagai bahan pakaian jadi dan kerajinan yang lain.

“Kami masih menggunakan sarung tenun sebagai bahan baku utamanya. Tapi, juga menjajaki terobosannya bagaimana dimanfaatkan untuk industri kerajinan,” pungkasnya. (ALI ZAINI/HDL)

Editor: Hendro D. Laksono