HISTORY

Serba Serbi Jeans

Blue of Genoa. FOTO: vogue.it

1848 – 1885, adalah sebuah masa yang dinamakan gold rush setelah James W Marshall menemukan emas di Sutter’s Mill, Coloma, California. Berita penemuan emas yang telah menyebar ke mana-mana itu, mengundang ratusan ribu orang dari berbagai penjuru baik dari dalam maupun luar Amerika untuk datang mengadu peruntungan. Oleh Löb Strauß, nama yang hari ini kita kenal dengan Levi Strauss, peristiwa itu dibaca sebagai peluang bisnis untuk penjualan kain tenun, gunting, benang, kancing, selimut, dan pakaian dari bahan kanvas. Bersama David Stren, iparnya, Strauß lantas memasok barang-barang kebutuhan itu ke toko-toko di sepanjang pesisir barat.

1871, seorang istri pekerja tambang yang mengeluh karena celana Sang Suami cepat rusak, pergi menemui penjahit Jacob Davis agar dibuatkan celana yang lebih kuat. Davis menyanggupi dan membuatkan celana dari kain putih tebal dengan tambahan rivet (paku keling), sebagai penguat. Tak disangka, celana buatan Davis diminati banyak penambang. Davis menuai sukses. Celana yang dibandrol dengan harga tiga dolar itu, terjual ribuan potong hanya dalam tempo delapan bulan. Setelah berjalan kurang lebih setahun, Davis berniat mematenkan temuan rivet-nya.

Pertengahan tahun 1872, Davis berkirim surat kepada Löb Strauß yang selama ini menyuplai kebutuhan kain bahan jahitannya, untuk bekerja sama. Strauß menerima tawaran Davis. Bulan Juli tahun itu juga permohonan mendapatkan hak paten diajukan. Permohonan diterima. Pada 20 Mei 1873, US Patent & Trademark Office menerbitkan dokumen bernomor 139.121, atas temuan mereka dalam penggunaan rivet untuk mengikat saku pada celana kerja pria.

Tapi apakah benar celana buatan Davis itu adalah blue jeans pertama sebagaimana anggapan banyak orang? Ternyata tidak. Dalam e-book History of Levi’s 501 Jeans yang diterbitkan Levi Strauss & Co. disebutkan, mereka hanya menambahkan rivet pada celana jeans, sementara blue jeans sendiri sudah ada sejak ratusan tahun lalu.

Salah Kaprah dan Awal Mula Warna Biru

Denim dan jeans bukanlah dua kata dengan pengertian yang sama sebagaimana dipahami secara umum. Denim adalah bahan (kain), sedang jeans adalah produknya—baik berupa jaket maupun celana. Denim diambil dari bahasa Perancis serge de Nîmes yang artinya ‘kain dari Nîmes’ [disingkat ‘de Nîmes’], karena setelah Genoa, Italia, Perancis lah yang kemudian memproduksi kain untuk bahan membuat jeans di Eropa. Adapun istilah jeans, merupakan pengembangan dari kata gênes untuk menyebut kota Genoa, Italia [dibaca ‘jene’]. Sedangkan imbuhan ‘blue’ yang biasa disematkan di depan kata jeans berasal dari Jean-Gabriel Eynard dan saudaranya Jacques ketika mamasok logistik tentara Massena pada tahun 1800. Kata ini berasal dari kata ‘bleu de Genes’ yang merujuk pada pakaian biru yang kenakan para pelaut Genoa.

Secara tradisonal, denim memiliki warna biru yang dibuat dari ekstrak tumbuhan indigofera. Pewarnaan meliputi beberapa tahapan rumit seperti proses fermentasi tanaman, pencelupan kain dalam larutan indigo, dan oksidasi yang menghasilkan warna biru.

Kain yang mulanya bernama indigo dye itu, ternyata lebih tua dari yang selama ini diasumsikan. Penelitian terakhir melaporkan temuan kain serupa yang berusia 6.200 tahun di situs Huaca Prieta, Peru. Padahal, selama ini jeans biru yang ditemukan di Mesir, diyakini sebagai jeans biru tertua. Itu artinya, nenek moyang celana jeans biru sesungguhnya hampir 2.000 tahun lebih tua dari yang dicatat sejarah. Saat pertama kali ditemukan, sampel kain itu begitu kotor dan berwana abu-abu. Namun setelah dibersihkan, tampak garis-garis biru yang samar.

Penulis utama studi sekaligus antropolog di George Washington University, Jeffrey Splitstoser, mengatakan bahwa penilaian bukan hanya didasarkan pada visual. Untuk mengonfirmasi bahwa kain itu mengandung senyawa yang terkait dengan pewarna biru, ada prosedur analisis kimianya.

“Warna keabu-abuan pada mayoritas sampel yang kami temukan, disebabkan pemudaran dari waktu ke waktu,” tutur Splitstoser sebagaimana dilansir Independent pada 19 September 2016. [Fahmi Faqih]