Petani Gresik Kirim Beras Medium Ke Jabodetabek

Melalui Toko Tani Indonesia (TTI) Center dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), petani di Gresik menjual beras medium ke pasar Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). FOTO : SUREPLUS/ALI ZAINI

GRESIK-SUREPLUS : Petani Gresik melalui Toko Tani Indonesia (TTI) Center di Jakarta, serta Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) menjual beras medium ke pasar Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Tahap awal pengiriman perdana sebanyak 20 ton berasal dari Gapoktan Desa Kedungrukem, Kecamatan Benjeng, dan Desa Wahas, Kecamatan Balongpanggang.

Plt Kepala Dinas Pertanian (Distan) Gresik, Eko Anindito Putro mengatakan, untuk pengiriman pertama masih 50 persen dari alokasi yang ditargetkan.

“Mestinya tahun kami ditarget 40 ton. Namun, setelah ada kesepakatan dari Pihak Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur maka pengiriman TTI Kabupaten Gresik ke Jabodetabek hanya 30 ton. Sisanya, yang 10 ton untuk kebutuhan pasar lokal Gresik dan Jawa Timur,” ujarnya pada sureplus.id, Kamis (6/09/2018).

Ia menambahkan, program pengembangan usaha pangan masyarakat, atau yang dikenal di Kabupaten Gresik dilaksanakan di empat desa dengan dua macam komoditi. Pertama, komoditi beras dilaksanakan di Desa Kedungrukem Benjeng dan Wahas Balongpanggang. Sedangkan komoditi cabe dilaksanakan di Desa Pengalangan Menganti, dan Desa Tenaru Driyorejo.

“Komoditi cabe kami ditarget 35 ton untuk di kirim ke Jabodetabek,” tambahnya.

Program pengembangan usaha pangan masyarakat, atau yang dikenal dengan TTI ini dibiayai oleh dana APBN. Alokasi dana program TTI tahun 2018 di Gresik sebesar Rp 640 juta yang terbagi pada setiap Gapoktan masing-masing sebesar Rp 160 juta. Rinciannya, untuk permodalan sebesar Rp 100 juta dan untuk biaya operasional sebesar Rp 60 juta.

Dalam program ini memang harga produksi dibeli dengan harga lebih tinggi oleh pihak TTI. Namun, pihak pembeli menentukan kualifikasi dan standard khusus yang bisa diterima oleh TTI Center. Untuk beras medium misalnya, waktu jemur harus memenuhi tingkat kekeringan tertentu serta prosentase pecahan (broken) sesuai yang ditetapkan. (ALI ZAINI/HDL)

Editor : Hendro D. Laksono