Dampak Kemarau Panjang, Ribuan Hektar Sawah Terancam Gagal Panen

Data Ditjen Tanaman Pangan, area persawahan yang terkena kekeringan hingga pertengahan Agustus 2018 mencapai 127.101 hektar. Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur menjadi provinsi yang paling terdampak. FOTO : ILUSTRASI

JAKARTA-SUREPLUS : Mengutip data Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kemarau panjang yang terjadi di Indonesia akan terus memuncak hingga September 2018 mendatang. Sementara musim hujan diperkirakan tiba Desember 2018.

Mengantisipasi dampak kekeringan, Kementerian Pertanian langsung menyiapkan langkah strategis untuk menjaga produksi padi nasional. Selain mensosialisasikan penggunaan bibit padi yang tahan di lahan kering, Kementan juga menyiapkan pompanisasi di sejumlah daerah.

Semisal di Kabupaten Mesuji, Lampung, petani bersama pemerintah daerah setempat serentak melakukan penyiraman di sawah, Selasa (28/8/2018). Kebetulan di Mesuji masih ditemui banyak sumber air.

Hal yang sama juga terjadi di Kabupaten Karawang, tepatnya di Pasirtanjung, Kecamatan Lemahabang. Meski kekeringan, petani dan pemerintah setempat berhasil menghadang ancaman gagal panen lewat strategi pengairan sawah.

Sayang, di Desa Pasirjaya, Kecamatan Cilamaya Kulon, kondisinya justru berbeda. Di tempat ini diperkirakan 500 hektare sawah mengalami kekeringan. Sawah milik warga terancam gagal panen.

Hal yang sama juga terjadi di Sragen, Jawa Tengah. Akibat kemarau panjang, tak kurang dari 1.069 hektare tanaman padi saat ini dilanda kekeringan dan terancam gagal panen.

Data dari Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Jawa Tengah, sawah yang paling banyak terancam ada di Kecamatan Sidoharjo, yakni seluas 585 hektare. Di Kecamatan Sragen, sawah yang terancam memiliki luas 188 hektare dan Tanon 120 hektare.

“Kami turunkan tim khusus untuk berkoordinasi dengan pihak terkait, antara lain TNI, Kementerian PUPR, serta Pemerintah Daerah setempat dalam memetakan permasalahan, negosiasi penggelontoran air dari bendungan, serta terlibat langsung melaksanakan pengawalan gilir giring sesuai jadwal yang telah disepakati,” ungkap Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan Pending Dadih Permana, seperti ditulis di laman pertanian.go.id.

Ditambahkan, pemberian air irigasi difokuskan dan diprioritaskan terhadap wilayah-wilayah yang berpotensi akan mengalami gagal panen. Penerapan jadwal gilir giring atau membagi jadwal pengairan yang sudah disusun di tingkat daerah akan diawasi secara ketat.

Khusus bantuan pompa air, lanjutnya, tahun 2018 ini sudah tersebar pompa ukuran kecil sebanyak 3.897 unit, pompa ukuran sedang sebanyak 4.769 unit, dan pompa ukuran besar sebanyak 1.381 unit.

“Kami meminta daerah untuk dapat menggerakkan bantuan pompa air ke wilayah-wilayah yang masih memungkinkan untuk mengoptimalkan sumber daya air yang ada,” tegas Pending. (PRS/HDL)

Editor : Hendro D. Laksono