Mencicipi Pecel Mbah Mursinem, Idola Kuliner para Pejabat

Kondisi warung nasi pecel Mbah Mursinem, di Desa Sonorejo, Kabupaten Kediri. Tampak sangat sederhana, tapi cita rasa masakannya berhasil memikat warga biasa hingga para pejabat. FOTO: SUREPLUS/AYU CITRA SR

KEDIRI-SUREPLUS : Mendengar kuliner nasi pecel, mungkin bagi sebagian orang sangat biasa. Namun, tidak bagi pemilik usaha nasi pecel bernama Mursinem, warga Desa Sonorejo, Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri.

Melihat sepintas lalu, memang warung nasi milik perempuan berusia lanjut, yang akrab disapa Mbah Mursinem ini tampak sederhana. Tanpa ada papan nama warung dan hanya terlihat dinding berwarna putih serta berhiaskan jendela yang dicat warna biru.

Tapi, setelah berbincang santai dengan empunya warung, baru ada sebuah cerita istimewa dari kesederhanaan tempat usaha ini. Apalagi para konsumen kuliner pecel olahan tangan Mbah Mursinem ini bukanlah orang sembarangan.

“Pembeli di warung ini tak hanya warga biasa, tapi ada pejabat juga, misalnya Bupati Kediri, Haryanti Sutrisno, Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf, hingga Gubernur Jawa Timur, Pakde Karwo, juga mampir ke sini. Kalau mereka tidak sempat, biasanya ada yang diutus untuk beli,” kata anak Mbah Mursinem, Sumiati, di Desa Sonorejo, Kabupaten Kediri, Rabu (29/08/2018).

Diungkapkan oleh Sumiati, setiap hari warung tersebut buka sejak pagi hari sekitar pukul 04.30 WIB. Biasanya semua menu ini habis pada pukul 11.00 WIB. Sementara itu, terkait dengan keunggulan menu pecel tersebut, para konsumen gemar memesan aneka sayur yang direbus, atau dikenal sebagai kulupan.

Ragam sayuran ini, di antaranya daun ketela pohon atau daun singkong, daun pepaya, kemangi, luntas, kecambah dan beberapa biji lamtoro sebagai lalapan. Setelah itu, baru aneka kulupan ini ditambahkan sambal pecel, sambal tumpang khas Kediri, atau bisa dipadukan keduanya.

Untuk harga, ditambahkan Sumiati, orang tuanya tidak pernah mematok harga mahal. Konsumen hanya perlu mengeluarkan dana Rp 5.000 per porsi, dan besaran ini sudah termasuk nasi, sayur, rempeyek atau peyek serta sambal yang diinginkan.

“Biasanya dalam satu hari, warung kami ini bisa menghabiskan dua kilogram sambal pecel dan tiga panci besar sambal tumpang,” katanya. (AYU CITRA SR/AZT)

Editor: Aziz Tri P