Pengorbit Lovebird Konslet, Profesi Basah Dunia Kicau Mania

Arga Aldoko, warga Jl Kalongan, Surabaya, salah satu pengorbit lovebird konslet. Burung orbitannya sudah dikoleksi pembeli asal Jakarta, Yogyakarta, hingga Pontianak dan Makassar. FOTO : SUREPLUS/DONY MAULANA

SURABAYA-SUREPLUS: Bicara tentang dunia burung memang tak ada habisnya. Seperti halnya pembicaraan tentang lovebird yang saat ini jadi burung yang paling digemari masyarakat, mulai dari kalangan bawah sampai orang nomor satu di Indonesia.

Di pasar, lovebird dijual dengan banyak ragam kualitas. Di antaranya burung kualitas lomba. Dibanding lovebird lain, ini jelas memiliki nilai yang lebih istimewa. Bisa dimaklumi, untuk mencapai predikat lovebird kualitas lomba, prosesnya cukup panjang.

Seperti diakui Arga Aldoko (34), pengorbit atau pencetak lovebird konslet yang namanya cukup dikenal di kalangan lovebird mania, baik di Surabaya atau kota lain di Jawa Timur.

“Saya sengaja mengambil lovebird bahan di usia dua sampai empat mingguan. Walaupun harus meloloh (menyuap burung, red). Karena dengan begitu kita tahu karakter burung tersebut,” ucap Aldo, panggilan akrabnya, saat dijumpai Sureplus.id, Selasa (4/9/2018).

Dalam mencetak lovebird konslet, warga Jl Kalongan, Surabaya ini biasa mencari bahan dari ombyokan yang ada di pasar burung. Setelah memilah burung yang tepat, bapak satu anak ini mulai berproses membuat burung konslet.

Dijelaskan, proses yang dibutuhkan bisa mencapai 45 sampai 60 hari. “Yang tadinya merupakan burung sayur atau ombyokan berharga Rp 250 ribu hingga Rp 350 ribu, nanti jadi lovebird warna josan yang harganya lebih tinggi,” jelasnya.

Pria yang biasa dipilih jadi juri di salah satu gantangan besar di Surabaya ini menyebut, jika prosentase dalam menjadikan burung konslet ini memiliki perbandingan 10:3. Dalam artian, dari 10 burung yang dicetak, tiga di antaranya bisa jadi lovebird berkualitas.

“Harga burung bahan siapan lapangan dibandrol mulai Rp 1,5 juta hingga Rp 5 juta. Sesuai dengan kualitas dan prestasi burung,” katanya. Sementara, untuk biaya perawatan dalam sebulan, Aldo biasanya harus merogoh kocek hingga Rp 2 juta.

Ditanya mengenai pangsa pasar, Aldo mengungkapkan, kalau burung darinya sudah banyak di order oleh para pemain mulai dari kalangan bawah hingga menengah atas. Order datang dari pembeli asal Surabaya, Jakarta, Yogyakarta, Solo, Semarang, Sidoarjo, Gresik, Madura, hingga kota lain di luar pulau. Seperti Medan, Pontianak, bahkan Makassar.

“Yang membuat mahal burung-burung saya ini adalah biaya perawatannya hingga menjadi burung yang siap kontes lapangan baik di kelas latber mapun latpres serta event,” cetusnya.

Hingga saat ini, total burung yang sudah diorbitkan dan berprestasi berjumlah 72 lovebird, dan semua itu sudah di adopsi oleh para pemain-pemain besar skala event, baik lokal, regional, ataupun nasional. Bahkan, di tahun 2007, ia sudah mampu menjual burung hasil orbitannya di atas Rp 4 juta.

Sementara saat ini, burung siapan atau bahan kontes lomba berjumlah kisaran 40-50 ekor. Dari jumlah tersebut, sekitar 15 lovebird sudah siap tampil di arena lomba.

Untuk strategi perawatan, Aldo biasanya menggunakan sistem koloni (satu kandang, dua burung, red), atau bahasa akrabnya adalah untul. Di luar itu ia juga berinovasi dengan memproduksi pakan lovebird khusus lomba dan harian.

“Banyak pelanggan saya bertanya, pakan dan vitamin apa yang saya gunakan. Terus terang saja saya menjawab, kalau saya sendiri yang buat. Lalu mereka minta tester ya saya kasih. Alhamdulillah pada cocok. Lalu mereka menyarankan saya memproduksi dalam skala besar untuk dijual lagi, dan sampai sekarang banyak yang order pakan dan vitamin,” terang Aldo.

Selain pakan lovebird untuk lomba dan harian, ia juga memproduksi serum dan vitamin multi fungsi guna menjaga metabolisme lovebird tetap prima. Ia bahkan mampu membuat gacor para lovebird hasil orbitannya ini. Untuk produk serum booster 30 mililiter dijual seharga Rp 300 ribu. Sedangkan vit power dijual Rp 35 ribu, dan pakan lovebird dijual Rp 65 ribu per 250 gram. (DONY MAULANA/HDL)

Editor : Hendro D. Laksono