Gali Sejarah Gresik, Pemkab Akan Kembangkan Wisata Heritage

Wisatawan sedang berkunjung di salah satu bangunan heritage bergaya Tionghoa di Kampung Kemasan, Gresik. FOTO : SUREPLUS/ALI ZAINI

GRESIK-SUREPLUS : Kabupaten Gresik yang terkenal dengan ikon bangunan kunonya mulai memikirkan pengembangan potensi wisata heritage. Salah satunya dengan pengembangan wisata di Kampung Kemasan yang terletak di Kelurahan Pekelingan, Kecamatan Gresik.

Bangunan-banguna kuno di Kampung Kemasan, dan sejumlah gedung peninggalan abad 18 lainnya bakal dihidupkan kembali untuk menarik wisatawan.

“Kami tak ingin kehilangan sejarah identitas Gresik. Karena itu, budaya, kesenian dan tradisi masyarakat Gresik yang kaya ini wajib kita lestarikan termasuk bangunan-bangunan kuno yang bersejarah,” kata Bupati Gresik Sambari Halim Radianto, Rabu (5/09/2018).

Sebelum akan mengembangkan wisata heritage, Bupati Gresik berharap ahli sejarah dan pakar melakukan banyak penelitian mempelajari peninggalan situs artefak guna kepentingan keilmuan.

“Wisata heritage perlu dilestarikan karena bisa menjadi identitas daerah sekaligus dimanfaatkan untuk menggaet wisatawan,” ujar Sambari.

Sementara, Budayawan Gresik dari Mataseger, Kris Adji menyatakan sejak abad ke 18 Gresik sudah dikenal sebagai bandar pelabuhan yang terkenal. Beberapa pendatang dari Arab, China, dan Eropa, berinteraksi dengan masyarakat Gresik melalui perdagangan. Sehingga, peninggalan-peninggalan bangunan bergaya arsitektur Eropa, Arab dan Tionghoa masih berdiri kokoh sampai sekarang.

“Adanya bangunan heritage di abad ke 18 sebagai bukti bahwa Gresik pernah disinggahi beberapa pedagang dari Eropa, Arab maupun Tionghoa,” ungkapnya.

Kampung Kemasan sendiri adalah saksi bisu perkembangan kehidupan sosial budaya, ekonomi dan perdagangan masyarakat pada abad 18, tepatnya pada tahun 1896 hingga 1916.

Dalam perkembangannya, Kampung Kemasan menjadi tempat berkomunikasi dan berinteraksi kelompok-kelompok pedagang pribumi dengan masyarakat Jawa maupun dari luar Indonesia. Sehingga, disana masih banyak rumah maupun gedung yang bermotif Tionghoa, Arab maupun Eropa. (ALI ZAINI/HDL)

Editor: Hendro D. Laksono