Mengais Rejeki dari Bunga Kematian

Napsiah, pedagang bunga kenanga di Desa Dukuhkembar, Kecamatan Dukun, Gresik. FOTO : SUREPLUS/ALI ZAINI

GRESIK-SUREPLUS : Seperti pepatah tak ada rotan akar pun jadi. Itulah gambaran yang pas buat warga Desa Dukuhkembar, Kecamatan Dukun, Gresik. Maklum, hampir 60 persen warganya menggantungkan hidup dari bunga kematian atau kenanga (bunga tabur untuk ziarah, red), di luar profesi mereka sebagai petani tadah hujan.

Seperti diakui Napsiah (70), salah satu petani yang sudah puluhan tahun berprofesi sebagai penjual bunga kenanga. Di usia lanjut seperti sekarang, warga Desa Dukuhkembar itu masih aktif menjual bunga kenanga untuk mereka yang hendak berziarah.

Dengan wajah bercucuran keringat, perempuan yang hampir separuh hidupnya bergelut dengan bunga kenanga ini sehari-hari mampu menghasilkan 6 karung kecil bunga kenanga yang sudah dipilah-pilah.

“Sejak remaja saya menjadi petani bunga kenanga. Itupun turun-temurun dari orang tua,” ujarnya pada Sureplus.id, Senin (3/09/2018).

Napsiah menceritakan, keuntungan bertani bunga kenanga tergantung musimnya. Jika menjelang Bulan Ramadan keuntungannya bisa dua kali lipat. Kalau hari biasa keuntungannya tidak seberapa.

“Kalau hari tertentu seperti menjelang Bulan Ramadan bisa dapat uang banyak. Tapi, kalau hari biasa seperti sekarang hanya mendapatkan ratusan ribu,” tuturnya sambil tersenyum.

Desa Dukuhkembar, memang sudah lama menjadi pusat produksi bunga kenanga. Sudah puluhan tahun desa tersebut banyak ditumbuhi tanaman bunga kenanga. Banyaknya tanaman tersebut membuat warga Desa Dukuhkembar memanfaatkannya untuk tambahan mencari rejeki.

Sebelum dijual, bunga kenanga yang sudah dipilah biasanya dicampur dengan bunga mawar, pihong (kantil), serta melati.

“Hampir separuh warga kami menjadi petani bunga kenanga karena separuh lahan selain ditanami padi juga ada tanaman tersebut,” ujar Kepala Desa (Kades) Dukuhkembar, Asikin.

Asikin menambahkan, keberadaan petani bunga kenanga sudah sejak lama. Bahkan, dirinya pernah mencicipi sebagai petani bunga untuk ziarah kubur itu. Sebelum akhirnya, memutuskan menjadi kepala desa.

“Petani bunga kenanga di desa kami biasanya turun-temurun. Sebab, hasilnya bisa untuk tambahan asap Dapur,” ungkapnya.

Masih menurut Asikin, penjualan bunga kenanga biasanya mengalami peningkatan di saat-saat tertentu. Di moment tertentu, peningkatannya dua kali lipat.

“Di moment awal Bulan Ramadan, dan saat Hari Raya Idul Fitri banyak warga ziarah kubur. Pastinya banyak warga yang membeli bunga kenanga. Sehingga, warga kami juga bertambah rejekinya karena banyak permintaan,” pungkasnya. (ALI ZAINI/HDL)

Editor : Hendro D. Laksono