Usaha Batu Bata Putih Sekapuk yang Masih Tetap Bertahan

Kendati diserbu produksi batu bata ringan, namun usaha batu bata putih warga Desa Sekapuk, Kecamatan Ujungpangkah, Gresik masih tetap bertahan. FOTO: SUREPLUS/ALI ZAINI

GRESIK-SUREPLUS: Sudah puluhan tahun warga Desa Sekapuk, Kecamatan Ujungpangkah, Gresik menggantungkan hidupnya dari usaha batu bata putih. Kendati saat ini ada serbuan batu bata ringan, namun usaha turun-temurun itu masih menjadi mata pencaharian warga.

Tidak tanggung-tanggung, permintaan batu bata putih akhir-akhir ini meningkat terus. Kecuali, pada musim hujan yang mengalami menurun. Pada saat musim panas, warga Desa Sekapuk yang melakukan penambangan gunung kapur mampu menghasilkan 4.000 batu bata putih per hari. Sedangkan saat musim hujan, produksi yang dihasilkan cuma 2.000 batu bata putih.

Menurut Kepala Desa (Kades) Sekapuk, Abdul Halim, keberadaan gunung kapur yang mengelilingi desanya membuat warganya banyak bergantung dari usaha penambangan kapur, selain bekerja di sektor-sektor usaha lainnya.

“Adanya usaha batu bata putih di desa kami ini membuat penghasilan warga meningkat. Malahan usaha tersebut dimasukkan kedalam Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) supaya perekonomian warga meningkat,” kata Kades Sekapuk, Abdul Halim, Selasa (04/09/2018).

Ada 25 titik tambang yang dikelola oleh BUMDes setempat. Dari jumlah titik tersebut, keuntungan yang diambil sebesar Rp 75 per batu bata, yang nantinya untuk menghidupi BUMDes.

“Saat ini yang baru digarap ada empat titik petak, kalau dikalikan per batu bata hasilnya bisa mencapai ribuan batu bata. Sehingga, BUMDes kami bisa menopang perekonomian warga,” ungkap Abdul Halim.

Saat ditanya maraknya batu bata ringan yang dijual di toko bangunan. Abdul Halim menuturkan, hal itu tidak membuat warganya berkecil hati. Sebaliknya, warga semakin semangat menambang guna menambah penghasilan. Tidak hanya itu, untuk menarik pembeli yang berminat bisa datang sendiri ke lokasi. Sebab, ada diskon khusus, pembeli hanya dipatok Rp 450 per batu bata.

“Ke depan kami ada keinginan usaha penambangan batu kapur ini dijadikan satu menjadi BUMDes. Sebab, meski usaha penambangan kapur itu sudah berlangsung namun masih ada yang milik perorangan,” ungkapnya.

Kepala Unit BUMDes Sekapuk, Purwanto menyatakan, saat ini sistem penambangan batu bata putih sudah berlangsung seperti sekarang. Setiap penambang mampu menghasilkan 3000 race (garis yang akan dipotong-red) asal batanya tidak retak.

“Dulu penambang hanya mampu menghasilkan 40 race karena menggunakan alat tradisional dengan cara ditata menggunakan linggis. Sekarang menggunakan alat potong gergaji mesin (sirkel umpak) bisa lebih banyak lagi,” pungkasnya. (ALI ZAINI/AZT)

Editor: Aziz Tri P