RAPBN 2019 Fokus pada Efisiensi dan Kualitas Belanja Prioritas

Menkeu Sri Mulyani menekankan, fokus RAPBN 2019 ada pada efisiensi dan kualitas belanja prioritas, mobilisasi pendapatan secara realistis serta kesehatan fiskal. FOTO: KEMENKEU.GO.ID

JAKARTA-SUREPLUS: Fokus RAPBN 2019 adalah efisiensi dan kualitas belanja prioritas, mobilisasi pendapatan secara realistis serta kesehatan fiskal yang produktif, efisien, memiliki daya tahan dan berkelanjutan.

Hal tersebut disampaikan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati dalam Rapat Kerja Badan Anggaran (Banggar) DPR dengan Menkeu, Menteri PPN/Kepala Bappenas, Menteri Hukum dan HAM serta Gubernur Bank Indonesia. Raker membahas Rancangan Undang-Undang (RUU) APBN 2019 di Ruang Sidang Banggar DPR, Selasa (04/09/2018).

Dikutip dari berita di kemenkeu.go.id, Rabu (05/09/2018), menurut Menkeu Sri Mulyani, sejumlah risiko dan tantangan bagi perekonomian global ke depan adalah tekanan pasar keuangan, akibat normalisasi moneter Amerika Serikat (AS), moderasi Tiongkok serta perang dagang AS-Tiongkok.

“Kami berharap RAPBN yang kita usulkan kepada Dewan bisa dibahas dengan framework bahwa kondisi global sangat dinamis dan oleh karena itu kita perlu untuk membentuk APBN yang fleksibel namun juga resilient,” kata Menkeu.

Indikator ekonomi makro yang menjadi basis perhitungan RAPBN 2019 adalah pertumbuhan ekonomi 5,3 persen, tingkat inflasi 5,3 persen, nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS Rp 14.400, Inflasi tetap stabil di 3,5 dan itu tiga tahun terakhir tetap terjaga.

Sementara itu, suku bunga SPN 3 bulan (rata-rata) 5,3 persen, harga minyak mentah (ICP) (rata-rata) 70 dolar AS per barel, lifting minyak bumi (rata-rata) 750 ribu barel per hari dan lifting gas bumi atau setara minyak (rata-rata) 1.250 ribu barel per hari.

Menkeu juga menyampaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2019 diperkirakan sebesar 5,3 persen. Target tersebut diharapkan memberikan sinyal positif bagi para pelaku usaha di tengah gejolak perekonomian yang tidak menentu.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2019 diperkirakan sebesar 5,3 persen. Asumsi tersebut cukup realistis dan optimis. Pemerintah memandang perlu untuk memberikan sinyal optimisme kepada pelaku usaha di saat perekonomian dunia menunjukkan gejolak yang lebih besar,” tambahnya.

Penetapan asumsi pertumbuhan ekonomi tahun 2019 tersebut didasarkan pada perhitungan konsumsi rumah tangga, stabilitas harga bahan pokok, konsumsi Pemerintah dan kemudahan investasi serta peningkatan ekspor.

Selain itu, konsumsi pemerintah diproyeksikan tumbuh 5,4 persen dengan anggaran belaja yang semakin efisien dan produktif serta mendukung program prioritas pembangunan. Diharapkan pula, investasi dan ekspor tahun 2019 akan menjadi faktor pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. (PRS/AZT)

Editor: Aziz Tri P