Tingkatkan Suplai Air Petani Bantul

Daerah Irigasi (DI) Leuwigoong di Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat. FOTO: KEMENTERIAN PUPR

JAKARTA-SUREPLUS: Guna mewujudkan ketahanan pangan nasional, pada 2015 lalu pemerintah memulai pembangunan dan merehabilitasi jaringan irigasi. Program ini dimasukkan dalam proyek strategis nasional (PSN). Tak hanya itu, pemerintah melalui Kementrian PUPR juga memberikan perhatian pada jaringan irigasi lainnya, salah satunya bendung Kamijoro di Bantul, Yogyakarta.

Melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak Ditjen Sumber Daya Air, saat ini tengah dilakukan rehabilitasi dan rekonstruksi Bendung ini.

Pembangunan bendung yang menyerap anggaran sebesar Rp 283 miliar ini sudah dimulai sejak tahun 2016 dan ditargetkan selesai pada tahun 2019. Saat ini progres konstruksi sudah mencapai 57,54 persen. Bendung yang berada di aliran Kali Progo diharapkan dapat meningkatkan hasil pertanian di wilayah Bantul yang mengairi sawah seluas 2.370 hektar.

Selain sebagai sumber air irigasi, bendung ini juga berfungsi untuk memasok kebutuhan air baku sebesar 0,5 m3/detik dengan kapasitas debit pengambilan sebesar 2,5 m3/detik mendukung keberadaan Sistem Penyediaan Air Minum Regional Kartamantul (Yogyakarta, Sleman, dan Bantul) bagi 150 ribu jiwa yang tinggal di Yogyakarta dan sekitarnya.

Satu PSN Selesai

Sementara itu, Saat ini, ada satu proyek strategis nasional (PSN) yang sudah selesai dikerjakan, dan ada 6 PSN sedang dalam tahap penyelesaian. Sesuai waktu pengerjaan, sejumlah proyek itu akan selesai pada 2018 dan 2019.

Satu dari tujuh PSN irigasi yang selesai adalah pembangunan jaringan irigasi pada Daerah Irigasi (DI) Umpu Sistem di Provinsi Lampung telah diselesaikan Kementerian PUPR. Jaringan irigasi ini dibangun sejak tahun 2013 dengan luas areal pelayanan 7.500 hektar dan saluran suplesi sepanjang 6 km.

Enam PSN irigasi dalam tahap penyelesaian terdiri dari pembangunan jaringan irigasi DI Jamboe Aye Kanan di Kabupaten Aceh Utara dan Timur Provinsi Aceh, DI Lematang di Kota Pagaralam Provinsi Sumatera Selatan, DI Leuwigoong di Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat, DI Lhok Guci di Kabupaten Aceh Barat Provinsi Aceh, Rehabilitasi jaringan irigasi DI Gumbasa di Kabupaten Sigi dan Kota Palu Provinsi Sulawesi Tengah dan pembangunan bendung dan jaringan irigasi DI Baliase di Kabupaten Luwu Timur Provinsi Sulawesi Selatan

“Pembangunan bendungan akan diikuti oleh pembangunan jaringan irigasinya atau disebut irigasi premium. Dengan demikian, bendungan yang dibangun dengan biaya besar dapat memberikan manfaat yang nyata dimana air akan mengalir sampai ke sawah-sawah milik petani,” jelas Menteri PUPR Basuki Hadimuljono beberapa waktu lalu.

Tiga dari enam PSN Daerah Irigasi tersebut ditargetkan selesai pada tahun 2018 yakni DI Jambo Aye Kanan, DI Aceh dan DI Leuwigoong. Pembangunan jaringan irigasi DI Jambo Aye Kanan yang akan mengairi area seluas 3.028 hektar dengan progresnya sudah sekitar 55,5 persen dengan biaya pembangunan sebesar Rp 225,143 miliar.

Pembangunan jaringan irigasi DI Lematang akan mengairi areal pertanian seluas 3.000 hektar dengan progres sudah 68,81 persen yang dikembangkan dengan biaya sebesar Rp 273,167 miliar. Pembangunan jaringan irigasi DI Leuwigoong akan mengairi areal seluas 5.313 hektar dimana progressnya sudah 98,05 persen dengan anggaran Rp 143,315 miliar. Sementara 3 PSN lainnya yakni DI Lhok Guci, DI Gumbasa, ditargetkan selesai 2019.

Pembangunan jaringan irigasi DI Lhok Guci akan mengairi area seluas 18.542 hektar dengan progresnya 51,61 persen dan biaya pembangunan Rp 556 miliar.

Rehabilitasi jaringan irigasi DI Gumbasa akan mengairi area seluas 8.180,65 hektar dengan progres 51,10 persen yang dibangun dengan biaya Rp 153,23 miliar. Terakhir pembangunan bendung dan jaringan irigasi DI Baliase yang merupakan terbesar dari keenam PSN tersebut karena akan mengairi areal seluas 21.825 hektar dimana progresnya sudah 38,28 persen dengan anggaran Rp 1,37 triliun. (PRS/ZAL)

Editor: Fahrizal Arnas