HISTORY

Akira Kurosawa, Legenda Sineas Dunia

Akira Kurosawa. FOTO: Vanityfair.com

6 September 1998, 20 tahun tahun yang lalu, setelah enam bulan bergelut melawan stroke akibat kecelakaan yang dialaminya tahun 1995, Akira Kurosawa akhirnya pergi meninggal kita. Sepanjang 57 tahun karier sinematografi-nya, 30 film dengan delapan film yang dianggap banyak kalangan sebagai karya monumental, telah lahir dari kejeniusannya. Film-film itu, juga skenario-skenario yang ia tulis, adalah peninggalan berharga yang sampai hari ini selalu dipelajari dan menjadi sumber inspirasi bagi generasi sineas sesudahnya.

Dilahirkan pada tahun 1910 di kampus Yayasan Sekolah Asosiasi Pendidikan Jasmani Jepang di Ebara, Prefektur Tokyo (sekarang Universitas Ilmu Olahraga Jepang di Shinagawa, Tokyo), ia adalah anak bungsu dari 8 bersaudara (4 laki-laki, 4 perempuan). Ayahnya, mantan tentara kelahiran Daisen, Prefektur Akita, lulusan Akademi Perwira Toyama yang beralih profesi sebagai guru olahraga dan anggota Asosiasi Pendidikan Jasmani Jepang. Sekolah Dasar-nya ia selesaikan di Sekolah Dasar Kuroda di Edogawa, tempat dimana ia bertemu Keinosuke Uekusa sahabatnya.

Ada dua sosok penting yang selalu dikenang Kurosawa sebagai orang yang memiliki pengaruh besar dalam kehidupannya. Pertama Seiji Tachikawa, guru yang mendorongnya untuk melukis, dan Heigo Kurosawa (populer dengan nama Teimei Suda), kakak laki-lakinya yang nomor tiga, yang bekerja sebagai benshi (narator film bisu) di Bioskop Mushasino.

1927, setahun sebelum lulus dari Sekolah Menengah Keika, Kurosawa memutuskan menjadi pelukis dan masuk Sekolah Seni Lukis Barat Doshusha. Beberapa tahun setelah lulus sekolah menengah, ditemani Uekusa, ia bergabung dengan Organisasi Artis Proletariat Jepang; Uekusa di divisi sastra, dan ia di seni rupa. Keduanya bergabung bukan lantaran tertarik pada Marxisme, melainkan ingin belajar tentang gerakan baru dalam seni dan sastra, terutama sastra Rusia abad ke-19. Kurosawa banyak membaca karya Leo Tolstoy, Ivan Turgenev, dan Fyodor Dostoyevsky. Pelukis proletarian Toki Okamoto (ayah dari Sanpei Shirato) adalah guru yang mengajarinya melukis, dan ia cukup berbakat. Karya-karyanya pernah dipamerkan dalam Pameran Nika yang diadakan organisasi seni Nika-kai. Akan tetapi ketika merasa tidak mampu hidup hanya dari melukis, ia beralih ke dunia film.

Tahun 1936, sebuah iklan lowongan kerja yang dipasang Studio P.C.L. (sekarang Toho) di surat kabar, menarik hatinya. Ketika itu umurnya 26 tahun dan termasuk salah satu dari 500-an pelamar. Ia lulus seleksi. Atas rekomendasi Senkichi Taniguchi yang melihat bakat besar dalam dirinya, pengelola P.C.L., Kajiro Yamamoto mempekerjakan Kurosawa sebagai asisten sutradara (antara lain untuk film semidokumenter Horses, 1941). Yamamoto adalah satu-satunya guru film bagi Kurosawa.

Salah satu tugas asisten sutradara adalah menulis skenario, dan ia banyak menulis skenario. Salah satunya A German at the Daruma Temple (tak pernah difilmkan). Sutradara terkenal Jepang seangkatannya adalah Ishirou Honda, yang waktu itu juga bekerja sebagai asisten sutradara.

Mengapa Akira Kurosawa menjadi sosok raksasa film paling penting yang dikenal dunia dan menjadi guru bagi banyak sutradara generasi berikutnya seperti Roman Polanski, Nicholas Roeg dan Quentin Tarantino?

Film-film Kurosawa adalah film-film yang mampu menghadirkan gambar-gambar indah dan ikonik dengan cerita tersendiri di setiap gambarnya. Dan yang menarik, ia menolak pakem linier dalam penceritaan. Bagi Kurosawa, struktur adalah elemen film yang tak harus dipatuhi. Ia bisa membuat narasi dengan susunan akhir, awal dan tengah, atau, tengah, awal dan akhir, tanpa membuat para penontonnya bingung.

Bagi generasi zaman ini, yang tak banyak mengenal sosok Kurosawa, mungkin bisa menonton Roshomon. Film yang diangkat dari cerita pendek karya Ryūnosuke Akutagawa ini, adalah film yang menjadikan sosok Kurosawa sebagai sutradara yang disegani dalam peta perfilman dunia. Film ini mendapatkan penghargaan di Venice Film Festival. Rashomon menjadi satu tonggak penting bagaimana sejarah, dan persepsi kebenaran, kembali dipertanyakan melalui film. [Fahmi Faqih]