Semester I 2018, Investasi Industri Capai Rp 122 Triliun

Kontribusi PMA tertinggi sektor manufaktur, ada di industri logam, mesin dan elektronika yang mencapai 2,2 miliar dolar AS. Tampak aktivitas salah satu pabrik baja di Jawa Timur. FOTO: SUREPLUS/AKBAR INSANI

JAKARTA-SUREPLUS: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, pada Semester I tahun 2018, jumlah penanaman modal dari kelompok manufaktur mencapai Rp122 triliun, melalui 10.049 proyek. Menyumbang 33,6 persen dari total nilai investasi yang sebesar Rp 361,6 triliun. Ini berarti sektor industri memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan nilai investasi pada Semester I 2018.

“Kami aktif mendorong masuknya investasi di sektor industri, melalui pembangunan pabrik. Tentunya ini membawa multiplier effect bagi perekonomian nasional. Seperti peningkatan pada nilai tambah bahan baku dalam negeri, penyerapan tenaga kerja, dan penerimaan devisa,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto di Jakarta, Senin (27/08/2018).

Seperti dikutip dari Siaran Pers Kementerian Perindustrian di situs kemenperin.go.id, sepanjang Semester I 2018, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dari sektor industri ada di angka Rp 46,2 triliun. Sedangkan, Penanaman Modal Asing (PMA) dari sektor industri menembus hingga 5,6 miliar dolar AS atau senilai Rp 75,8 triliun.

Kontribusi PMDN tertinggi dari sektor manufaktur, di antaranya industri makanan sebesar 47,50 persen (senilai Rp 21,9 triliun), industri kimia dan farmasi 14,04 persen (Rp 6,4 triliun), serta industri logam, mesin dan elektronika 12,70 persen (Rp 5,8 triliun).

Sedangkan, kontribusi PMA tertinggi dari sektor manufaktur, antara lain dari industri logam, mesin, dan elektronika sebesar 39,69 persen (2,2 miliar dolar AS), diikuti industri kimia dan farmasi 18,84 persen (1,1 miliar dolar AS), serta industri makanan 10,41 persen (586 juta dolar AS).

Lebih lanjut dikatakan Menperin Airlangga, suntikan dana investor menjadi kekuatan bagi perekonomian nasional, terlebih lagi industri menjadi penggerak utama dari target pertumbuhan ekonomi nasional. “Investasi ini juga kami yakini dapat memperkuat struktur industri di Tanah Air dan bisa menjadi substitusi bahan baku impor,” katanya.

Maka, kata Menperin, pemerintah terus berupaya menciptakan iklim usaha yang kondusif sehingga memacu pertambahan penanaman modal di Indonesia, baik bentuk investasi baru maupun perluasan usaha. “Pemerintah saat ini telah mengeluarkan beberapa kebijakan untuk lebih mempermudah masuknya investasi baik dari dalam maupun luar negeri,” kata Airlangga.

Langkah strategis itu antara lain berupa optimalisasi pemanfaatan fasilitas fiskal, sepertitax holiday, tax allowance, dan pembebasan bea masuk impor barang modal atau bahan baku. “Bahkan, Kemenperin telah mengusulkan skemasuper deductible tax untuk industri yang melakukan kegiatan inovasi dan vokasi,” tuturnya.

Pemerintah juga memperbaiki tata cara perizinan, baik yang dilakukan di tingkat pusat maupun di daerah. “Saat ini, sudah disiapkan tata cara perizinan dengan menggunakan mekanisme Online Single Submission (OSS),” lanjut Menperin. Selain itu, Kemenperin mendukung akselerasi peningkatan kompetensi sumber daya manusia industri melalui program pelatihan dan pendidikan vokasi.

Airlangga menambahkan, upaya menarik minat investasi asing menjadi salah satu dari 10 langkah prioritas nasional memasuki era revolusi industri 4.0, sesuai peta jalan Making Indonesia 4.0. Hal ini dapat mendorong transfer teknologi kepada perusahaan lokal.

“Untuk meningkatkan investasi, Indonesia aktif melibatkan perusahaan manufaktur global, memilih 100 perusahaan manufaktur teratas dunia sebagai kandidat utama dan menawarkan insentif menarik, dan berdialog dengan pemerintah asing untuk kolaborasi tingkat nasional,” katanya. (PRS/AZT)

Editor: Aziz Tri P