Perjalanan Kota Dari Masa ke Masa di Museum Surabaya

Pengunjung melihat dokumen kependudukan Kota Surabaya berusia ratusan tahun di Museum Surabaya, Jl Tunjungan. Dokumen-dokumen itu sebagian masih menggunakan tulisan tangan. FOTO : SUREPLUS/AKBAR INSANI

SURABAYA-SUREPLUS : Sejak berubah fungsi tiga tahun lalu, Museum Surabaya, Jl Tunjungan, Surabaya, tumbuh menjadi salah satu kawasan wisata sekaligus pusat edukasi. Di tempat ini, pengunjung bisa melihat wajah Surabaya dari masa ke masa.

Usai peresmian museum, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat itu berpesan, museum baru ini diharap bisa berfungsi sebagai media edukasi bagi masyarakat Surabaya, khususnya bagi generasi muda yang ingin mengetahui sejarah kota.

“Ini menunjukkan, Surabaya kota yang besar, bahkan sebelum kemerdekaan,” kata Tri Risma di sela peresmian museum, 4 Mei 2015 lalu.

Museum yang terletak di Lantai Dasar Gedung SIOLA, sebuah gedung cagar budaya Surabaya ini memiliki banyak koleksi yang sebagian besar sudah berumur puluhan tahun. Seperti alat transportasi, peta kota Surabaya, foto-foto Wali Kota Surabaya dari masa ke masa, baju dinas, furnitur tua, penghargaan yang telah diterima Surabaya, meriam, sampai mobil pemadam kebakaran.

Museum ini juga memiliki koleksi alat-alat kedokteran dan dokumen kependudukan di masa lalu, yang sebagian kondisinya masih relatif utuh. Koleksi lain, berbagai jenis wayang, mainan anak, bahkan replika biola Wage Rudolf Supratman, pencipta ‘Indonesia Raya’.

“Dokumen-dokumen ini yang menarik perhatian saya,” aku Sony Setyawan, traveler dan fotografer asal Jakarta. Di tengah penyelesain project pemotretan kampung besar Surabaya, ia sengaja datang ke museum untuk memotret dokumen-dokumen ini.

Mengabadikan catatan kelahiran dan kematian yang ditulis tangan pada 1800-an, arsip warga Belanda yang dikubur di Makam Peneleh dan Ngagel, mesin ketik, dan masih banyak lagi. “Tadi sempat bicara dengan petugas, katanya ada 1000-an koleksi di sini,” kata Sony sambil tersenyum.

Koleksi ini merupakan benda-benda bersejarah di masa pemerintahan Wali Kota Surabaya pertama Mr. A Meyroos (1916-1921) sampai dengan Tri Risma.

Pada Sureplus.id, Sony menyampaikan pujiannya pada pemerintah kota yang serius mengelola museum ini. “Sangat bersih. Suasana nyaman. Tapi sayang, sepi banget,” ujarnya sambil memotret Cermin Wilhelmina, cermin yang dulunya dipajang di Gedung de Simpangche Societet atau Balai Pemuda. Dari catatan yang ada, cermin ini sudah ada di Surabaya sejak 1907. (HDL)

Editor : Hendro D. Laksono